CPIN: Impor Bungkil Kedelai Berubah, Bagaimana Prospek Kinerjanya?

Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menunjukkan performa yang solid di tahun 2025. Namun, rencana pemerintah untuk mengalihkan kewenangan impor bungkil kedelai (SBM) dari pihak swasta ke BUMN, PT Berdikari, diperkirakan dapat memberikan tekanan pada kinerja CPIN di tahun 2026.

Menurut Abdul Azis Setyo, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, wacana pengalihan impor SBM ke BUMN, seperti PT Berdikari, berpotensi menciptakan ketidakpastian dalam jangka pendek. Ketidakpastian ini terutama terkait dengan mekanisme distribusi dan penentuan harga.

Lebih lanjut, Azis menjelaskan bahwa jika pemerintah mampu menjaga stabilitas harga dan pasokan bungkil kedelai, dampak pengalihan ini bisa menjadi netral atau bahkan positif bagi industri pakan ternak.

“Namun, sebaliknya, jika pengelolaan impor menjadi kurang efisien, dampaknya adalah peningkatan biaya bahan baku pakan bagi CPIN,” ungkap Azis kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).

Meroket 41%, Charoen Pokhpand (CPIN) Kantongi Laba Rp 3,36 Triliun per September 2025

Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas, juga memberikan sorotan terhadap rencana pengalihan wewenang impor bungkil kedelai melalui PT Berdikari. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan diskusi Indo Premier Sekuritas dengan pihak manajemen CPIN, pengadaan bungkil kedelai melalui Berdikari diperkirakan akan dimulai pada akhir Maret 2026.

“Meskipun rinciannya belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah, manajemen CPIN memperkirakan bahwa impor tepung kedelai akan berasal dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari perjanjian tarif timbal balik,” terang Andrianto dalam risetnya tertanggal 25 Februari 2026.

Selain itu, perusahaan juga menjelaskan bahwa sumber bungkil kedelai yang digunakan saat ini berasal dari Brasil dan Argentina. Hal ini dikarenakan impor dari kedua negara tersebut dinilai lebih ekonomis dibandingkan dengan bungkil kedelai asal AS setelah memperhitungkan tarif impor.

Manajemen CPIN juga menyoroti bahwa Berdikari saat ini belum memiliki silo atau fasilitas gudang khusus untuk penyimpanan bungkil kedelai. Akibatnya, bungkil kedelai impor kemungkinan akan didistribusikan langsung dari pelabuhan ke para pelaku industri unggas.

“Dengan asumsi faktor-faktor lain tetap konstan, analisis sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga bungkil kedelai sebesar 5% akan mengurangi pendapatan tahun 2026 sekitar 10,2%,” jelas Andrianto.

Prospek Harga Ayam Broiler Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham CPIN

Jason Chandra, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, memprediksi bahwa biaya impor bungkil kedelai berpotensi mengalami peningkatan sepanjang sisa tahun 2026. Hal ini diperkirakan akan mengurangi dampak positif dari kenaikan harga ayam broiler terhadap margin keuntungan CPIN.

“Berdasarkan peninjauan lapangan dan diskusi kami dengan perusahaan-perusahaan di sektor unggas, impor bungkil kedelai kemungkinan besar harus dilakukan melalui Berdikari (BUMN pertanian) mulai kuartal II-2026,” ujar Jason.

Meskipun rincian lengkapnya belum diumumkan, Jason meyakini bahwa adanya lapisan distribusi tambahan dapat meningkatkan biaya impor, yang pada gilirannya akan menekan margin keuntungan perusahaan unggas.

Meskipun terdapat sentimen negatif ini, perhitungan skenario yang dilakukan oleh Jason tetap menunjukkan potensi peningkatan earning per share (EPS) untuk tahun 2026, yang didorong oleh kenaikan harga ayam broiler.

Andrianto memperkirakan laba bersih CPIN pada kuartal I-2026 akan mencapai Rp 1,8 triliun. Secara keseluruhan, pendapatan dan laba bersih CPIN untuk tahun 2026 diproyeksikan masing-masing mencapai Rp 77,38 triliun dan Rp 6,08 triliun.

Cek Rekomendasi Teknikal Saham JSMR, CPIN, ASII untuk Jumat (6/2)

Azis dan Andrianto memberikan rekomendasi “Beli” (Buy) untuk saham CPIN, dengan target harga masing-masing Rp 4.550 per saham dan Rp 6.000 per saham.

Sementara itu, Jason merekomendasikan “Tambah” (Add) saham CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham. Risiko terhadap rekomendasi ini meliputi harga ayam broiler dan day old chick (DOC) yang lebih rendah dari perkiraan serta fluktuasi biaya pakan.

Ringkasan

Kinerja PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) di tahun 2025 terbilang solid, namun rencana pemerintah mengalihkan impor bungkil kedelai (SBM) ke BUMN, PT Berdikari, berpotensi menekan kinerja CPIN di tahun 2026. Analis memperkirakan perubahan ini dapat menciptakan ketidakpastian terkait distribusi dan harga SBM, yang berpotensi meningkatkan biaya bahan baku pakan jika pengelolaan impor kurang efisien.

Manajemen CPIN memperkirakan pengadaan bungkil kedelai melalui Berdikari akan dimulai akhir Maret 2026, kemungkinan besar berasal dari AS. Analis juga menyoroti bahwa kenaikan harga bungkil kedelai akan berdampak pada pendapatan CPIN, namun potensi kenaikan harga ayam broiler tetap dapat mendorong EPS. Beberapa analis memberikan rekomendasi “Beli” atau “Tambah” untuk saham CPIN dengan target harga yang bervariasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *