Shoesmart.co.id – JAKARTA. Aset kripto utama, seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), terus menunjukkan volatilitas yang signifikan sepanjang awal tahun 2026. Setelah sempat membukukan penguatan di awal tahun, kedua aset digital ini kembali mengalami koreksi harga dalam beberapa hari terakhir, memicu perhatian dari para investor.
Menurut data dari CoinMarketCap pada Minggu (11/1/2026) pukul 17.34 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat di level US$ 90.591,66, menunjukkan penurunan 2,04% secara bulanan. Sementara itu, Ethereum (ETH) mengalami koreksi yang lebih dalam, merosot 4,46% menjadi US$ 3.102,33. Fluktuasi ini menggarisbawahi dinamika pasar kripto yang selalu berubah.
Menanggapi kondisi ini, Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menegaskan bahwa volatilitas adalah karakteristik fundamental dari pasar kripto. “Koreksi yang terjadi saat ini adalah bagian dari fluktuasi wajar, terutama setelah pasar mengalami reli yang cukup kuat di awal tahun,” jelasnya.
Beberapa faktor utama turut menekan pergerakan harga aset kripto. Di antaranya adalah aksi ambil untung (profit-taking) yang dilakukan investor setelah kenaikan signifikan, serta sikap menanti (wait and see) menjelang rilis data ekonomi krusial seperti laporan tenaga kerja Amerika Serikat. Selain itu, arus keluar dana dari berbagai produk investasi kripto, termasuk spot Bitcoin ETF, juga berkontribusi pada tekanan jual di pasar.
Meskipun demikian, Fyqieh menilai bahwa koreksi saat ini tidak mengubah prospek jangka menengah hingga panjang untuk aset kripto. “Sebagian besar analis global sepakat bahwa koreksi ini bersifat sementara. Pasar kripto tetap ditopang oleh faktor-faktor struktural yang kuat, mulai dari adopsi institusional yang terus meningkat hingga perkembangan inovasi teknologi blockchain,” tambahnya.
Secara spesifik untuk Ethereum (ETH), rencana dan realisasi peningkatan protokol jaringan diprediksi akan menjadi katalis kuat yang dapat memperkuat permintaan di masa depan, mendorong nilai aset ini ke level yang lebih tinggi.
Sentimen pasar kripto saat ini mencerminkan perpaduan antara optimisme jangka panjang yang didorong oleh potensi pertumbuhan dan inovasi, dengan kehati-hatian jangka pendek akibat dinamika makroekonomi dan teknikal. Reli yang terjadi di awal tahun 2026 didorong oleh membaiknya sentimen investor serta masuknya dana institusional melalui produk ETF, yang secara signifikan mendorong kapitalisasi pasar kripto.
Ekspektasi akan pelonggaran kebijakan moneter global serta ketidakpastian geopolitik juga turut memicu minat investor terhadap aset digital, yang dilihat sebagai instrumen berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil yang menggiurkan. Namun, setelah periode reli tersebut, tekanan teknikal mulai muncul.
Pada Bitcoin, pola teknikal seperti “death cross” dan kegagalan menembus level resistensi kunci telah memicu aksi ambil untung. Meski demikian, arus keluar dana dari ETF Bitcoin lebih banyak dianggap sebagai penyesuaian posisi portofolio dalam jangka pendek, bukan indikasi perubahan sentimen jangka panjang yang fundamental.
Ketidakpastian kondisi makroekonomi global juga masih membayangi pasar. Antisipasi terhadap data ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga membuat investor cenderung mengurangi eksposur risiko. Dalam situasi di mana volatilitas pasar saham meningkat, aset kripto seringkali ikut terkoreksi, meskipun fundamental jangka panjangnya tetap menarik bagi banyak pihak.
Volatilitas Ethereum (ETH) umumnya relatif lebih tinggi dibandingkan Bitcoin (BTC), sehingga koreksi harga ETH bisa lebih tajam saat momentum teknikal melemah atau ketika ketidakpastian pasar meningkat. Fyqieh menekankan bahwa koreksi ini berpotensi berlanjut dalam jangka pendek hingga muncul katalis baru yang lebih jelas, seperti stabilisasi sentimen makroekonomi, keputusan regulator yang positif, atau sinyal teknikal yang lebih kuat.
“Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko portofolio mereka sambil menunggu arah pasar yang lebih terkonfirmasi,” pungkasnya. Fyqieh memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) akan bergerak dalam kisaran US$ 110.000 hingga US$ 150.000 sepanjang tahun 2026, sementara Ethereum (ETH) diperkirakan akan berada di rentang US$ 6.000 hingga US$ 15.000.
Ringkasan
Aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) menunjukkan volatilitas signifikan di awal tahun 2026, mengalami koreksi harga setelah sempat menguat. Pada 11 Januari 2026, Bitcoin tercatat US$ 90.591,66 (turun 2,04% bulanan) dan Ethereum merosot ke US$ 3.102,33 (turun 4,46%). Koreksi ini disebabkan oleh aksi ambil untung investor, sikap “wait and see” jelang data ekonomi AS, serta arus keluar dana dari produk investasi kripto.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menegaskan bahwa volatilitas adalah karakteristik pasar kripto dan koreksi saat ini bersifat sementara. Prospek jangka menengah hingga panjang aset kripto tetap didukung adopsi institusional dan inovasi blockchain. Investor disarankan untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko portofolio, sambil menunggu arah pasar yang lebih terkonfirmasi, dengan proyeksi BTC mencapai US$ 110.000-US$ 150.000 dan ETH US$ 6.000-US$ 15.000 sepanjang tahun 2026.