Cek Uang Palsu: Tips 3D dari BI Kepri, Ampuh!

BATAM, Shoesmart.co.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mendorong masyarakat dan pedagang untuk memaksimalkan penggunaan transaksi non-tunai, khususnya melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), selama bulan Ramadan. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisir risiko peredaran uang palsu sekaligus mempermudah proses jual beli yang semakin meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Ronny Widijarto, menyampaikan bahwa penggunaan QRIS menawarkan kepraktisan, keamanan, dan efisiensi yang lebih baik, terutama di tengah peningkatan aktivitas ekonomi. “Agar lebih mudah, baik pedagang maupun pembeli sebaiknya beralih ke transaksi non-tunai atau memanfaatkan QRIS. Saat ini, penggunaan QRIS sangatlah mudah,” ujarnya di Batam, Jumat.

Meski demikian, BI tetap mengimbau masyarakat yang masih bertransaksi secara tunai untuk selalu menerapkan metode 3D: Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Metode sederhana ini dinilai efektif untuk memastikan keaslian uang rupiah tanpa memerlukan peralatan khusus.

“Jika bertransaksi menggunakan uang tunai, metode 3D sudah sangat memadai. Tingkat kemiripan uang palsu yang pernah kami temukan tidak sampai 25 persen. Jadi, dengan 3D saja, masyarakat sudah cukup terlindungi,” jelas Ronny.

Peningkatan kewaspadaan menjadi krusial selama bulan Ramadan, seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi seperti pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan belanja kebutuhan Lebaran. BI Kepri terus berkoordinasi dengan pihak perbankan dan aparat penegak hukum untuk meminimalkan potensi peredaran uang palsu di wilayah Kepulauan Riau.

Masyarakat juga diimbau untuk menukarkan uang hanya melalui lembaga resmi seperti perbankan atau layanan kas keliling yang disediakan oleh BI. Hal ini penting untuk menjamin keaslian dan kualitas uang yang diterima.

Dengan mengoptimalkan transaksi digital dan meningkatkan pemahaman tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah, BI berharap aktivitas ekonomi selama Ramadan dapat berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat Kepulauan Riau.

Sebagai informasi tambahan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) mencatat adanya temuan 1.045 lembar uang palsu (Upal) di wilayah Kepri sepanjang periode Januari hingga Mei 2025.

“Temuan uang palsu ini tersebar di beberapa wilayah, termasuk Lingga dan Tanjungpinang. Kami menganggap hal ini serius dan terus menindaklanjutinya secara menyeluruh bersama aparat penegak hukum,” ungkap Deputi Kepala KPw BI Kepri, Adidoyo Prakoso, di Batam pada Rabu, 11 Februari 2026.

Dari Januari hingga Mei 2025, BI Kepri mencatat 1.045 lembar uang palsu ditemukan, dengan pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 mendominasi temuan tersebut.

Adidoyo menjelaskan bahwa tren jangka panjang menunjukkan penurunan temuan uang palsu dari tahun 2023 hingga 2025. Namun, terjadi peningkatan temuan uang palsu dari bulan Maret hingga Mei 2025. “Pada bulan Januari ditemukan 50 lembar, Februari 270, Maret 150, April 253, dan di bulan Mei ditemukan 282 lembar,” rincinya.

BI Kepri menerima laporan mengenai uang palsu melalui dua saluran, yaitu melalui perbankan dan langsung dari masyarakat.

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) Kepri mendorong penggunaan transaksi non-tunai, khususnya QRIS, selama Ramadan untuk meminimalisir risiko peredaran uang palsu dan mempermudah transaksi. Meskipun demikian, masyarakat yang masih bertransaksi tunai diimbau untuk menerapkan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) guna memastikan keaslian uang rupiah.

BI Kepri mencatat 1.045 lembar uang palsu ditemukan di Kepri antara Januari hingga Mei 2025, didominasi pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. BI terus berkoordinasi dengan pihak perbankan dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti temuan ini dan mengimbau masyarakat menukarkan uang hanya melalui lembaga resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *