BI beberkan penyebab rupiah tembus Rp 17.300 per dolar AS

Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa minggu terakhir, bahkan sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis, 23 April. Bank Indonesia (BI) mengindikasikan bahwa pelemahan ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa pasar keuangan global tengah mengalami pergeseran aliran modal menuju aset-aset safe haven. “Sementara itu, aliran modal ke emerging market semakin terbatas,” ujarnya saat acara FGD di Bandung, Jumat (24/4).

Lebih lanjut, Juli menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang dipengaruhi oleh perkiraan defisit fiskal AS yang membengkak, salah satunya disebabkan oleh kebutuhan pembiayaan perang. “Amerika Serikat akan mengeluarkan belanja yang lebih besar. Defisit fiskal yang lebih besar ini berdampak pada imbal hasil yang lebih tinggi. Yield US Treasury 10 tahun maupun 2 tahun terus meningkat,” jelasnya.

Kondisi ini, menurutnya, memicu pergerakan arus modal dari negara berkembang ke Amerika Serikat yang terus meningkat. “Dampaknya adalah apresiasi dolar AS yang berkelanjutan. Dolar AS menguat terhadap hampir semua mata uang,” imbuh Juli.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara independen, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. Destry menunjuk pada kondisi global, termasuk eskalasi konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional, sebagai faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Menghadapi tekanan ini, Destry meyakinkan bahwa BI terus mengintensifkan langkah-langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam gejolak di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah,” terang Destry.

“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” pungkasnya.

Ringkasan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga Rp 17.300 dipicu oleh tensi geopolitik, khususnya konflik AS-Israel dengan Iran, yang mendorong aliran modal global ke aset safe haven. Kenaikan yield US Treasury akibat perkiraan defisit fiskal AS yang membengkak turut memperkuat dolar AS dan memicu perpindahan modal dari negara berkembang.

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang regional dan dipengaruhi ketidakpastian global. BI terus mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing dan memperkuat struktur suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan daya tarik aset domestik, serta memastikan cadangan devisa tetap kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *