JAKARTA, Shoesmart.co.id – Manajemen PT Krom Bank Indonesia (BBSI) angkat bicara menanggapi sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait volatilitas saham perseroan. Penjelasan ini diberikan setelah harga saham BBSI sempat melonjak tajam hingga 22% dalam perdagangan pekan lalu, menimbulkan pertanyaan di kalangan investor.
Secara rinci, pada perdagangan Senin (2/3/2026), saham BBSI ditutup pada level Rp 5.150 per saham. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 22% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026) yang berada di level Rp 4.210 per saham. Lonjakan harga yang cukup signifikan ini memicu perhatian BEI, yang kemudian meminta klarifikasi dari manajemen Krom Bank.
Sempat mengalami koreksi pada Rabu (4/3) ke level Rp 4.290 per saham, saham Krom Bank kemudian kembali menunjukkan tren positif dan bergerak di kisaran Rp 4.700 per saham. Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (6/3), saham BBSI ditutup pada level Rp 4.790 per saham. Pergerakan harga saham yang fluktuatif ini semakin memperkuat alasan BEI untuk meminta penjelasan.
Menanggapi hal tersebut, manajemen Krom Bank dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI pada Sabtu (7/3), menyatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau investasi pemodal. Hal ini sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 31/POJK.04/2015 tentang Keterbukaan Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.
Lebih lanjut, Krom Bank juga menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui adanya aktivitas dari pemegang saham tertentu yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau investasi pemodal, sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.04/2017 tentang Laporan Kepemilikan atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka. Dengan kata lain, manajemen Krom Bank menyatakan tidak ada indikasi keterlibatan pihak internal dalam pergerakan harga saham yang terjadi.
Selain itu, Krom Bank juga memastikan bahwa perusahaan tidak memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat, setidaknya untuk tiga bulan ke depan, yang dapat berakibat terhadap pencatatan saham. Pernyataan ini bertujuan untuk menenangkan investor dan memberikan kepastian mengenai stabilitas perusahaan.
“Sampai dengan saat ini, perseroan tidak menerima informasi dari pemegang saham utama perihal rencana terkait dengan kepemilikan sahamnya di perseroan,” tulis Corporate Secretary Senior Manager Krom Bank, Antik Rosalia Indah, dalam surat keterangan resmi. Dengan demikian, manajemen Krom Bank mengindikasikan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan saham perusahaan.
Antik Rosalia Indah juga menambahkan bahwa pihaknya akan memastikan setiap rencana dari pemegang saham utama akan dikomunikasikan secara wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini menunjukkan komitmen Krom Bank untuk menjaga transparansi dan memberikan informasi yang akurat kepada publik.
Sebagai catatan, kenaikan saham secara tiba-tiba ini bukan pertama kalinya dialami oleh Krom Bank. Sebelumnya, pada tahun lalu, saham Krom Bank juga pernah mengalami lonjakan signifikan hingga 14% pada perdagangan Jumat (26/9/2025). Kejadian ini menambah catatan volatilitas pada saham BBSI, yang perlu diperhatikan oleh para investor.
Ringkasan
Manajemen PT Krom Bank Indonesia (BBSI) menanggapi sorotan BEI terkait volatilitas saham BBSI yang melonjak tajam hingga 22%. Lonjakan tersebut memicu permintaan klarifikasi dari BEI karena dianggap signifikan. Sempat terkoreksi, saham BBSI kemudian kembali menunjukkan tren positif di kisaran Rp 4.700 per saham.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen Krom Bank menyatakan tidak mengetahui informasi atau fakta material yang mempengaruhi nilai efek perusahaan. Mereka juga menegaskan tidak mengetahui aktivitas pemegang saham tertentu yang mempengaruhi nilai efek, serta tidak ada rencana tindakan korporasi dalam tiga bulan ke depan yang berdampak pada pencatatan saham. Kenaikan saham secara tiba-tiba ini bukan pertama kalinya dialami oleh Krom Bank.