Bitcoin Siap Terbang? Sentimen Positif Dorong Target US$100.000

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan kekuatan signifikan, didorong oleh membaiknya sentimen pasar secara menyeluruh. Berdasarkan data dari Coin Market Cap pada Kamis (15/1/2026) pukul 19.32 WIB, harga Bitcoin telah mencapai level US$ 96.607, mencatatkan kenaikan impresif sebesar 7,51% dalam kurun waktu sepekan.

Kenaikan harga Bitcoin yang mencapai kisaran US$ 95.000 dalam sepekan terakhir ini, menurut Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, sebagian besar disebabkan oleh sentimen pasar yang positif. Pemicunya adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang lebih “dingin” dari perkiraan, terutama pada segmen core CPI. Data ini secara langsung membangkitkan harapan akan meredanya tekanan inflasi lebih cepat.

Dengan kondisi inflasi yang lebih terkendali, peluang bagi The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga kian terbuka lebar. Situasi makroekonomi semacam ini, seperti diungkapkan Fyqieh kepada Kontan pada Kamis (15/1/2026), biasanya mendorong investor untuk lebih berani menanamkan modal pada aset-aset berisiko, termasuk pasar kripto.

Setelah Anjlok di 2025, Begini Rekomendasi Saham Siloam (SILO) di Tahun Ini

Selain faktor makroekonomi, Fyqieh juga menyoroti peran penting pergerakan di pasar derivatif dalam mendorong lonjakan harga Bitcoin. Ketika BTC berhasil menembus level krusial di sekitar US$ 94.500, banyak trader yang sebelumnya mengambil posisi short mendapati diri mereka “terjebak” dan mengalami likuidasi. Likuidasi posisi short ini secara otomatis memaksa mereka untuk membeli kembali Bitcoin guna menutup posisi, yang pada gilirannya menciptakan tekanan beli tambahan dan mempercepat kenaikan harga.

Dari perspektif analisis teknikal, keberhasilan Bitcoin menembus level resistensi yang sulit ditembus sejak awal Desember menjadi sinyal bullish yang sangat kuat. Hal ini tidak hanya diamati oleh trader teknikal tetapi juga diinterpretasikan positif oleh sistem algoritmik. Terobosan ini secara signifikan meningkatkan keyakinan investor, tercermin dari membaiknya indikator sentimen pasar seperti fear and greed index. Menariknya, di tengah maraknya berita negatif (FUD) di media sosial, sebagian pelaku pasar justru membacanya sebagai sinyal kontrarian, mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai melemah dan momentum akumulasi justru menguat.

Katalis positif lainnya datang dari sentimen regulasi di Amerika Serikat. Optimisme terhadap Clarity Act, meskipun pemungutan suaranya ditunda, tetap tinggi karena beleid ini diharapkan dapat memberikan kepastian aturan dan memacu adopsi institusional. Ditambah lagi, arus dana masuk yang melonjak besar ke produk Spot Bitcoin ETF menjadi bukti nyata penguatan permintaan dari institusi, yang turut menopang reli Bitcoin dalam sepekan terakhir.

Fyqieh memproyeksikan bahwa tren pergerakan Bitcoin ke depan akan tetap menunjukkan kecenderungan bullish, didukung kuat oleh permintaan institusional melalui ETF Bitcoin spot. Arus dana masuk ke ETF ini bahkan mencetak rekor harian, memaksa penerbit ETF untuk mengakuisisi ribuan BTC di pasar spot, yang secara efektif memperketat suplai yang tersedia.

KB Bank Salurkan Kredit Sindikasi kepada PT PON untuk Tingkatkan Ekspor Global

“Faktor ini menjadi fondasi utama kenaikan harga dan menjaga momentum naik tetap utuh, meskipun pasar sudah berada di area harga tinggi,” tegas Fyqieh. Secara teknikal, Fyqieh menambahkan bahwa Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$ 97.000 – US$ 98.400. Zona ini telah lama dipantau oleh para analis sebagai area krusial yang sering menjadi titik perlambatan atau konsolidasi sebelum harga menentukan arah pergerakan selanjutnya. Selama Bitcoin mampu mempertahankan posisinya di atas area support sekitar US$ 93.900–US$ 96.600, tren naik jangka pendek masih dianggap sehat, dan setiap koreksi minor lebih cenderung dilihat sebagai jeda alami daripada sinyal pembalikan arah.

