Bitcoin Tertekan The Fed: Analisis Level Support & Resistensi Krusial

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek masih diliputi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Pada hari Jumat (20 Februari 2026) sore, harga Bitcoin terlihat berada di kisaran US$ 68.150. Sebelumnya, mata uang kripto ini sempat menyentuh level di bawah US$ 66.500.

Penurunan ini terjadi tidak lama setelah dirilisnya risalah rapat (minutes) The Federal Reserve. Pasar menilai risalah tersebut menunjukkan sikap yang lebih agresif (hawkish) dari perkiraan sebelumnya.

Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto, menyatakan bahwa reaksi pasar kripto kali ini mencerminkan respons cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS.

“Sikap hawkish yang tercermin dalam risalah rapat The Fed membuat para pelaku pasar kembali melakukan perhitungan ulang terhadap peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Akibatnya, ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga tertunda, aset-aset berisiko seperti Bitcoin cenderung mengalami tekanan,” jelas Fyqieh dalam keterangannya, Kamis (19 Februari 2026).

Volatilitas Meningkat, Prospek Bitcoin Jangka Pendek Masih Konsolidatif

Risalah rapat bulan Januari yang dipublikasikan pada hari Rabu (18 Februari) waktu setempat mengindikasikan bahwa beberapa pejabat The Fed berpendapat belum ada urgensi untuk segera melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Bahkan, sejumlah anggota membuka peluang untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target 2%.

Tekanan Geopolitik dan Likuiditas Asia

Lebih lanjut, Fyqieh menyoroti bahwa faktor geopolitik juga turut memperbesar tekanan pada aset-aset berisiko. “Ketika risiko geopolitik meningkat dan harga minyak melonjak, pasar cenderung beralih ke mode risk-off. Kondisi ini biasanya memicu peningkatan volatilitas pada pasar kripto karena investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko,” paparnya.

Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia setelah libur Tahun Baru Imlek juga turut mempercepat pergerakan harga. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

Para pelaku pasar juga terus mengamati transisi kepemimpinan di The Fed. Masa jabatan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, akan berakhir pada Mei 2026. Presiden AS, Donald Trump, telah menominasikan Kevin Warsh sebagai penggantinya.

Warsh dikenal memiliki kecenderungan untuk mendukung suku bunga rendah. Namun, risalah rapat The Fed menunjukkan bahwa mayoritas anggota FOMC masih memprioritaskan pengendalian inflasi.

Sementara itu, pasar berjangka saat ini memperkirakan bahwa peluang pemangkasan suku bunga paling cepat akan terjadi pada bulan Juni 2026.

Menanggapi ketidakpastian ini, Fyqieh menilai bahwa volatilitas yang terjadi mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.

“Risalah The Fed yang lebih hawkish membuat para pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap arah suku bunga. Hal ini memberikan tekanan jangka pendek pada aset-aset berisiko seperti mata uang kripto,” tegas Fyqieh.

Analisis Teknikal: Area Krusial Bitcoin

Secara teknikal, Fyqieh menjelaskan bahwa Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dan bergerak di area krusial.

Bitcoin Bertahan di US$67.000, Analis Nilai Pasar Masuk Fase Konsolidasi

Menurutnya, saat ini Bitcoin sedang bergerak di sekitar zona support jangka pendek di kisaran US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Selama area ini dapat dipertahankan, peluang pemulihan tetap terbuka, meskipun pergerakan cenderung terbatas karena pasar masih menunggu katalis baru.

Fyqieh menambahkan bahwa level resistensi terdekat berada di sekitar US$ 68.380. “Jika Bitcoin mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun, jika tekanan jual kembali meningkat dan level support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” pungkas Fyqieh.

Dengan kombinasi sentimen kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik, serta faktor teknikal, pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat diperkirakan masih akan fluktuatif.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan data inflasi AS, sinyal kebijakan The Fed, serta dinamika pasar global yang dapat menjadi katalis bagi arah pergerakan selanjutnya dari aset kripto terbesar di dunia ini.

Ringkasan

Harga Bitcoin tertekan akibat sikap hawkish The Fed yang tercermin dalam risalah rapat, membuat pasar merevisi ekspektasi penurunan suku bunga. Faktor geopolitik dan likuiditas pasar Asia turut memperbesar tekanan pada aset berisiko. Volatilitas meningkat dan prospek Bitcoin jangka pendek diperkirakan masih konsolidatif.

Secara teknikal, Bitcoin berada di area krusial antara US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Level resistensi terdekat berada di sekitar US$ 68.380. Investor disarankan untuk terus mencermati data inflasi AS dan sinyal kebijakan The Fed guna mengantisipasi pergerakan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *