Shoesmart.co.id, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar pertemuan daring dengan MSCI pada Senin, 2 Februari mendatang. Pertemuan penting ini menjadi krusial untuk mempertahankan posisi Indonesia di pasar modal global.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan kesiapannya untuk mewakili BEI dalam pertemuan virtual tersebut. “Pertemuan secara online. Saya akan mewakili Bursa Efek Indonesia untuk ketemu dengan petinggi MSCI. Dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan ikut,” ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Sabtu (31/1).
BEI bertekad untuk meyakinkan penyedia indeks global tersebut bahwa Indonesia berkomitmen penuh untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal. Langkah ini menjadi sangat penting mengingat peringatan yang telah dikeluarkan oleh MSCI.
Pentingnya Transparansi dan Tata Kelola yang Baik
Fokus utama pertemuan ini adalah meyakinkan MSCI bahwa Indonesia serius dalam memperbaiki transparansi dan tata kelola. Hal ini menjadi perhatian utama setelah MSCI mengumumkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia, yang membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks.
Sebagai informasi, MSCI telah membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta menangguhkan implementasi penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard, juga ditiadakan untuk sementara waktu. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
Dalam pengumumannya, MSCI menegaskan bahwa tindakan ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna. Pengumuman tersebut dirilis pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ancaman Penurunan Peringkat dan Konsekuensinya
Jika tidak ada perbaikan signifikan hingga Mei 2026, Bursa Efek Indonesia terancam turun peringkat dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Penurunan peringkat ini akan menempatkan Indonesia sejajar dengan Vietnam dan Filipina, yang tentunya akan berdampak negatif pada kepercayaan investor dan aliran modal asing.
OJK dan BEI menyatakan komitmennya untuk memperbaiki aturan dan regulasi agar sesuai dengan poin-poin permintaan yang diajukan oleh MSCI. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan MSCI dan mempertahankan posisi Indonesia di pasar modal global.
Pengumuman Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI
Selain pertemuan dengan MSCI, Jeffrey Hendrik juga memberikan informasi terkait pengumuman Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI. Ia memastikan bahwa pengumuman akan dilakukan pada Senin (2/2), sebelum pembukaan pasar saham. “Iya, ditunggu,” katanya. Jeffrey pun memastikan Pjs Dirut BEI akan berasal dari internal.
Friderica Widyasari Dewi, Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, juga mengonfirmasi bahwa OJK akan tetap berkantor di bursa. “Pertemuan secara daring (dengan MSCI),” katanya dalam kesempatan yang sama.
UPDATE: Petinggi BCA (BBCA) Tambah 300.000 Saham, Apa Tujuannya?
UPDATE: BEI Akan Umumkan Nama Pjs Dirut pada Hari Senin (2/2)
Ringkasan
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengadakan pertemuan daring dengan MSCI pada 2 Februari untuk mempertahankan posisi Indonesia di pasar modal global. Pertemuan ini krusial karena MSCI sebelumnya telah membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks Indonesia, menuntut peningkatan transparansi dan tata kelola pasar modal.
Fokus utama pertemuan adalah meyakinkan MSCI bahwa Indonesia serius dalam memperbaiki transparansi dan tata kelola. Jika tidak ada perbaikan signifikan hingga Mei 2026, BEI terancam turun peringkat dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Selain itu, BEI juga akan mengumumkan Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI pada hari yang sama.