Danantara Incar Saham BEI: Analisis Ekonom, Peluang dan Tantangan

Ekonom CORE: Keterlibatan Danantara Bisa Perkuat Kelembagaan BEI Pasca-Demutualisasi

Shoesmart.co.id – Rencana Danantara Indonesia menjadi salah satu pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah demutualisasi mendapatkan sorotan positif. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, berpendapat bahwa langkah ini dapat memperkuat kelembagaan pasar modal Indonesia.

Menurut Yusuf Rendy Manilet, seperti dikutip dari Antara pada Sabtu (31/1), demutualisasi itu sendiri bertujuan untuk menjadikan bursa lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Keterlibatan investor strategis seperti Danantara diharapkan dapat mendukung tujuan tersebut.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa jika Danantara berperan aktif dalam mendukung tata kelola yang baik, penguatan manajemen risiko, dan modernisasi infrastruktur, maka struktur pasar berpotensi menjadi lebih efisien dan sehat. Dengan kata lain, kehadiran Danantara dapat membawa angin segar bagi perkembangan pasar modal.

Dari sudut pandang transparansi, kepemilikan institusional seperti ini dinilai positif karena mendorong akuntabilitas yang lebih baik. Meski demikian, pasar juga sangat sensitif terhadap potensi konflik kepentingan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa keterlibatan Danantara tidak menimbulkan persepsi adanya pengaruh kebijakan yang berlebihan dalam operasional bursa. Transparansi harus tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga dipercaya oleh seluruh pelaku pasar.

Independensi merupakan isu krusial yang perlu diperhatikan. Idealnya, bursa efek harus berfungsi sebagai institusi pasar yang netral. Kehadiran Danantara diharapkan dapat menjaga stabilitas dan profesionalisme BEI, asalkan posisinya dirancang secara proporsional dengan tata kelola yang jelas. Sebaliknya, jika ruang intervensi tidak diatur dengan baik, ada risiko persepsi bahwa mekanisme pasar menjadi kurang market driven.

Dari sisi investasi, keterlibatan Danantara dapat diartikan sebagai sinyal komitmen untuk memperkuat ekosistem pasar modal. Hal ini berpotensi memberikan dampak positif, terutama jika diikuti dengan peningkatan likuiditas, pengembangan produk investasi yang inovatif, dan perlindungan investor yang lebih baik.

“Investor, khususnya investor asing, umumnya sangat memperhatikan kualitas institusi. Karena itu, konsistensi kebijakan dan tata kelola akan menjadi faktor penentu yang sangat penting,” tegas ekonom CORE tersebut.

Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani telah menyampaikan minat perusahaannya untuk menjadi salah satu pemegang saham BEI setelah proses demutualisasi diterapkan. Mengenai skema yang akan digunakan, apakah melalui penawaran umum perdana saham (IPO) atau mekanisme lain, Rosan menyatakan bahwa hal tersebut masih dalam tahap kajian untuk menentukan struktur terbaik dalam proses demutualisasi.

Sebagai informasi, demutualisasi merupakan proses perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan atau Self-Regulatory Organization (SRO) yang dimiliki oleh perusahaan sekuritas anggota bursa, menjadi entitas berbentuk perusahaan yang dapat dimiliki oleh publik atau pihak lain. Tujuan utama dari skema ini adalah untuk memisahkan kepentingan anggota bursa dan pengelola bursa, sehingga potensi benturan kepentingan dapat diminimalkan.

Pemerintah sendiri tengah mempercepat penyelesaian aturan demutualisasi BEI agar prosesnya dapat direalisasikan tahun ini. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta mengurangi potensi benturan kepentingan di pasar modal Indonesia.

Ringkasan

Rencana Danantara Indonesia menjadi pemegang saham BEI pasca-demutualisasi dinilai positif karena dapat memperkuat kelembagaan pasar modal. Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa keterlibatan Danantara dapat mendukung tata kelola yang baik, penguatan manajemen risiko, dan modernisasi infrastruktur, yang berpotensi membuat pasar lebih efisien dan sehat.

Namun, independensi dan transparansi menjadi isu krusial yang perlu diperhatikan. Penting untuk memastikan tidak ada konflik kepentingan dan intervensi berlebihan dari Danantara dalam operasional bursa. Keterlibatan Danantara juga diharapkan dapat menjadi sinyal positif bagi investor, terutama asing, asalkan disertai dengan peningkatan likuiditas, inovasi produk investasi, dan perlindungan investor yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *