Bitcoin Stabil: Konflik Iran Reda, ETF Pacu Investor Institusi?

Shoesmart.co.id – Bitcoin (BTC) mengawali minggu pertama Maret 2026 dengan harga di sekitar US$66.256, sebuah titik “limbo” yang dipengaruhi oleh kembali memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Bitcoin Lolos dari Dampak Awal Konflik Iran

Menurut laporan Cointelegraph pada Senin (2/3/2026), harga Bitcoin sempat menyentuh angka US$63.000 di akhir pekan. Penurunan ini merefleksikan reaksi awal pasar terhadap meningkatnya eskalasi konflik di Iran.

Namun, pasar dengan cepat pulih dan berhasil mempertahankan level dukungan di sekitar $65.000. Ini menunjukkan resiliensi atau ketahanan aset kripto, meskipun likuiditas pasar sedang rendah selama akhir pekan.

Pendapatan Ditargetkan Tumbuh 10%, Analis Sebut Target AKRA Terlalu Optimistis

Trader dengan nama akun CrypNuevo dalam postingannya di X (sebelumnya Twitter) menyatakan bahwa de-eskalasi konflik akan menjadi katalis utama bagi pergerakan pasar.

Ia menambahkan bahwa konflik yang berkepanjangan tidak akan menguntungkan Presiden AS Donald Trump, sebab penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang akan mendorong harga minyak naik dan memicu inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di AS.

Sementara itu, sejumlah analis memperingatkan bahwa pola bearish masih mengintai. Bahkan, target jangka panjang Bitcoin berpotensi menyentuh US$45.000 jika tren pelemahan terus berlanjut.

Filbfilb, seorang analis independen, menyoroti tren historis yang menunjukkan koreksi sebesar 40–50% jika harga mingguan menembus zona support tertentu.

IHSG Dibayangi Volatilitas Awal Maret 2026, Sektor Energi Jadi Penopang

Analisis Geopolitik: “Ini Bukan Perang Dunia Ketiga”

Meskipun serangan Iran memicu kenaikan harga minyak WTI sebesar 7% dan menyebabkan penurunan pada pasar saham Asia, para analis menilai bahwa volatilitas masih dalam batas wajar.

Reaksi terbatas dari pasar tradisional (TradFi) dan pasar kripto berbeda dengan kepanikan yang biasanya terjadi saat ada gejolak besar.

“The Kobeissi Letter” menekankan bahwa “ini bukan Perang Dunia 3,” dan investor disarankan untuk mengabaikan hiruk pikuk berita. Bahkan, BTC mampu mempertahankan dukungan di level US$65.000 meskipun terjadi likuidasi posisi long (beli) sekitar $300 juta di akhir pekan.

Efek Eskalasi di Timur Tengah, Begini Proyeksi Rupiah Besok (3/3)

Inflasi AS dan Harga Minyak Jadi Sorotan Utama

Meskipun data inflasi AS relatif sedikit pada minggu ini, fokus utama tetap tertuju pada potensi dampak jangka panjang dari konflik Iran terhadap IHK.

Penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak di atas $100 per barel, yang diperkirakan akan meningkatkan inflasi AS hingga 5%.

Mosaic Asset Company memperingatkan bahwa harga energi bisa menjadi pendorong inflasi yang signifikan, mirip dengan gelombang inflasi tahun 2022 ketika konflik Rusia-Ukraina memengaruhi pasar energi.

Namun, Kobeissi berpendapat bahwa Trump akan berusaha untuk menjaga konflik tetap singkat agar efek inflasi tetap terkendali, terutama mengingat ini adalah tahun pemilihan paruh waktu.

Konflik Timur Tengah Bikin Dana Asing Kabur Rp 9,5 Triliun, IHSG Uji Level 7.950?

Aliran ETF Bitcoin Menjadi Sinyal Bullish

Di tengah stagnasi harga, aliran masuk (inflow) ke dalam ETF Bitcoin spot AS mencatat tren bullish. Selama tiga hari berturut-turut pada minggu lalu, ETF menerima inflow bersih lebih dari $1 miliar.

CryptoQuant mencatat bahwa ini adalah gelombang akumulasi institusional pertama sejak Oktober lalu, yang mengindikasikan bahwa investor jangka panjang mulai menambah posisi meskipun harga belum menembus level tertinggi sebelumnya.

Secara historis, peningkatan permintaan ETF cenderung mendukung harga, sementara penurunan permintaan seringkali berhubungan dengan pelemahan.

Menurut Eric Jackson, pendiri EMJ Capital, setiap siklus pasar menyaring investor yang lemah, yang kemudian digantikan oleh modal jangka panjang.

Pada tahun 2017, investor ritel menjual saat harga mencapai $20.000. Pada tahun 2021, dana (funds) menjual di $69.000. Dan pada tahun 2025, alokasi ETF cenderung menjual di $63.000.

Ringkasan

Harga Bitcoin sempat terpengaruh oleh eskalasi konflik di Iran, turun hingga US$63.000 sebelum kemudian pulih dan bertahan di sekitar US$65.000. Analis menilai reaksi pasar masih wajar dan berbeda dengan kepanikan yang biasa terjadi, menekankan bahwa situasi ini belum mengarah pada konflik global yang lebih besar.

Meskipun inflasi AS dan potensi dampak konflik Iran terhadap harga minyak menjadi perhatian, aliran masuk ke ETF Bitcoin spot AS menunjukkan tren positif. Gelombang akumulasi institusional mengindikasikan investor jangka panjang mulai menambah posisi, yang secara historis mendukung kenaikan harga Bitcoin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *