Bitcoin Anjlok! Era Trump Berakhir, Volatilitas Kripto Meningkat

Shoesmart.co.id – Harga Bitcoin berada di bawah tekanan dan berpotensi terus merosot. Kenaikan yang terjadi sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) kini telah sepenuhnya terhapus.

Pasar kripto diperkirakan akan tetap sepi dalam waktu dekat. Investor masih diliputi kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi yang dianggap terlampau tinggi, serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed.

“Kontraksi ini telah berlangsung selama beberapa bulan dan tampaknya akan berlanjut untuk beberapa waktu ke depan,” ungkap Thomas Probst, analis riset di perusahaan penyedia data kripto, Kaiko, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (7/2/2026).

Investor Asing Kabur Massal: IHSG Ambles 4,73% di Pekan Ini

Berdasarkan data dari Coinmarketcap pada pukul 20.20 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$69.044, naik 2,58% dalam 24 jam terakhir. Namun, secara mingguan, Bitcoin telah mengalami penurunan sekitar 16,54%.

Menurut Probst, penurunan likuiditas ini menyebabkan pergerakan harga menjadi lebih fluktuatif dan sulit diprediksi. Kondisi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi para investor.

Sebelumnya, harga logam mulia dan aset kripto sempat mengalami tekanan hebat pada tanggal 30 Januari, menyusul penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed oleh Presiden Trump.

Pasar bereaksi negatif karena Warsh dinilai berpotensi untuk mengurangi neraca bank sentral, yang pada gilirannya dapat menurunkan minat terhadap Bitcoin.

Sejak saat itu, harga aset digital bergerak liar. Sempat anjlok hingga 20% pada hari Kamis, sebelum akhirnya kembali menguat pada hari Jumat. Pergerakan ekstrem ini memunculkan pertanyaan besar mengenai prospek Bitcoin dan aset kripto lainnya sepanjang tahun 2026.

RKAB 2026 Belum Diputuskan, Cermati Rekomendasi Saham Emiten Batubara

Gejolak di pasar kripto juga sempat terjadi pada akhir tahun lalu. Tepatnya pada bulan Oktober, terjadi likuidasi kripto terbesar sepanjang sejarah setelah Trump mengumumkan tarif baru untuk impor dari China. Peristiwa ini menguras likuiditas pasar dan dampaknya masih terasa hingga saat ini.

Flash crash pada musim gugur lalu bagaikan jarum yang memecahkan gelembung leverage,” kata Denny Galindo, ahli strategi investasi di Morgan Stanley Wealth Management, menggambarkan dampak dari peristiwa tersebut.

Sebelumnya, sikap pemerintahan Trump yang relatif bersahabat terhadap industri kripto sempat mendorong harga Bitcoin melonjak tajam sepanjang tahun lalu. Bahkan, Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi di atas US$125.000 pada bulan Oktober.

Namun, kebijakan pro-kripto yang diperkenalkan sepanjang tahun 2025 tampaknya belum cukup kuat untuk menahan tekanan harga yang terjadi belakangan ini.

Pada hari Kamis (5/2/2026), harga Bitcoin sempat menyentuh level di bawah US$61.000, yang merupakan level terendah sejak sebulan sebelum Trump memenangkan pemilihan presiden.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (7/2): Melonjak Rp 30.000 Jadi Rp 2.920.000 Per Gram

Meski demikian, beberapa analis berpendapat bahwa tekanan terburuk mungkin sudah berlalu.

James Butterfill, Kepala Riset di manajer aset kripto CoinShares, mengindikasikan bahwa ada sejumlah faktor yang menunjukkan harga Bitcoin sudah mendekati titik terendahnya.

“Ada beberapa sinyal kuat yang menunjukkan bahwa kita sangat dekat dengan titik terendah, atau bahkan mungkin sudah mencapainya,” ujarnya optimis.

Butterfill menambahkan bahwa sebagian investor mulai melihat kondisi penurunan harga ini sebagai peluang untuk melakukan pembelian.

Tekanan jual dari para “whale” (individu atau entitas yang memegang 10.000 Bitcoin atau lebih) juga mulai melambat. Hal ini semakin memperkuat indikasi bahwa pasar mungkin akan segera stabil.

“Saya kira banyak investor justru melihat ini sebagai peluang, bukan alasan untuk panik dan menjual aset mereka,” katanya, menekankan pentingnya perspektif yang tepat dalam menghadapi fluktuasi pasar.

Bukalapak (BUKA) Gelar Buyback, Gelontorkan Dana Rp 280 Miliar

Likuiditas Menipis

Probst menjelaskan bahwa rata-rata kedalaman pasar 1% Bitcoin, yang merupakan ukuran kemampuan pasar untuk menyerap transaksi tanpa menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan, sempat berada di atas US$8 juta pada tahun 2025.

