Buyback Saham: Peluang di Tengah Pemulihan Bursa?

Shoesmart.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) ramai-ramai melakukan aksi korporasi buyback saham sejak awal Februari 2026. Fenomena ini terjadi seiring dengan upaya transformasi yang tengah digencarkan di pasar modal Indonesia.

Deretan emiten yang terpantau aktif melakukan buyback saham antara lain PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Selain nama-nama di atas, ada pula PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan raksasa e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang turut meramaikan aksi buyback.

Menurut jadwal, kesepuluh emiten tersebut diperkirakan akan menuntaskan periode buyback mereka pada bulan Mei 2026 mendatang.

Serap 1,43 Miliar Saham, Dana Buyback Darma Henwa (DEWA) Tersisa Rp 130 Miliar

BREN dan TPIA tercatat sebagai emiten dengan alokasi anggaran maksimal untuk buyback yang paling fantastis, masing-masing mencapai Rp 2 triliun. Menyusul di posisi kedua adalah BRPT dan CDIA, yang masing-masing menyiapkan dana hingga Rp 1 triliun.

Sementara itu, CUAN mengalokasikan dana sebesar Rp 750 miliar, IMPC sebesar Rp 500 miliar, dan TOWR sebesar Rp 300 miliar untuk program buyback saham mereka.

Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, berpendapat bahwa aksi buyback ini cenderung direspons positif oleh pasar dalam jangka pendek. Hal ini karena buyback memberikan sinyal kepercayaan diri dari manajemen perusahaan sekaligus berpotensi menopang harga saham.

Senada dengan Sukarno, analis fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, juga melihat bahwa aksi buyback umumnya berdampak positif terhadap harga saham dalam jangka pendek.

“Sebab, aksi tersebut memberikan sinyal bahwa valuasi saham saat ini mungkin lebih murah dari seharusnya. Selain itu, secara teknikal, buyback dapat meningkatkan earning per share (EPS), meskipun tidak secara langsung mengubah kinerja operasional inti perusahaan,” jelas Abida kepada Kontan, Rabu (11/2).

Namun demikian, aksi buyback ini juga menuai sorotan karena berpotensi mengurangi jumlah saham free float yang beredar di pasar. Padahal, BEI saat ini tengah berupaya mendorong emiten untuk meningkatkan jumlah free float hingga minimal 15% sebagai bagian dari transformasi pasar modal.

Emiten-emiten yang melakukan buyback memiliki tingkat free float yang bervariasi. TOWR dengan free float sekitar 32,82% dan BUKA dengan 43,66% tergolong relatif aman. Namun, PBSA dengan free float sekitar 8,36%, CDIA 9,97%, CBDK 10%, TPIA 10,67%, dan BREN 12,30%, masih berada di bawah ambang batas 15% yang ditetapkan.

Bukalapak (BUKA) Gelar Buyback, Gelontorkan Dana Rp 280 Miliar

Sukarno menilai, meskipun secara teoritis buyback dapat menekan free float, risiko benturan dengan ketentuan 15% relatif terbatas. “Hal ini mengingat adanya masa transisi dan opsi pelepasan kembali saham treasury saat kondisi pasar membaik,” terangnya.

Dari sisi regulasi, Abida berpendapat bahwa aksi buyback ini tidak bertentangan dengan ketentuan free float minimum 15%. “Sebab, aksi buyback tetap dibatasi oleh aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia agar kepemilikan publik tidak turun di bawah ambang batas yang telah ditetapkan,” ungkapnya.

Menilik prospek ke depan, emiten yang berasal dari sektor infrastruktur dan energi diperkirakan akan lebih menjanjikan di tahun 2026. Emiten berbasis infrastruktur dan energi, seperti TOWR, BREN, CUAN, dan BRPT, dinilai relatif lebih kuat karena didukung oleh arus kas yang stabil dan prospek pertumbuhan jangka menengah yang cerah.

“Sementara itu, emiten berbasis siklikal atau teknologi, seperti BUKA, akan lebih sensitif terhadap sentimen makro dan kinerja operasional perusahaan,” imbuh Abida.

Lebih lanjut, Sukarno melihat bahwa TOWR dan IMPC relatif paling defensif dengan visibilitas laba yang lebih stabil. Kinerja BRPT, TPIA, BREN, dan CUAN cenderung lebih siklikal dan sensitif terhadap harga energi atau komoditas serta sentimen global. Sementara itu, BUKA sangat bergantung pada perbaikan profitabilitas.

Emiten dengan free float rendah seperti PBSA, CDIA, dan CBDK, juga memiliki risiko volatilitas dan likuiditas yang lebih tinggi.

“Sentimen positif yang dapat mempengaruhi kinerja mereka mencakup penurunan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebaliknya, sentimen negatif berasal dari pelemahan rupiah dan perlambatan pertumbuhan ekonomi,” papar Sukarno.

Sebagai penutup, Sukarno merekomendasikan aksi beli (buy) untuk saham TOWR dengan target harga Rp 735 per saham.

Ringkasan

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) ramai melakukan buyback saham sejak awal Februari 2026, seiring dengan upaya transformasi pasar modal. Beberapa emiten yang aktif melakukan aksi ini antara lain TOWR, CBDK, IMPC, PBSA, TPIA, CUAN, BRPT, BREN, CDIA, dan BUKA, dengan perkiraan penyelesaian pada bulan Mei 2026. BREN dan TPIA mengalokasikan anggaran terbesar untuk buyback, masing-masing Rp 2 triliun.

Aksi buyback ini umumnya direspons positif oleh pasar karena memberikan sinyal kepercayaan diri manajemen dan berpotensi menopang harga saham serta meningkatkan earning per share (EPS). Meskipun demikian, buyback juga berpotensi mengurangi jumlah saham free float, sementara BEI tengah berupaya mendorong emiten untuk meningkatkan free float minimal 15%. Saham TOWR direkomendasikan untuk dibeli dengan target harga Rp 735 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *