Bedah robotik berpotensi dongkrak kinerja Siloam (SILO) pada 2026, ini rekomendasinya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menghadapi tantangan signifikan sepanjang tahun 2025. Emiten rumah sakit terkemuka ini mengalami koreksi tajam sebesar 18,83% selama periode tahun berjalan, sebuah performa yang jauh dari ekspektasi pasar.

Menurut analisis Abdul Azis Setyo Wibowo, seorang Equity Research dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, tekanan terhadap harga saham SILO ini utamanya disebabkan oleh penurunan volume pasien rawat inap dan tingkat okupansi. Kedua faktor ini, yang secara historis menjadi pilar utama pendapatan SILO, kini menjadi beban yang menekan profitabilitas.

Abdul Azis menjelaskan lebih lanjut bahwa menurunnya pasien rawat inap berdampak langsung pada margin perusahaan. Segmen ini dikenal memiliki kontribusi laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan layanan lainnya. Akibatnya, laba bersih SILO mengalami penurunan signifikan, berada di bawah proyeksi yang diharapkan pasar, seperti yang disampaikannya kepada Kontan pada Kamis (15/1/2026).

Dana IPO GOTO Rp 13,73 Triliun Habis Terpakai, Ini Detail Alokasinya

Meskipun demikian, di tengah tantangan tersebut, manajemen SILO tidak berdiam diri. Mereka mulai menggeber inovasi strategis dengan meluncurkan pusat bedah robotik canggih di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) dan Surabaya. Azis memandang langkah progresif ini sebagai potensi katalisator pemulihan di jangka menengah, terutama jika layanan premium ini berhasil menarik segmen pasien kelas atas yang mencari teknologi medis mutakhir.

Abdul Azis menambahkan, kehadiran bedah robotik ini secara signifikan memperkuat diferensiasi layanan SILO di pasar rumah sakit yang kompetitif, sekaligus berpotensi meningkatkan kesediaan pasien untuk membayar (willingness to pay) demi kualitas dan presisi yang lebih baik. Namun, ia menekankan bahwa dampak positif terhadap harga saham SILO akan terasa lebih signifikan jika volume prosedur bedah robotik ini terus menunjukkan peningkatan yang konsisten dari waktu ke waktu.

Dalam jangka pendek, implementasi teknologi robotik ini diperkirakan masih akan membebani margin SILO. Investasi awal untuk perangkat robotik memerlukan belanja modal (CAPEX) yang besar, diikuti oleh biaya depresiasi yang tinggi. Namun demikian, Abdul Azis optimis bahwa efeknya dapat berbalik positif dalam beberapa tahun mendatang, terutama jika teknologi ini terbukti mampu mempercepat throughput pasien, menekan tingkat komplikasi, dan mempersingkat durasi rawat inap.

Apabila efisiensi operasional ini berhasil dicapai, maka kontribusi teknologi ini terhadap EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) SILO akan menjadi jauh lebih solid dan berkelanjutan, menurutnya.

Untuk tahun 2026, Abdul Azis memproyeksikan pertumbuhan pendapatan SILO akan bersifat moderat. Proyeksi ini didukung oleh ekspektasi pemulihan volume pasien, ekspansi jaringan operasional yang berkelanjutan, serta kontribusi yang semakin signifikan dari layanan bernilai tambah seperti bedah robotik. Namun demikian, tekanan biaya operasional tetap menjadi tantangan utama yang harus dikelola dengan cermat oleh manajemen PT Siloam International Hospitals Tbk.

Dari sisi valuasi, saham SILO saat ini dinilai berada pada level yang moderat jika dibandingkan dengan emiten rumah sakit sejenis lainnya. Sebagai contoh pembanding, saham HEAL saat ini diperdagangkan pada rasio P/E (Price-to-Earnings) sebesar 31,72 kali, sedangkan rata-rata industri rumah sakit berada di angka sekitar 49,21 kali, menunjukkan potensi ruang gerak bagi SILO.

Berangkat dari analisis ini, Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy untuk saham SILO, dengan menargetkan harga pada rentang Rp2.740–Rp2.900. Sementara itu, level support ditetapkan pada Rp2.550–Rp2.480, memberikan panduan bagi para investor yang tertarik pada prospek saham rumah sakit ini.

MNC Tourism (KPIG) Raih Dana Segar Rp 78,75 Miliar, Begini Dampak ke Saham

Ringkasan

Kinerja saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025 akibat volume pasien rawat inap dan tingkat okupansi yang rendah, menekan laba bersih perusahaan. Untuk mengatasi tantangan ini, manajemen SILO meluncurkan pusat bedah robotik canggih di Siloam Hospitals Kebon Jeruk dan Surabaya. Langkah inovatif ini dipandang sebagai katalisator potensial pemulihan jangka menengah yang dapat menarik pasien kelas atas dan memperkuat diferensiasi layanan SILO.

Meskipun implementasi bedah robotik membutuhkan investasi awal besar yang membebani margin, teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan berkontribusi solid pada EBITDA di tahun-tahun mendatang. Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan pendapatan SILO yang moderat pada tahun 2026, didukung pemulihan pasien dan kontribusi bedah robotik. Dengan valuasi yang moderat dibandingkan pesaing, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan “trading buy” untuk saham SILO dengan target harga Rp2.740–Rp2.900.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *