BI Tahan Suku Bunga? Ini Prediksi LPEM UI Soal Level Acuan

Jakarta, IDN Times – Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan, atau BI Rate, di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung sore ini. Keputusan ini, menurut para ekonom, adalah langkah bijak di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik.

“Bank Indonesia sebaiknya mempertimbangkan untuk menahan suku bunga acuannya di 4,75 persen pada rapat Dewan Gubernur hari ini sebagai langkah yang tepat,” tegas ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam keterangannya pada Kamis (19/2/2026).

Riefky menggarisbawahi bahwa pemangkasan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar. Sebaliknya, kenaikan suku bunga juga dapat menekan permintaan domestik, terutama di wilayah-wilayah yang masih berjuang memulihkan diri pascabencana. Jadi, mempertahankan status quo tampaknya menjadi pilihan yang paling hati-hati saat ini.

Arus Modal Asing Keluar Dikhawatirkan Memburuk

Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia memang menghadapi tantangan serius dengan arus modal keluar yang signifikan. Pemicunya adalah pengumuman dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) dan perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s. Data menunjukkan, sejak pengumuman MSCI, pasar saham telah mencatat arus keluar mencapai 1,01 miliar dolar AS. Sementara itu, revisi penilaian ekonomi oleh Moody’s turut memicu arus keluar dari pasar obligasi sebesar 0,37 miliar dolar AS.

“Secara kumulatif, dalam 30 hari terakhir, arus modal keluar Indonesia tercatat mencapai 1,06 miliar dolar AS,” ungkap Riefky, menggambarkan betapa seriusnya situasi ini.

Untuk meredam tekanan ini, Bank Indonesia (BI) aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah. Tujuannya jelas, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya ini membuahkan hasil, dengan depresiasi rupiah yang relatif terbatas. Meskipun sempat melemah 0,27 persen sejak akhir bulan lalu, rupiah justru mencatatkan penguatan sebesar 0,44 persen (month-to-month/mtm) dalam 30 hari terakhir.

Namun, perlu dicatat bahwa meskipun terjadi penguatan jangka pendek, rupiah masih mengalami depresiasi sebesar 0,84 persen secara year-to-date (ytd) dan 3,74 persen (yoy) dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini menempatkan kinerja rupiah di bawah mayoritas mata uang negara berkembang lainnya, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Inflasi Mengintai Jelang Ramadan dan Lebaran

Selain tekanan eksternal, Indonesia juga menghadapi tantangan inflasi yang semakin meningkat. Pada awal 2026, inflasi tercatat sebesar 3,55 persen (yoy), sedikit melewati batas atas target Bank Indonesia (BI) yang berada di kisaran 3 persen ± 1 persen. Kenaikan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh gangguan produksi dan distribusi akibat bencana alam yang melanda sejumlah daerah sejak akhir tahun lalu, yang mengganggu pasokan barang kebutuhan pokok.

“Indonesia segera memasuki periode Ramadan dan Idul Fitri, yang umumnya memicu lonjakan permintaan terhadap bahan pangan, energi, dan transportasi. Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan inflasi, terutama pada barang-barang konsumsi yang sering mengalami fluktuasi harga menjelang hari besar,” imbuh Riefky, mengingatkan akan potensi lonjakan harga yang perlu diantisipasi.

BI Diharapkan Menahan Suku Bunga Acuan

Senada dengan Riefky, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, juga memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya risiko di pasar keuangan.

“Dalam konteks ini, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor, ketimbang pelonggaran moneter dalam jangka pendek,” ujar Josua.

Tekanan perekonomian saat ini, lanjut Josua, dipicu oleh peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu free float. Pada saat yang sama, lembaga pemeringkat Moody’s juga merevisi prospek utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan kenaikan premi risiko dan meningkatkan volatilitas aliran modal.

“Dengan adanya tekanan eksternal yang masih berlangsung, ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas, setidaknya hingga sentimen pasar membaik dan situasi eksternal mereda,” jelas Josua, mengakhiri penjelasannya.
Rupiah Melemah Pagi Ini, Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga BI Apa yang Terjadi jika Suku Bunga Bank Tinggi dalam Waktu Lama? BI Beri Sinyal, Masih Punya Ruang Pangkas Suku Bunga Acuan

Ringkasan

LPEM FEB UI memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% dalam RDG. Keputusan ini dinilai tepat di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik. Pemangkasan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan domestik yang sedang pulih pascabencana.

Indonesia menghadapi tantangan arus modal keluar signifikan akibat pengumuman MSCI dan perubahan penilaian Moody’s. Selain itu, inflasi meningkat jelang Ramadan dan Lebaran, disebabkan gangguan produksi dan distribusi akibat bencana. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama, sehingga BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *