Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sedang berupaya meningkatkan profilnya di mata investor global. Hal ini diwujudkan melalui proses pemeringkatan yang tengah dijalani oleh dua lembaga pemeringkat ternama, yaitu S&P Global dan Moody’s Ratings. Langkah ini menyusul keberhasilan Danantara meraih peringkat dari Fitch Ratings dan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sebelumnya.
Rosan Roeslani, Chief Executive Officer Danantara, menyampaikan bahwa proses pemeringkatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap profil risiko lembaga pengelola investasi milik negara tersebut. Ia menekankan pentingnya transparansi dan struktur yang terukur dalam pengelolaan risiko Danantara.
“Dengan adanya pemeringkatan ini, investor akan semakin yakin bahwa risiko di Danantara sangat terukur dan terstruktur. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif bagi citra Danantara,” ujar Rosan saat menyampaikan paparan Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jumat (13/2).
Sebelumnya, PT Danantara Investment Management (DIM), anak perusahaan Danantara, telah berhasil memperoleh peringkat BBB dengan outlook stabil dari Fitch Ratings. Peringkat ini setara dengan peringkat sovereign rating Indonesia, yang menunjukkan level investment grade. Fitch menyetarakan peringkat DIM dengan peringkat kredit pemerintah karena DIM dikategorikan sebagai entitas terkait pemerintah atau government related entity (GRE). Selain itu, DIM juga mendapatkan peringkat AAA (idn) dengan outlook stabil dari Pefindo.
Moody’s Soroti Danantara
Namun, di tengah upaya Danantara meraih kepercayaan investor, Moody’s justru memberikan sorotan. Pada awal Februari lalu, Moody’s menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Salah satu pemicunya adalah kekhawatiran terhadap pembentukan Danantara.
Moody’s menilai bahwa struktur tata kelola, skema pembiayaan, serta prioritas investasi Danantara masih belum jelas. Dalam pengumumannya, Moody’s juga menjelaskan bahwa perubahan outlook Indonesia menjadi negatif terjadi di tengah upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Menurut Moody’s, dalam setahun terakhir terjadi penurunan prediktabilitas dalam proses pengambilan kebijakan, yang disertai dengan komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor, yang tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan valuta asing.
Lebih lanjut, Moody’s menilai pembentukan Danantara memunculkan ketidakpastian terkait sumber pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti besarnya kewenangan Danantara dalam mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$ 900 miliar, atau sekitar 60% PDB nominal 2025.
Moody’s berpendapat bahwa koordinasi kebijakan yang belum solid berpotensi menekan kredibilitas kebijakan sekaligus meningkatkan risiko liabilitas bagi negara. Mereka juga menilai kewenangan Danantara dalam kebijakan dividen BUMN dapat membebani kesehatan keuangan perusahaan pelat merah. Oleh karena itu, perkembangan Danantara akan terus menjadi perhatian pasar dan investor dalam beberapa waktu ke depan.
Ringkasan
Danantara sedang menjalani proses pemeringkatan oleh S&P Global dan Moody’s Ratings setelah sebelumnya meraih peringkat dari Fitch Ratings dan Pefindo. CEO Danantara, Rosan Roeslani, berharap pemeringkatan ini akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap profil risiko lembaga, menekankan pentingnya transparansi dan pengelolaan risiko yang terukur.
Namun, Moody’s justru memberikan sorotan dengan menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif, salah satunya karena kekhawatiran terhadap pembentukan Danantara. Moody’s menyoroti ketidakjelasan struktur tata kelola, skema pembiayaan, dan prioritas investasi Danantara, serta kewenangannya dalam mengelola aset BUMN yang besar, yang berpotensi membebani keuangan BUMN dan meningkatkan risiko liabilitas negara.