Namun, angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar US$6 juta setelah tanggal 10 Oktober, dan saat ini hanya berkisar US$5 juta. Penurunan ini mengindikasikan bahwa jumlah Bitcoin yang tersedia untuk diperdagangkan di sekitar harga pasar semakin menyusut.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.876 per Dolar AS di Pekan Ini, Cek Sentimennya

Akibatnya, transaksi yang relatif kecil sekarang dapat memicu pergerakan harga yang jauh lebih besar dibandingkan sebelum kejatuhan di bulan Oktober. Hal ini tentu saja meningkatkan risiko bagi para trader dan investor.

“Tren penurunan likuiditas inilah yang paling mengkhawatirkan,” tegas Probst, menyoroti pentingnya faktor ini dalam memahami dinamika pasar kripto saat ini.

Pelaku pasar pun bersiap menghadapi volatilitas yang berkelanjutan dalam jangka pendek. Andrew Moss, Kepala Riset Aset Digital di Jefferies, menyampaikan pandangannya mengenai situasi ini.

“Kami melihat sangat sedikit indikator bullish yang mengisyaratkan bahwa pasar sudah benar-benar mencapai titik dasarnya,” ujarnya, memberikan proyeksi yang cenderung hati-hati.

Meskipun kripto masih merupakan bagian kecil dari pasar keuangan global, keterkaitannya dengan sistem keuangan arus utama terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Keterkaitan ini meliputi cadangan stablecoin, saham terkait kripto, hingga eksposur perbankan.

Bitcoin juga semakin berkorelasi dengan pasar saham saat terjadi tekanan pasar. Hal ini membuatnya lebih sensitif terhadap perkembangan makroekonomi dan geopolitik, demikian ditambahkan oleh Probst.

Pada hari Jumat (6/2/2026), indeks saham global menguat seiring dengan kembalinya investor ke saham teknologi AS setelah aksi jual besar dalam tiga sesi sebelumnya, yang dipicu oleh kekhawatiran mengenai belanja kecerdasan buatan.

Sejalan dengan sentimen positif tersebut, harga Bitcoin melonjak lebih dari 10% dan kembali menembus level psikologis US$70.000.

Moody’s Revisi Outlook Indonesia Jadi Negatif, Analis Sarankan Buy On Weakness

Efek Trump

Bitcoin mengalami lonjakan harga yang signifikan setelah Trump terpilih sebagai presiden pada November 2024. Hal ini didorong oleh ekspektasi bahwa pemerintahannya akan merombak kebijakan aset digital dan memenuhi sejumlah janji kampanye, termasuk pembentukan cadangan strategis Bitcoin nasional.

Trump sendiri terlibat dalam sejumlah proyek kripto, termasuk koin meme yang menggunakan namanya, serta perusahaan World Liberty Financial yang dipimpin oleh anggota keluarganya.

Pemerintah AS bergerak cepat untuk memenuhi tuntutan utama industri kripto dengan menerapkan rezim baru di Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta mengesahkan undang-undang untuk mengatur stablecoin berbasis dolar AS. Namun, masih belum jelas kebijakan pro-kripto lain apa yang akan menyusul setelah ini.

Wall Street Reli: Dow Tembus Rekor Baru Usai Ditutup di Atas 50.000

Harga Bitcoin sempat terdongkrak oleh janji Trump untuk membentuk cadangan nasional Bitcoin sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat posisi AS dalam dunia aset digital.

Meskipun Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk membentuk cadangan Bitcoin dari aset kripto hasil sitaan pemerintah, AS belum melakukan pembelian Bitcoin secara besar-besaran, kata Galindo.

“Cadangan itu memang dibentuk, tetapi mungkin tidak menjadi momen besar seperti yang diharapkan sebagian orang sebelum pelantikan,” pungkasnya, memberikan catatan yang lebih realistis mengenai dampak dari kebijakan tersebut.

Ringkasan

Harga Bitcoin mengalami tekanan dan berpotensi terus menurun, menghapus kenaikan sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS. Pasar kripto diperkirakan sepi akibat kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi dan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed. Penurunan likuiditas menyebabkan fluktuasi harga yang lebih besar dan sulit diprediksi, menimbulkan kekhawatiran investor.

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah sejak sebulan sebelum Trump terpilih, namun beberapa analis melihat sinyal bahwa harga mendekati titik terendah. Investor mulai melihat penurunan harga sebagai peluang pembelian, dan tekanan jual dari pemilik Bitcoin besar mulai melambat. Meskipun kebijakan pro-kripto era Trump sempat mendorong harga Bitcoin, kebijakan tersebut tampaknya belum cukup kuat menahan tekanan harga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *