Bitcoin Meroket: Analis Prediksi Harga Tembus US$100.000!

Harga Bitcoin menunjukkan peluang kuat untuk kembali menembus ambang batas US$100.000. Kenaikan signifikan ini terjadi setelah aset digital utama tersebut berhasil melampaui level krusial US$95.000 dalam reli terbarunya.

Para analis pasar kripto mengamati bahwa penguatan terbaru ini didorong oleh lonjakan aktivitas pembelian di pasar spot, sebuah indikasi fundamental yang lebih kokoh dibandingkan hanya sekadar spekulasi melalui instrumen derivatif.

Penilaian ini diperkuat oleh analis kripto terkemuka, Will Clemente, yang menyatakan melalui akun X-nya, seperti dilansir dari Cointelegraph pada Rabu (14/1/2026), bahwa reli Bitcoin saat ini “benar-benar dipimpin oleh pembelian spot.” Pernyataan ini menegaskan validitas dan substansi dari momentum penguatan harga Bitcoin.

Dalam periode 24 jam terakhir, harga Bitcoin menunjukkan lonjakan impresif sekitar 4,65%, mencapai level perdagangan di kisaran US$95.190, berdasarkan data terkini dari CoinMarketCap. Kinerja ini menandai pergerakan bullish yang signifikan.

Kenaikan tajam tersebut secara bersamaan memberikan pukulan telak bagi para pelaku pasar yang sebelumnya mengambil posisi short. Tercatat, data CoinGlass menunjukkan bahwa likuidasi posisi short pada Bitcoin mencapai angka fantastis US$269,21 juta, yang mencerminkan tekanan luar biasa pada spekulan penurunan harga.

Fenomena ini secara luas diinterpretasikan sebagai sinyal positif yang kuat bagi para pemegang Bitcoin. Pembelian spot menyiratkan bahwa investor mengakuisisi aset dasarnya secara langsung, berbeda dengan penggunaan kontrak derivatif seperti futures atau opsi yang terkadang dapat memicu kenaikan harga tanpa didukung oleh permintaan fundamental yang nyata. Ini menandakan kepercayaan investor terhadap nilai intrinsik Bitcoin.

Dengan momentum yang terus berlanjut, peluang Bitcoin untuk menembus US$100.000 semakin mengemuka, menjadi topik hangat di kalangan investor dan analis.

Michael van de Poppe, pendiri MN Trading Capital dan analis kripto terkemuka, secara tegas menyatakan bahwa prospek Bitcoin untuk melampaui ambang US$100.000 kini terbuka lebar.

Melalui akun X pribadinya, ia bahkan memberikan proyeksi yang optimis: “Cukup jelas bahwa Bitcoin akan bergerak menuju US$100.000 dalam sepekan ke depan dan setiap penurunan harga adalah peluang beli.” Komentar ini menggarisbawahi keyakinan kuatnya pada tren kenaikan Bitcoin.

Sebelumnya, Bitcoin sempat kesulitan mempertahankan level US$100.000, setelah anjlok di bawah angka tersebut pada 13 November tahun lalu. Namun, performa saat ini menunjukkan upaya pembalikan yang signifikan.

Prediksi dari platform pasar kripto Polymarket semakin menguatkan sentimen ini, menunjukkan probabilitas 51% bagi Bitcoin untuk kembali mencapai level US$100.000 sebelum 1 Februari. Bahkan, peluang untuk menyentuh US$105.000 berada di kisaran 23%, menambah optimisme di pasar.

Secara historis, bulan Januari bagi Bitcoin seringkali menunjukkan kinerja yang moderat, dengan rata-rata kenaikan 4,18% sejak tahun 2013. Kendati demikian, bulan Februari secara tradisional cenderung lebih kuat, mencatatkan rata-rata imbal hasil yang jauh lebih tinggi, mencapai 13,12%.

Michael van de Poppe, dengan keyakinan penuh, menegaskan bahwa tren bullish Bitcoin sama sekali belum berakhir. Ia bahkan menyatakan, “Bull market belum mati, justru baru akan dimulai,” sebuah sentimen yang membangkitkan harapan di tengah komunitas kripto.

Sentimen Pasar Masih Lemah

Meskipun harga Bitcoin menunjukkan penguatan yang mengesankan, sentimen di pasar kripto secara keseluruhan masih cenderung berada di level yang rendah. Platform analisis sentimen, Santiment, memprediksi bahwa jika Bitcoin kembali menyentuh harga enam digit, hal itu berpotensi memicu gelombang fear of missing out (FOMO) yang signifikan dari kalangan investor ritel.

“Kemungkinan FOMO ritel akan mulai muncul jika aset kripto utama kembali mendekati US$100.000 dalam beberapa hari ke depan,” demikian pernyataan Santiment melalui akun X mereka. Ini menyoroti dilema antara fundamental teknis dan psikologi pasar.

Santiment juga mencatat bahwa sentimen pasar kripto telah cenderung negatif sejak awal November, menyusul peristiwa likuidasi besar-besaran senilai sekitar US$19 miliar pada 10 Oktober lalu. Peristiwa tersebut meninggalkan jejak ketidakpastian yang mendalam.

Kondisi ini diperparah dengan Indeks Crypto Fear & Greed yang terus bertahan di zona “Fear” hingga “Extreme Fear” selama lebih dari dua bulan berturut-turut.

Pada hari Rabu, indeks tersebut tercatat berada di level 26, secara gamblang mencerminkan kondisi ketakutan yang masih melingkupi pasar kripto.

Ringkasan

Harga Bitcoin menunjukkan potensi kuat untuk menembus ambang US$100.000 setelah berhasil melewati level US$95.000. Kenaikan signifikan ini didorong oleh lonjakan aktivitas pembelian di pasar spot, bukan spekulasi derivatif, menandakan fundamental yang lebih kokoh. Analis terkemuka seperti Will Clemente dan Michael van de Poppe meyakini tren ini akan berlanjut, bahkan memprediksi target US$100.000 dalam waktu dekat dan menganggap setiap penurunan harga sebagai peluang beli. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin telah melonjak sekitar 4,65% mencapai US$95.190, menyebabkan likuidasi posisi short hingga jutaan dolar.

Pelaku pasar semakin optimistis, dengan platform Polymarket memperkirakan probabilitas 51% bagi Bitcoin untuk mencapai US$100.000 sebelum 1 Februari. Meskipun harga menguat impresif, sentimen di pasar kripto secara keseluruhan masih cenderung rendah, ditunjukkan oleh Indeks Crypto Fear & Greed yang bertahan di zona “Fear”. Namun, analis memprediksi bahwa jika Bitcoin kembali mendekati US$100.000, hal ini berpotensi memicu gelombang fear of missing out (FOMO) yang signifikan dari kalangan investor ritel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *