Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar Bitcoin menunjukkan volatilitas yang tinggi. Data dari Kontan menunjukkan bahwa Bitcoin mengalami koreksi sebesar 8,52% secara month on month (mom) per Januari 2026 dan terkoreksi 23% secara year on year (yoy).
Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, mengungkapkan bahwa penurunan harga Bitcoin pada Januari 2026 dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan global.
Ketegangan antara AS dan Uni Eropa terkait isu Greenland, ditambah dengan rencana penerapan tarif baru, memicu peningkatan risk aversion. Akibatnya, investor cenderung melakukan aksi profit taking setelah sebelumnya menikmati reli harga.
Bitcoin vs Emas: Analis Ragukan Perpindahan Dana ke Kripto dalam Waktu Dekat
Penurunan tajam harga Bitcoin juga memicu likuidasi massal di berbagai bursa. Pemicu utama kepanikan ini adalah potensi perubahan kepemimpinan di Bank Sentral AS, The Fed.
Spekulasi yang beredar menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell.
“Volatilitas ini juga dipengaruhi oleh sensitivitas pasar kripto terhadap berita geopolitik dan kebijakan makro. Dalam jangka pendek, Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko (risk-on),” jelas Fahmi kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Selain itu, keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75% pada rapat akhir Januari memang sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, dinamika di balik keputusan tersebut justru menghadirkan sinyal ketidakpastian baru.
Harga Bitcoin Terkoreksi 7,60%, Turun ke Level US$ 82.000
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, dua pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dan mengindikasikan keinginan untuk pemangkasan suku bunga. Hal ini menandakan meningkatnya tekanan terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Meskipun Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa ekonomi AS masih dalam kondisi yang “berdiri kokoh,” pasar memberikan respons yang berbeda.
Harga emas justru melonjak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, pergerakan saham teknologi dan aset kripto menunjukkan pola yang semakin selektif. Kondisi ini menciptakan lanskap pasar baru yang perlu dicermati oleh investor menjelang akhir Januari 2026.
Fahmi menilai bahwa perbedaan pandangan di internal The Fed menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Munculnya dissenting votes dalam rapat The Fed mengindikasikan bahwa ketidakpastian ekonomi semakin nyata.
Ujian Besar Bitcoin: Opsi US$10,8 Miliar Jatuh Tempo Pekan Ini
“Peluang Bitcoin untuk kembali menguji level psikologis US$100.000 tetap terbuka apabila sentimen global terus membaik dan tidak ada eskalasi risiko baru dalam waktu dekat,” terang Fahmi.
Ringkasan
Volatilitas tinggi menekan harga Bitcoin, dengan koreksi sebesar 8,52% (mom) dan 23% (yoy) per Januari 2026. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik, kebijakan perdagangan global, dan spekulasi perubahan kepemimpinan di The Fed yang memicu aksi profit taking dan likuidasi massal.
Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga, perbedaan pendapat internal mengenai pemangkasan suku bunga dan lonjakan harga emas mengindikasikan ketidakpastian ekonomi AS. Prospek Bitcoin untuk kembali ke level US$100.000 bergantung pada perbaikan sentimen global dan tidak adanya eskalasi risiko baru.