Shoesmart.co.id JAKARTA. Pemerintah berencana untuk mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) atau Dana Stabilisasi Obligasi. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah gejolak global yang tinggi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa instrumen ini disiapkan sebagai dana stabilisasi. Nantinya, dana ini akan digunakan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) ketika imbal hasil (yield) mengalami kenaikan yang terlalu signifikan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa BSF sebenarnya bukanlah instrumen yang baru. Kerangka kebijakan ini telah lama dipersiapkan sebagai bagian dari protokol stabilisasi pasar obligasi negara saat tekanan pasar meningkat tajam.
Mandiri Sekuritas Jadi Mitra Distribusi ST016, Penawaran Hingga 3 Juni 2026
“Langkah yang kita saksikan saat ini lebih merupakan eskalasi dari upaya yang sebelumnya telah dimulai melalui penempatan dana pemerintah ke perbankan BUMN untuk membantu penyerapan SBN,” jelas Yusuf kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).
Yusuf berpendapat bahwa keberadaan BSF cukup efektif untuk meredam gejolak pasar dalam jangka pendek. Instrumen ini dinilai mampu mengurangi aksi jual panik (panic selling) dan memberikan ruang bagi pasar obligasi untuk menjadi lebih stabil. Akan tetapi, efektivitas BSF akan terbatas jika tekanan pasar berasal dari masalah fundamental ekonomi.
“Dalam konteks saat ini, pasar tidak hanya khawatir mengenai likuiditas, tetapi juga mengenai risiko fiskal, beban bunga utang, dan konsistensi kebijakan. Oleh karena itu, BSF lebih tepat dipandang sebagai alat untuk membeli waktu, bukan solusi permanen,” tegasnya.
Ia memperkirakan bahwa dampak positif BSF kemungkinan hanya akan terasa dalam beberapa bulan ke depan. Setelah periode tersebut, pasar diperkirakan akan kembali menguji level imbal hasil (yield) yang dianggap sesuai dengan risiko fundamental Indonesia.
Yusuf juga mengingatkan tentang potensi distorsi harga apabila pembelian SBN oleh institusi domestik tidak sepenuhnya dilakukan berdasarkan mekanisme pasar.
Menurutnya, imbal hasil SBN bisa terlihat lebih stabil dibandingkan risiko yang sebenarnya tercermin di pasar. Dalam jangka pendek, kondisi ini memang membantu menjaga ketenangan pasar. Namun, dalam jangka menengah, hal ini dapat mengurangi kemampuan pemerintah dan investor dalam membaca tekanan pasar secara utuh.
Dari sisi investor asing, Yusuf melihat dampak BSF bersifat campuran. Kehadiran dana stabilisasi memang dapat memberikan sinyal positif bahwa pemerintah siap menjaga stabilitas pasar obligasi. Akan tetapi, kondisi ini juga berpotensi membuat investor asing menjadi lebih oportunistik. Mereka bisa saja masuk ketika imbal hasil tinggi dan keluar kembali setelah intervensi pemerintah mulai menekan imbal hasil.
“Tanpa strategi keluar yang jelas, BSF berisiko hanya membuat pasar lebih bergantung pada dukungan domestik,” katanya.
Selain itu, Yusuf menilai bahwa implikasi terhadap fiskal juga perlu dicermati. Pasalnya, kondisi APBN saat ini sudah berada dalam tekanan, yang tercermin dari defisit dan keseimbangan primer yang melebar cukup cepat.
Jika stabilisasi pasar obligasi membutuhkan dukungan likuiditas tambahan secara terus-menerus, maka ruang fiskal pemerintah berpotensi semakin tertekan.
“Di sini muncul paradoksnya, pemerintah bisa saja harus menambah utang untuk menjaga stabilitas pasar utang itu sendiri,” imbuhnya.
Yusuf menambahkan bahwa koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi sangat penting dalam implementasi BSF. Secara formal, BI tetap bekerja melalui instrumen moneter seperti operasi pasar dan stabilisasi rupiah, sedangkan BSF bergerak melalui kanal fiskal dan lembaga keuangan domestik. Namun, di mata pasar, kedua kebijakan tersebut akan dipandang sebagai satu paket kebijakan yang saling berkaitan.
“Kalau komunikasinya tidak sinkron, justru bisa muncul kebingungan dan meningkatkan risk premium,” tutup Yusuf.
Promo Garuda Miles 2026 Terbaru, Cek Disini!
Ringkasan
Pemerintah berencana mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah gejolak global. BSF akan digunakan untuk membeli kembali Surat Berharga Negara (SBN) saat yield naik signifikan. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut BSF bukan instrumen baru dan efektif meredam gejolak pasar jangka pendek, namun terbatas jika masalahnya fundamental.
Efektivitas BSF hanya sementara dan berpotensi menimbulkan distorsi harga jika pembelian SBN tidak berdasarkan mekanisme pasar. Investor asing bisa menjadi lebih oportunistik. Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan kebingungan di pasar serta implikasi terhadap fiskal juga perlu dicermati karena APBN sudah tertekan.