Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menunjukkan ambisi besar untuk mendongkrak kinerja di tahun 2026. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan untuk mendukung operasional perusahaan.
Rencananya, Chandra Asri Pacific akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap II Tahun 2026 dengan nilai pokok mencapai Rp 2,25 triliun. Masa penawaran umum surat utang ini dijadwalkan berlangsung pada 18-20 Februari 2026, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 26 Februari 2026.
Manajemen TPIA menegaskan bahwa seluruh dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan dialokasikan untuk modal kerja. Prioritas utama adalah pembelian bahan baku produksi, yang merupakan urat nadi kegiatan usaha perusahaan.
Sebelumnya, pada 14 Januari 2026, Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap I Tahun 2025 telah resmi tercatat di BEI dengan nilai pokok sebesar Rp 1,5 triliun. Senada dengan penerbitan obligasi yang baru, dana dari obligasi sebelumnya juga difokuskan untuk modal kerja, khususnya pengadaan bahan baku produksi.
IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas pada Senin (9/2), Ini Kata Analis
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, berpendapat bahwa langkah TPIA menerbitkan obligasi lebih merupakan strategi defensif untuk menjaga likuiditas modal kerja. Hal ini dinilai bukan sebagai sinyal ekspansi produksi yang agresif. Dengan adanya tambahan dana segar dari obligasi, TPIA memiliki fleksibilitas lebih dalam membeli bahan baku produksi petrokimia, yang harganya sangat fluktuatif mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia.
“Biaya bahan baku nafta memang cenderung tinggi, sejalan dengan pergerakan harga minyak dunia. Oleh karena itu, obligasi diperlukan untuk mengamankan stok bahan baku tanpa menguras kas internal perusahaan,” jelasnya pada Jumat (6/2/2026).
Wafi menambahkan bahwa penerbitan obligasi ini akan memberikan manfaat bagi TPIA, terutama dalam hal stabilitas arus kas keuangan karena tenor surat utang yang relatif panjang. Namun, konsekuensinya adalah beban bunga perusahaan milik Prajogo Pangestu ini juga akan meningkat.
Sebagai solusinya, TPIA perlu secara konsisten dan disiplin melakukan lindung nilai (hedging) mata uang. Fluktuasi kurs dapat merugikan perusahaan yang bergerak di bisnis padat modal seperti petrokimia.
Secara umum, Wafi memperkirakan prospek kinerja TPIA masih menghadapi tantangan, terutama karena pemulihan margin industri petrokimia global yang berjalan lambat. Meskipun demikian, TPIA diyakini akan kembali agresif dalam melakukan ekspansi bisnis dan membuka peluang untuk mencari pendanaan eksternal.
Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Provina Visindo, Indy Naila, menilai bahwa prospek kinerja TPIA masih cukup menjanjikan. Hal ini didukung oleh posisi TPIA yang memegang kendali atas rantai pasok bisnis petrokimia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Terlebih lagi, TPIA telah mengoperasikan lini bisnis kilang minyak melalui Aster di Singapura, yang diakuisisi pada tahun 2025.
TPIA juga mendapatkan sentimen positif dari rencana BPI Danantara yang akan berinvestasi sebesar US$ 800 juta untuk pengembangan Pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik perusahaan di Cilegon, Banten.
“Pabrik ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk produk soda kaustik dan ethylene dichloride,” imbuhnya pada Jumat (6/2).
Indy merekomendasikan agar investor mencermati saham TPIA untuk investasi jangka panjang, dengan target harga di level Rp 8.000 per saham.
Di sisi lain, Wafi memberikan rekomendasi hold untuk saham TPIA, dengan target harga di level Rp 7.000 per saham.
Ringkasan
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap II Tahun 2026 senilai Rp 2,25 triliun untuk modal kerja, khususnya pembelian bahan baku produksi. Sebelumnya, TPIA juga telah menerbitkan obligasi serupa senilai Rp 1,5 triliun pada Januari 2026 dengan tujuan yang sama. Penerbitan obligasi ini dipandang sebagai strategi defensif untuk menjaga likuiditas modal kerja di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Analis merekomendasikan strategi yang berbeda untuk saham TPIA. Seorang analis merekomendasikan hold dengan target harga Rp 7.000 per saham, sementara analis lainnya merekomendasikan untuk mencermati saham TPIA untuk investasi jangka panjang dengan target harga Rp 8.000 per saham. Prospek TPIA didukung oleh integrasi rantai pasok dan investasi baru di pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).