KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) dari sejumlah emiten unggulan yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2025 mulai menarik perhatian pelaku pasar. Mayoritas dari emiten-emiten tersebut terpantau telah menyerap sebagian besar dana segar IPO, dengan prioritas utama untuk memperkuat modal kerja operasional mereka.
Dari data yang ada, beberapa emiten bahkan telah merealisasikan seluruh dana IPO mereka. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), misalnya, telah menyerap Rp 212,23 miliar, sementara PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mencatat realisasi bersih sebesar Rp 2,29 triliun. Realisasi tinggi juga ditunjukkan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang telah menggunakan Rp 4,25 triliun, setara dengan 93,57% dari total dana IPO sebesar Rp 4,54 triliun. Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) telah merealisasikan Rp 1,2 triliun, atau 51,27% dari dana IPO sebesar Rp 2,35 triliun.
Namun, tidak semua emiten bergerak sigap. Beberapa di antaranya masih menunjukkan tingkat penyerapan dana IPO yang belum optimal. Sebagai contoh, SUPA baru menggunakan Rp 1,29 triliun dari total dana IPO senilai Rp 2,73 triliun. Lebih lanjut, PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) bahkan tercatat belum merealisasikan penggunaan dana IPO-nya sama sekali, dengan jumlah dana menganggur mencapai Rp 595,67 miliar.
Percepatan realisasi dana IPO ini, menurut Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, membawa sentimen positif bagi pasar dan meningkatkan kredibilitas manajemen. “Langkah ini membuktikan bahwa emiten tidak sekadar menjanjikan pertumbuhan saat IPO, melainkan juga memiliki kesiapan eksekusi serta rencana bisnis yang matang dan terarah,” jelas Alrich kepada Kontan, Selasa (20/1/2026). Ia menambahkan, bagi investor, penyerapan dana yang cepat akan meredakan kekhawatiran akan dana yang menganggur (idle cash), sekaligus memperkuat keyakinan bahwa modal tersebut dialokasikan untuk ekspansi, peningkatan kapasitas, atau penguatan lini bisnis inti.
Senada dengan pandangan tersebut, Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), mengamini bahwa realisasi dana IPO yang tinggi menjadi sinyal positif bagi emiten karena mencerminkan agresivitas manajemen dalam mengeksekusi rencana ekspansi, sekaligus meminimalkan risiko dana menganggur. “Investor dapat mulai menantikan munculnya arus pendapatan baru yang kelak akan terefleksi dalam laporan keuangan perusahaan,” tutur Wafi kepada Kontan pada kesempatan yang sama. Meskipun demikian, dampaknya terhadap pergerakan harga saham tidak selalu instan. Pasar akan cenderung menantikan bukti konkret dalam laporan keuangan, seperti pertumbuhan pendapatan, perbaikan margin, dan arus kas yang sehat. Dengan kata lain, sentimen positif ini bersifat bertahap dan akan kian menguat seiring dengan dampak realisasi dana IPO yang terwujud dalam kinerja laba yang berkelanjutan.
Namun, perspektif yang sedikit berbeda disampaikan oleh Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT). Ia menilai bahwa realisasi penggunaan dana IPO pada dasarnya merupakan bagian dari kewajiban tata kelola perusahaan, sehingga dampaknya terhadap sentimen pasar mungkin relatif terbatas. Hari menjelaskan bahwa investor institusi tidak hanya berfokus pada kecepatan penyerapan dana, melainkan lebih jauh mempertimbangkan apakah penggunaan dana tersebut benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan kinerja keuangan yang berkelanjutan, baik dari sisi pendapatan, margin, maupun perluasan bisnis. “Pemicu utama pergerakan harga saham tetap berada pada realisasi kinerja pasca-IPO, bukan sekadar progres penyerapan dana semata,” tegas Hari kepada Kontan.
Dampak Sentimen Jangka Pendek dan Panjang
Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan bahwa emiten dengan tingkat penyerapan dana IPO yang rendah seringkali menghadapi tekanan sentimen negatif dalam jangka pendek. Kondisi ini kerap diinterpretasikan oleh pelaku pasar sebagai sinyal tertundanya proyek, ketidakjelasan arah ekspansi, atau bahkan sikap manajemen yang terlalu berhati-hati di tengah ekspektasi pertumbuhan setelah IPO. Persepsi tersebut berpotensi menekan pergerakan saham, membuatnya terbatas atau bahkan terkoreksi setelah euforia awal mereda.
Muhammad Wafi turut mengingatkan bahwa penyerapan dana IPO yang rendah dapat memicu sentimen negatif, lantaran dapat mengindikasikan ketidakpastian dalam perencanaan manajemen. “Hal ini patut dicermati agar dana IPO yang telah terkumpul tidak hanya mengendap di instrumen deposito tanpa dimanfaatkan secara produktif,” tegas Wafi. Di sisi lain, Hari Rachmansyah memiliki pandangan bernuansa. Ia berpendapat bahwa rendahnya penyerapan dana tidak selalu berarti sentimen negatif, terutama jika manajemen memiliki alasan strategis yang valid, seperti menjaga likuiditas atau menunggu waktu ekspansi yang lebih optimal. Pasar akan senantiasa mengamati disiplin manajemen dalam alokasi modal dan konsistensi strategi bisnis. Namun, ia mengakui bahwa dalam jangka pendek, minimnya katalis dari penggunaan dana berpotensi membuat pergerakan saham cenderung bergerak stagnan (sideways) atau volatil. Namun, dari perspektif jangka menengah hingga panjang, rendahnya penyerapan dana tidak selalu mengindikasikan hal negatif secara fundamental. Selama emiten memiliki fundamental yang kokoh dan rencana penggunaan dana yang transparan, kondisi ini justru dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang, terutama ketika valuasi saham telah mencapai level yang lebih menarik.
Prospek Saham Emiten IPO di Tengah Tren Realisasi Dana
Melihat dinamika ini, para analis pun memberikan pandangan mereka mengenai prospek saham emiten IPO. Muhammad Wafi dari KISI berpendapat bahwa emiten seperti EMAS dan CBDK menunjukkan prospek paling menjanjikan. Realisasi dana IPO oleh EMAS, menurutnya, mengindikasikan adanya penambahan aset atau kapasitas produksi yang signifikan, yang berpotensi mendorong laba dalam jangka menengah. Sementara itu, CDIA dianggap menarik karena sisa dana yang belum terpakai dapat menjadi “bahan bakar” pertumbuhan di tengah potensi likuiditas yang ketat pada tahun 2026.
Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, emiten IPO yang masih prospektif untuk dicermati dalam jangka menengah hingga panjang umumnya ditandai dengan model bisnis yang jelas, berkelanjutan, dan mampu menghasilkan pendapatan berulang. Ia menekankan pentingnya alokasi dana IPO yang fokus pada penguatan bisnis inti, alih-alih diversifikasi agresif di luar kompetensi utama, guna menjaga kualitas pertumbuhan. Dari perspektif valuasi, saham yang telah melewati fase euforia IPO dan mulai diperdagangkan pada level yang lebih rasional seringkali menawarkan rasio risiko-imbal hasil (risk-reward) yang lebih seimbang, terutama jika prospek pertumbuhan laba ke depan tetap positif. Berdasarkan analisisnya, Alrich merekomendasikan saham EMAS dengan target harga terdekat di kisaran Rp 6.800 hingga Rp 7.200, serta stoploss di bawah Rp 5.600 per saham. Senada, Muhammad Wafi menyarankan status trading buy untuk saham EMAS dan CBDK, sementara untuk saham IPO lainnya, ia merekomendasikan sikap wait and see.
Ringkasan
Mayoritas emiten yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2025 telah menyerap sebagian besar dana segar untuk modal kerja operasional, seperti PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang realisasinya tinggi. Namun, beberapa emiten seperti PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) masih menunjukkan tingkat penyerapan yang rendah. Analis Alrich Paskalis Tambolang dan Muhammad Wafi menilai percepatan realisasi dana IPO ini positif, meningkatkan kredibilitas manajemen dan menunjukkan kesiapan eksekusi rencana bisnis.
Sebaliknya, Hari Rachmansyah dari Indo Premier Sekuritas berpendapat bahwa realisasi dana IPO adalah bagian dari tata kelola perusahaan, dengan dampak sentimen yang relatif terbatas karena investor institusi lebih berfokus pada kemampuan dana menghasilkan pertumbuhan kinerja keuangan berkelanjutan. Meskipun penyerapan dana rendah dapat memicu sentimen negatif jangka pendek, tidak selalu demikian jika ada alasan strategis. Para analis merekomendasikan saham EMAS dan CBDK sebagai yang paling menjanjikan, dengan Alrich menyarankan target harga Rp 6.800 hingga Rp 7.200 untuk EMAS.