Pandangan lain datang dari CEO Triv, Gabriel Rey, yang menyatakan bahwa pergerakan Bitcoin di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen suku bunga. Rey menyoroti keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan suku bunga, yang jika terealisasi, berpotensi besar meningkatkan harga Bitcoin.

“Ketika suku bunga diturunkan, paling minim Bitcoin akan kembali menyentuh all time high (ATH) nya di US$ 125.000,” prediksi Gabriel. Ia juga menyoroti potensi pergantian posisi Ketua The Fed sekitar Mei atau Juni 2026. Calon kandidat kuat pengganti Powell disebut-sebut merupakan orang dekat Trump yang diperkirakan akan memiliki arah kebijakan penurunan suku bunga. Jika skenario penurunan suku bunga ini benar-benar terjadi, maka harga saham-saham AS dan harga Bitcoin diperkirakan akan melonjak.

Selain itu, Gabriel mengamati peningkatan berkelanjutan pada total dana kelolaan yang dimiliki oleh raksasa investasi seperti Blackrock, Fidelity, dan perusahaan investasi lainnya di AS. Ini mengindikasikan bahwa investor institusi terus gencar mengakumulasi Bitcoin. “Policy yang dilakukan Trump akan mendukung pertumbuhan harga Bitcoin,” tutup Gabriel.

Namun demikian, Fyqieh juga mengingatkan bahwa sentimen pasar mulai memasuki fase yang lebih “panas”. Indeks Crypto Fear & Greed sudah berada di zona greed (keserakahan), dan sebagian investor ritel terlihat mulai melakukan aksi ambil untung. Kondisi ini membuka peluang terjadinya volatilitas atau koreksi jangka pendek. Kendati demikian, berkurangnya cadangan Bitcoin di bursa serta dominasi akumulasi oleh investor institusional diharapkan dapat membantu menahan tekanan jual yang berlebihan.

Jam Tangan Mewah Seken Banyak Diminati, JWX Targetkan Transaksi Rp 200 Miliar

Fyqieh melihat bahwa sentimen ritel yang mulai “serakah” ditambah dengan potensi ketidakpastian regulasi (misalnya nasib akhir Clarity Act) dapat memicu volatilitas jangka pendek atau konsolidasi harga sebelum tren naik yang lebih besar berlanjut. “Jadi, dalam kuartal I – 2026, kemungkinan besar harga Bitcoin akan bergerak positif dengan potensi naik menuju dan bahkan menembus US$ 100.000, sambil tetap berisiko mengalami pullback ringan di antara pergerakan tersebut,” jelas Fyqieh, menggarisbawahi proyeksi optimis dengan kewaspadaan.

Ringkasan

Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan kenaikan signifikan, mencapai US$96.607 dengan kenaikan 7,51% dalam sepekan, didorong oleh sentimen pasar positif. Pemicu utamanya adalah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan, meningkatkan harapan penurunan suku bunga The Fed dan mendorong investasi pada aset berisiko. Selain itu, likuidasi posisi short di pasar derivatif dan arus dana masuk besar ke produk Spot Bitcoin ETF juga turut mendorong kenaikan ini.

Analis memproyeksikan tren bullish Bitcoin akan berlanjut, dengan potensi mencapai US$100.000 atau bahkan US$125.000 jika suku bunga AS diturunkan. Permintaan institusional yang kuat melalui ETF Bitcoin spot menjadi fondasi utama kenaikan harga. Meskipun ada risiko volatilitas atau koreksi jangka pendek akibat sentimen pasar yang mulai “serakah”, akumulasi oleh investor institusional diharapkan dapat menahan tekanan jual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *