Shoesmart.co.id, JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan bahwa kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% belum serta-merta membuat bank tersebut menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), baik untuk skema fixed maupun floating.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa perubahan BI Rate memang menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan suku bunga kredit. Namun, keputusan penyesuaian bunga tetap akan mempertimbangkan kondisi pasar dan likuiditas bank secara menyeluruh.
“Perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan BCA dalam menentukan suku bunga kredit. Namun demikian, kenaikan BI Rate tidak secara otomatis mendorong penyesuaian suku bunga KPR BCA, baik untuk bunga fixed maupun floating,” ujar Hera kepada Kontan.co.id, Jumat (22/5). Dengan kata lain, BCA berhati-hati dalam merespon perubahan BI Rate dan akan mengkaji dampaknya secara komprehensif sebelum mengambil keputusan.
Kendati demikian, data dari laman resmi BCA menunjukkan bahwa Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) KPR BCA per 30 April 2026 tercatat sebesar 9,16%. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan posisi per 31 Maret 2026 yang berada di level 8,89%. Kenaikan ini mengindikasikan adanya penyesuaian suku bunga secara bertahap.
OJK Beberkan Perkembangan Terbaru Pembentukan National Fraud Portal di IASC
Di tengah tren suku bunga yang cenderung meningkat, kinerja Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BCA justru menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga Maret 2026, penyaluran baru KPR BCA tercatat mencapai Rp 8,5 triliun. Capaian ini menunjukkan minat masyarakat terhadap KPR BCA masih cukup tinggi.
Dengan pencapaian tersebut, total outstanding KPR BCA mencapai Rp 142,3 triliun, atau tumbuh 5,2% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa KPR tetap menjadi salah satu motor penggerak bisnis BCA.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) KPR BCA juga masih terjaga dengan baik di level 1,9%. Hal ini menunjukkan bahwa BCA menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan KPR dan mengelola risiko kredit.
Hera menambahkan bahwa BCA tetap optimis bisnis KPR dapat terus tumbuh sepanjang tahun ini dengan tetap menjaga kualitas kredit secara prudent. Strategi ini penting untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan KPR BCA di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
“Untuk tahun 2026, BCA menargetkan penyaluran KPR tumbuh 6% hingga 7% dengan kualitas kredit tetap dijaga pada level yang sehat dan prudent,” katanya. Target ini menunjukkan komitmen BCA untuk terus mengembangkan bisnis KPR dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik.
Ringkasan
Meskipun Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate menjadi 5,25%, BCA menyatakan bahwa hal ini tidak serta-merta membuat mereka menaikkan suku bunga KPR. BCA mempertimbangkan perubahan BI Rate sebagai salah satu faktor, tetapi keputusan final akan bergantung pada kondisi pasar dan likuiditas bank secara keseluruhan.
Walaupun demikian, data menunjukkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) KPR BCA mengalami kenaikan. Kinerja KPR BCA tetap positif dengan pertumbuhan penyaluran baru dan total outstanding. BCA menargetkan pertumbuhan KPR sebesar 6% hingga 7% pada tahun 2026 dan akan tetap menjaga kualitas kredit secara prudent.