Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar aset kripto diproyeksikan masih akan bergerak stagnan atau sideways dalam waktu dekat, dibayangi oleh krisis likuiditas global yang terus membayangi sentimen investor. Setelah sempat menunjukkan geliat penguatan di awal tahun, harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) terpantau kembali terkoreksi dalam beberapa hari terakhir, memicu kehati-hatian di kalangan pelaku pasar.
Merujuk data dari CoinMarketCap pada Minggu, 11 Januari 2026, pukul 18.45 WIB, harga BTC tercatat di angka US$ 90.614,25. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,92% secara bulanan. Sementara itu, ETH mengalami koreksi yang lebih signifikan, ambles 4,24% menjadi US$ 3.102,26, menegaskan volatilitas yang masih mendominasi pergerakan dua aset kripto terbesar ini.
Bitcoin dan Ethereum Masih Volatil, Analis Ingatkan Investor Disiplin Kelola Risiko
Gabriel Rey, Founder dan CEO TRIV, menggarisbawahi bahwa kondisi pasar saat ini masih menantikan suntikan likuiditas baru. Menurutnya, selama belum ada katalis yang cukup kuat dan signifikan, pergerakan harga kripto akan cenderung terbatas. “Kondisi market saat ini mengalami krisis likuiditas, sehingga harga akan terus sideways sampai ada likuiditas baru yang masuk ke pasar,” ujar Gabriel, menjelaskan dinamika yang terjadi.
Sentimen paling utama yang menjadi sorotan para pelaku pasar sepanjang tahun ini adalah potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Gabriel Rey memprediksi bahwa langkah pemotongan suku bunga tersebut berpeluang besar terjadi pada kuartal I 2026, yang diharapkan dapat menjadi pemicu aliran likuiditas baru. Selain itu, pasar juga mencermati dinamika potensi pergantian Ketua The Fed, Jerome Powell, yang diyakini bisa dipengaruhi oleh arah kebijakan pemerintahan Presiden AS terpilih, Donald Trump, menambah lapisan kompleksitas pada proyeksi pasar.
Transparansi Dongkrak Kepercayaan, Aset Tokocrypto Tembus Rp 5,8 Triliun
Dalam jangka pendek, Gabriel Rey memperkirakan bahwa harga BTC masih akan bergerak dalam koridor sideways di rentang US$ 88.000 hingga US$ 93.000. Rentang ini mencerminkan periode konsolidasi sebelum adanya pergerakan yang lebih definitif. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap waspada dan disiplin dalam mengelola risiko dalam kondisi pasar yang fluktuatif ini.
Namun, untuk prospek jangka panjang, setelah pemotongan suku bunga terealisasi dan likuiditas baru membanjiri pasar, harga Bitcoin diyakini berpotensi melanjutkan tren kenaikannya. Gabriel menutup analisanya dengan optimisme, “Setelah pemotongan suku bunga, target jangka panjangnya bisa mencapai All Time High (ATH) lagi di kisaran US$ 120.000,” menunjukkan potensi kenaikan signifikan di masa mendatang bagi aset kripto terkemuka ini.
Ringkasan
Pasar aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), diperkirakan akan tetap bergerak stagnan atau sideways dalam waktu dekat akibat krisis likuiditas global. Pada 11 Januari 2026, harga BTC tercatat US$ 90.614,25 (turun 1,92% bulanan), sementara ETH ambles 4,24% menjadi US$ 3.102,26. Gabriel Rey dari TRIV menyebut bahwa pasar menanti suntikan likuiditas baru yang signifikan untuk keluar dari pergerakan terbatas ini. Investor disarankan tetap waspada dan disiplin dalam mengelola risiko.
Katalis utama yang diantisipasi adalah potensi pemotongan suku bunga acuan oleh Federal Reserve AS, yang diprediksi dapat terjadi pada kuartal I 2026, diharapkan memicu aliran likuiditas baru. Dalam jangka pendek, BTC diproyeksikan bergerak di rentang US$ 88.000 hingga US$ 93.000. Namun, untuk prospek jangka panjang, setelah pemotongan suku bunga terealisasi, Bitcoin diyakini berpotensi melanjutkan kenaikannya hingga mencapai level All Time High (ATH) di kisaran US$ 120.000.