Jakarta, IDN Times – Kabar baik bagi perekonomian! Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengindikasikan adanya potensi penurunan suku bunga acuan (BI Rate) lebih lanjut pada tahun ini. Sinyal ini sejalan dengan terjaganya inflasi inti di level rendah dan upaya berkelanjutan untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia (BI) secara agresif telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali, berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG). Pemangkasan yang dilakukan pada bulan Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September 2025 tersebut, secara kumulatif menurunkan BI Rate sebesar 125 basis poin (bps), sehingga mencapai level 4,75 persen.
“Kami masih melihat adanya ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut,” tegas Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I-2026, yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga acuan tersebut bertujuan untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Inflasi inti yang tetap rendah, menurut Perry, mengindikasikan bahwa kapasitas ekonomi Indonesia masih belum termanfaatkan secara optimal. Data menunjukkan, pada Desember 2025, inflasi inti tercatat sebesar 2,38 persen, yang masih berada di bawah target sasaran inflasi BI, yaitu 2,5 persen ±1 persen.
Kondisi ini, lanjut Perry, mencerminkan bahwa kapasitas produksi nasional masih jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang ada saat ini. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan, kapasitas produksi nasional dalam dua tahun mendatang berada di kisaran 5,8-6 persen.
“Jadi, kebijakan suku bunga kami bertujuan untuk menjaga inflasi inti tetap rendah sembari memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Inilah fondasi dari kebijakan moneter kami, yang meliputi penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder dan pendalaman pasar uang,” papar Perry Warjiyo.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dengan total nilai mencapai Rp332,1 triliun sepanjang tahun 2025. Langkah ini merupakan bagian dari strategi operasi moneter pro-market yang ekspansif, yang bertujuan untuk menjaga ketersediaan likuiditas yang memadai di pasar keuangan domestik.
Secara lebih detail, dari total pembelian SBN tersebut, sebesar Rp246,6 triliun dilakukan melalui skema debt switching dengan pemerintah. Tren pembelian SBN ini terus berlanjut hingga awal tahun 2026, dengan nilai mencapai Rp23,7 triliun hingga 23 Januari 2026.
“Pembelian SBN tersebut dilakukan sesuai dengan mekanisme pasar dan konsisten dengan program moneter yang ditempuh Bank Indonesia,” jelas Perry.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa likuiditas yang dipasok melalui pembelian SBN ini secara tidak langsung mendukung pendanaan berbagai program ekonomi strategis yang dijalankan oleh pemerintah.
“Sebagai contoh, sebagian dari SBN tersebut digunakan oleh pemerintah untuk membiayai program-program ekonomi kerakyatan yang tertuang dalam Asta Cita, seperti pembangunan perumahan dan Koperasi Desa Merah Putih,” ungkapnya.
Selain melalui pembelian SBN, ekspansi likuiditas juga tercermin dari penurunan posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi instrumen moneter ini menyusut signifikan dari Rp919,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp730,9 triliun di akhir tahun 2025, dan relatif stabil pada level tersebut hingga pekan ketiga Januari 2026. Penurunan outstanding SRBI ini mengindikasikan adanya aliran likuiditas yang kembali dilepas ke pasar, sehingga memperkuat kondisi likuiditas di sistem keuangan.
Ringkasan
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan sinyal kemungkinan penurunan suku bunga acuan lebih lanjut di tahun ini. Hal ini didasarkan pada inflasi inti yang terkendali dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sepanjang tahun 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 bps, sehingga mencapai 4,75 persen.
Kebijakan suku bunga acuan ini bertujuan menjaga inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp332,1 triliun sepanjang 2025 sebagai bagian dari strategi moneter pro-market yang ekspansif untuk menjaga likuiditas di pasar keuangan.