Cuan Emas: Strategi Investasi Fisik & Digital Terbukti Untung!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Investor ritel perlu lebih cermat dalam menentukan strategi investasi emas. Meskipun harga emas mulai menunjukkan pemulihan setelah tertekan selama sebulan terakhir, selisih (spread) antara harga jual dan buyback emas batangan masih tergolong lebar.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), harga emas spot ditutup pada level US$ 4.540,26 per ons troi, meningkat 1% dibandingkan hari sebelumnya. Namun, jika dilihat dalam rentang waktu sebulan terakhir, harga emas masih mengalami koreksi sebesar 1,68%.

Ekonom Yusuf Rendy Manilet menekankan pentingnya bagi investor untuk memahami tujuan investasi emas sejak awal. Apakah investasi tersebut ditujukan untuk mencari keuntungan jangka pendek atau sebagai instrumen penyimpan nilai dalam jangka panjang.

Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Menurut Yusuf, emas batangan kurang ideal untuk aktivitas trading jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh spread harga jual dan buyback yang masih cukup signifikan.

Sebagai contoh, harga emas bersertifikat Antam pada Minggu (30/5/2026) dibanderol Rp 2.799.000 per gram, sementara harga buyback berada di Rp 2.609.000 per gram. Ini berarti, spread mencapai Rp 190.000.

“Investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian, meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah mengalami kenaikan,” jelas Yusuf kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Oleh karena itu, Yusuf menyarankan investor untuk menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli emas secara bertahap dan rutin. Strategi ini dianggap lebih efektif ketika harga emas bergerak fluktuatif karena dapat menjaga rata-rata harga pembelian.

Harta Djaya Karya (MEJA) Masuk Bisnis Batubara, Akuisisi TCP Senilai US$ 100 Juta

Lebih lanjut, strategi dollar cost averaging juga meminimalisir ketergantungan investor pada momentum pasar. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai bagi investor yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai dan investasi jangka panjang.

Yusuf memberikan contoh, investor yang membeli emas pada Mei 2025 saat harga masih berada di kisaran Rp 1,9 juta per gram, kini telah menikmati kenaikan sekitar 35% berdasarkan harga buyback saat ini.

Di sisi lain, Yusuf melihat emas digital semakin menarik, terutama bagi investor muda yang ingin memulai kebiasaan investasi secara bertahap. Selain menawarkan spread yang lebih rendah, yakni sekitar 2%–3%, emas digital juga memberikan fleksibilitas transaksi dan nominal pembelian yang lebih terjangkau.

“Dengan dana Rp 10.000 pun, investor sudah bisa mulai membeli emas,” ungkap Yusuf.

Namun demikian, Yusuf mengingatkan agar investor tetap memastikan bahwa platform emas digital yang digunakan telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan memiliki kustodian yang jelas.

Yusuf berpendapat bahwa emas digital dan emas fisik sebaiknya tidak dibandingkan secara berlebihan karena keduanya dapat saling melengkapi.

“Misalnya, sebagian digunakan untuk akumulasi rutin melalui platform digital, sementara sebagian lagi disimpan dalam bentuk fisik untuk jangka panjang maupun sebagai perlindungan saat terjadi risiko sistemik karena bisa dipegang langsung oleh pemiliknya,” pungkas Yusuf.

Ringkasan

Investor ritel perlu memahami tujuan investasi emas mereka, apakah untuk jangka pendek atau panjang, karena spread antara harga jual dan buyback emas batangan masih cukup lebar. Ekonom Yusuf Rendy Manilet menyarankan strategi dollar cost averaging (DCA) untuk pembelian emas fisik secara bertahap, terutama saat harga fluktuatif, agar rata-rata harga pembelian terjaga dan meminimalisir ketergantungan pada momentum pasar.

Emas digital semakin menarik bagi investor muda karena menawarkan spread lebih rendah dan fleksibilitas transaksi dengan nominal terjangkau. Meskipun demikian, investor harus memastikan platform emas digital terdaftar di Bappebti dan memiliki kustodian yang jelas. Emas digital dan fisik sebaiknya saling melengkapi, dimana emas digital untuk akumulasi rutin dan emas fisik sebagai perlindungan jangka panjang terhadap risiko sistemik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *