Shoesmart.co.id JAKARTA. Di tengah gejolak pasar yang tak menentu belakangan ini, sejumlah emiten mengambil langkah strategis dengan melaksanakan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham. Langkah ini menjadi sinyal kepercayaan diri dari internal perusahaan.
Terbaru, PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal mencapai Rp 2 triliun. Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor ASII. Periode buyback saham ini dijadwalkan berlangsung mulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026.
Selain ASII, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (AADI) juga menyiapkan dana hingga Rp 4 triliun untuk melaksanakan buyback saham. Aksi korporasi ini diperkirakan akan dimulai pada 20 April 2026 dan berlangsung selama 12 bulan ke depan.
Selanjutnya, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berencana melakukan buyback saham dengan mengalokasikan dana sebesar Rp 448,69 miliar. Periode pembelian kembali saham ini akan berlangsung dari 17 April 2026 hingga 17 April 2027.
PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), produsen keju ternama, juga tak ketinggalan merencanakan buyback saham dengan alokasi dana maksimal Rp 28,12 miliar. Jumlah saham yang diperkirakan akan dibeli kembali adalah sekitar 0,90% atau 50,76 juta saham dari total saham yang telah dikeluarkan KEJU. Aksi korporasi ini akan berjalan selama 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan melalui RUPSLB pada tanggal 23 April 2026.
Emiten perbankan, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), juga turut serta dalam tren buyback saham dengan nilai mencapai Rp 50 miliar. NOBU telah memulai aksi korporasi ini sejak 9 Maret lalu dan akan berlangsung hingga 8 Juni 2026.
Tak hanya itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga menggelar buyback saham dengan perkiraan dana sebesar Rp 905,48 miliar. Periode buyback tersebut dimulai pada 9 Maret 2026 dan akan berlangsung selama 12 bulan, hingga 8 Maret 2027.
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), pengelola jaringan rumah sakit Mitra Keluarga, juga melaksanakan buyback saham dengan alokasi dana Rp 1 triliun. Aksi ini telah dimulai sejak 7 Maret dan akan berlangsung hingga 7 Juni 2026 mendatang.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menjelaskan bahwa maraknya aksi buyback sejak awal Maret 2026 menunjukkan keyakinan manajemen emiten terhadap fundamental dan prospek perusahaan di masa depan. Hal ini dilakukan meskipun harga saham saat ini tengah tertekan oleh sentimen negatif di pasar.
Aksi buyback saham juga memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar dan investor, menunjukkan kepercayaan emiten terhadap kinerja fundamental, potensi valuasi di masa depan, dan kesehatan arus kas perusahaan. Kepercayaan ini diharapkan dapat mendorong investor untuk turut membeli saham emiten yang melaksanakan buyback.
“Buyback saham menjadi kesempatan bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya ketika harga sedang rendah,” kata Nicodemus pada Jumat (13/3/2026).
Senada dengan hal tersebut, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa aksi buyback saham oleh sejumlah emiten pada dasarnya bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa manajemen emiten masih memiliki keyakinan terhadap fundamental bisnisnya, terutama di tengah kondisi pasar yang cenderung bergejolak akibat faktor eksternal seperti kenaikan harga energi global dan meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Hendra menyoroti buyback saham yang dilakukan ASII senilai Rp 2 triliun. Kebijakan ini diambil setelah harga saham ASII sempat terkoreksi dan kembali berada di kisaran Rp 5.800 per saham.
“Buyback ini mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham ASII saat ini masih cukup menarik dibandingkan fundamental bisnisnya yang solid,” kata Hendra pada Sabtu (14/3/2026).
Dia juga memberikan komentar terkait buyback saham yang dilakukan TOBA senilai Rp 448,69 miliar. Aksi korporasi ini dipandang sebagai bagian dari strategi TOBA untuk menahan tekanan penurunan harga saham di pasar, sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar, potensi peningkatan laba per saham menjadi lebih besar, sehingga secara teoritis dapat memberikan dukungan terhadap valuasi saham emiten tersebut di pasar.
Nicodemus menyebutkan bahwa secara teoritis, buyback saham dapat mendorong kenaikan harga saham emiten dalam jangka pendek. Namun, efek ini tidak selalu bertahan lama, mengingat harga saham tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar secara keseluruhan.
Terlebih lagi, saat ini pasar masih menghadapi ketidakpastian global, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung. “Kondisi tersebut membuat volatilitas pasar tinggi, sehingga harga saham masih berpotensi mengalami penurunan meskipun ada buyback,” tutur Nicodemus.
Terlepas dari tantangan tersebut, potensi bagi emiten-emiten lain untuk melakukan aksi buyback saham pada bulan-bulan mendatang masih cukup terbuka. Biasanya, emiten yang aktif melakukan buyback adalah perusahaan yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, dan memiliki keyakinan terhadap prospek bisnisnya dalam jangka panjang.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, juga memperkirakan bahwa beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang untuk melakukan buyback saham, terutama ketika harga sahamnya mengalami pelemahan di tengah gejolak pasar.
Dia mengingatkan agar investor senantiasa mencermati progres dan perkembangan aksi buyback emiten yang bersangkutan. “Ini supaya investor mengetahui komitmen buyback emiten terkait,” kata Harry pada Jumat (13/3/2026).
Dari sekian banyak emiten yang menggelar buyback akhir-akhir ini, Harry menyebut saham TOBA dan BBNI layak dipertimbangkan oleh investor, dengan target harga masing-masing di level Rp 2.100 per saham dan Rp 5.300 per saham.
Sementara itu, Hendra merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham ASII di kisaran level Rp 5.675 per saham, dengan potensi kenaikan menuju target jangka pendek di area Rp 6.000 per saham.
Dia juga menyebutkan bahwa saham TOBA masih berpotensi mengalami tekanan menuju area Rp 462 per saham, sehingga investor sebaiknya bersikap lebih hati-hati sebelum melakukan akumulasi.
Rekomendasi buy on weakness turut disematkan Hendra untuk saham BBNI. Saham emiten perbankan ini berpeluang menguat menuju target jangka pendek di kisaran Rp 4.500 per saham.
Menurut Hendra, strategi yang paling bijak bagi investor adalah tetap selektif dalam memilih saham, dengan memanfaatkan momentum teknikal untuk trading jangka pendek.
Ringkasan
Beberapa emiten di Indonesia melakukan aksi korporasi berupa buyback saham, termasuk Astra International (ASII), Alamtri Resources Indonesia (AADI), TBS Energi Utama (TOBA), Mulia Boga Raya (KEJU), Bank Nationalnobu (NOBU), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA). Aksi ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap fundamental dan prospek perusahaan, serta upaya menjaga stabilitas harga saham di tengah gejolak pasar.
Para analis pasar modal memberikan pandangan positif terhadap aksi buyback, melihatnya sebagai kesempatan bagi emiten untuk membeli sahamnya saat harga rendah. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan aksi buyback emiten dan selektif dalam memilih saham, dengan memanfaatkan momentum teknikal untuk trading jangka pendek. Saham TOBA, BBNI, dan ASII menjadi beberapa pilihan yang direkomendasikan.