JAKARTA – Manajemen PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) memberikan penjelasan resmi mengenai aksi penjualan saham yang dilakukan oleh PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), pemegang saham pengendali perusahaan. Langkah strategis ini melibatkan divestasi sebanyak 600 juta lembar saham pada tanggal 8 Januari 2026, yang telah menarik perhatian pasar.
Menurut Bayu Setiawan, Direktur Diamond Citra Propertindo (DADA), penjualan saham DADA oleh KPII ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan portofolio serta upaya pemenuhan kebutuhan likuiditas internal KPII. Bayu menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak didasarkan pada perubahan kondisi fundamental perusahaan atau adanya informasi material yang belum dipublikasikan kepada publik. “Kegiatan operasional dan kinerja perusahaan tetap berjalan normal seperti biasa,” ujar Bayu dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Januari 2026, memastikan kelangsungan bisnis DADA tidak terganggu.
Konfirmasi yang diperoleh DADA dari KPII pada 9 Januari 2026 juga mengindikasikan bahwa penjualan saham tersebut tidak diikuti oleh rencana penjualan lanjutan di masa mendatang. Hingga tanggal surat konfirmasi tersebut, KPII tidak memiliki perubahan rencana terkait sisa kepemilikan sahamnya di DADA, yang menunjukkan komitmen jangka panjang meskipun ada penyesuaian portofolio.
Bayu turut menegaskan bahwa transaksi ini sama sekali tidak mengakibatkan perubahan pada struktur pengendalian perusahaan. “Struktur pengendalian tetap tidak berubah, dan tidak ada perjanjian atau tindakan yang dapat mengarah pada pergeseran kendali,” jelasnya, menepis kekhawatiran pasar akan stabilitas manajemen dan arah strategis DADA.
Berdasarkan keterbukaan informasi sebelumnya yang dirilis pada 12 Januari 2026, kepemilikan saham KPII di DADA kini tercatat sebesar 21,53% atau setara dengan 1,6 miliar lembar saham. Angka ini mengalami pengurangan signifikan sebesar 8,07% dari kepemilikan sebelumnya yang mencapai 29,6% atau sekitar 2,2 miliar lembar saham. Dari aksi penjualan saham tersebut, KPII berhasil mengantongi dana sebesar Rp 40,2 miliar, dengan harga jual per saham DADA ditetapkan pada Rp 67.
Selain KPII, pemegang saham DADA terbesar lainnya adalah Tjandra Tjokrodiponto dengan kepemilikan 35 juta saham atau 0,47% dari total saham. Sementara itu, porsi kepemilikan saham oleh masyarakat umum masih mendominasi sebesar 69,93%, mencerminkan partisipasi luas investor publik di saham DADA.
Bayu kembali menegaskan bahwa di luar aksi jual yang dilakukan oleh KPII, tidak ada informasi atau kejadian material lain yang berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha, kondisi keuangan, struktur pengendalian, maupun harga saham DADA secara signifikan. Pernyataan ini bertujuan untuk memberikan keyakinan kepada para investor dan pemangku kepentingan.
Namun, pasca-aksi jual yang dilakukan oleh KPII, harga saham DADA terlihat mengalami tekanan. Hingga penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, harga saham DADA terpantau stagnan di level Rp 51 per saham. Dalam rentang waktu lima hari terakhir, saham DADA bahkan telah terkoreksi cukup dalam, yakni sebesar 21,54%, merefleksikan reaksi pasar terhadap perubahan struktur kepemilikan pengendali.
Ringkasan
PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), pemegang saham pengendali PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA), telah menjual 600 juta lembar saham DADA pada 8 Januari 2026. Penjualan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pengelolaan portofolio dan pemenuhan kebutuhan likuiditas internal KPII. Manajemen DADA menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak mempengaruhi kondisi fundamental perusahaan atau mengubah struktur pengendalian. Mereka juga menyatakan operasional dan kinerja perusahaan tetap berjalan normal tanpa rencana penjualan lanjutan dari KPII.
Aksi jual tersebut mengurangi kepemilikan KPII di DADA sebesar 8,07%, dari 29,6% menjadi 21,53%, dan KPII mendapatkan dana Rp 40,2 miliar. Namun, pasca-transaksi ini, harga saham DADA mengalami tekanan di pasar. Hingga 15 Januari 2026, saham DADA terpantau stagnan di level Rp 51 dan telah terkoreksi 21,54% dalam lima hari terakhir.