BBCA Tertekan: Peluang Beli? Analisis Fundamental Saham BBCA

Shoesmart.co.id, JAKARTA — Di tengah gejolak pasar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tetap menunjukkan fundamental yang kokoh dengan risiko yang terkendali. Pelemahan harga saham BBCA yang disertai arus modal asing keluar (net foreign sell) lebih disebabkan oleh sentimen makro yang memengaruhi pasar secara keseluruhan.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, saham BBCA terkoreksi tajam sebesar 5,84% ke level Rp6.050, yang merupakan titik terendah sejak periode pandemi Covid-19 di tahun 2021. Tercatat, aksi jual bersih oleh investor asing pada saham BBCA mencapai angka fantastis, yaitu Rp2,1 triliun dalam sehari.

Jonathan Gunawan, Analis Trimegah Sekuritas, berpendapat bahwa tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh BBCA, tetapi juga oleh bank-bank besar lainnya. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mengalami penurunan sebesar 2,81% ke level Rp4.500 dengan net foreign sell mencapai Rp655 miliar. Begitu pula dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 2,85% menjadi Rp3.070 dengan NFS sebesar Rp447,3 miliar.

Baca Juga: Target Harga Saham BBCA Direvisi Menjadi Rp10.900, Simak Proyeksi Kinerja 2026

Menurut Jonathan, investor asing sedang melakukan penyesuaian portofolio sebagai respons terhadap risiko makro di Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sektor perbankan, khususnya bank-bank besar (big banks), menjadi target pelepasan karena dianggap sebagai representasi (etalase) dari kondisi perekonomian nasional.

“Jika prospek makro memburuk, saham perbankan akan menjadi yang pertama kali terkena dampaknya. Dapat dilihat bahwa seluruh big banks mengalami pelemahan sejak awal tahun dan disertai dengan net foreign sell yang signifikan. Jadi, ini adalah tekanan sektoral, bukan masalah spesifik pada BBCA,” jelas Jonathan dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).

Baca Juga: IHSG Ditutup Ambles 3,38% ke 7.129, 10 Saham Big Caps BBCA, BREN Cs Kompak Loyo

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa salah satu pemicu utama berasal dari konflik yang belum mereda antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya operasional bagi banyak perusahaan. Akibatnya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat,” tambahnya.

Baca Juga: Laba Tumbuh 3,83% YoY Per Kuartal I/2026, Kinerja dan Saham BBCA Diramal Tetap Prospektif?

Selain faktor geopolitik, tekanan juga berasal dari perubahan outlook terhadap Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta tinjauan MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan aliran dana asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Jika kita telaah lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih sangat solid. BBCA bahkan berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, Minggu (26/4/2026), BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan bahwa BBCA masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid sepanjang tahun 2026, meskipun terdapat penyesuaian pada target harga saham.

Hingga kuartal I/2026, bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun, atau tumbuh 4% secara tahunan (year on year/YoY). Pencapaian ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar, yang mencakup 24% dari estimasi untuk tahun penuh 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menjelaskan bahwa meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBCA mengalami penyusutan ke level 5,7%, kinerja laba perseroan tetap ditopang oleh kuatnya fee-based income dan efisiensi beban operasional yang turun 9% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ).

“Manajemen BCA mengindikasikan bahwa tekanan pada imbal hasil korporasi mulai mereda dan menyoroti kemungkinan adanya penyesuaian naik suku bunga kredit atau repricing loans,” ujarnya.

Dari sisi penyaluran kredit, BBCA tetap optimis dan mempertahankan panduan pertumbuhan di kisaran 8%—10% hingga akhir tahun. Optimisme ini didorong oleh perbaikan kualitas aset di segmen korporasi dan komersial, yang berhasil mengompensasi perlambatan pada segmen ritel dan UMKM.

BRIDS mempertahankan peringkat beli untuk saham BBCA, tetapi dengan target harga yang disesuaikan menjadi Rp10.900 per saham. Valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati kisaran deviasi bawah dalam beberapa tahun terakhir.

“Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas,” tulis mereka dalam risetnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Saham BBCA mengalami tekanan dan koreksi tajam akibat sentimen makro dan aksi jual bersih oleh investor asing, mencapai titik terendah sejak pandemi Covid-19. Tekanan ini juga dirasakan oleh bank-bank besar lainnya seperti BMRI dan BBRI, yang disebabkan oleh penyesuaian portofolio investor asing terkait risiko makro di Indonesia dan ketidakpastian ekonomi global, termasuk konflik geopolitik yang meningkatkan harga energi.

Meskipun tertekan, fundamental BBCA dinilai masih solid dengan laba bersih kuartal I/2026 tumbuh 4% YoY. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat beli untuk saham BBCA dengan target harga yang disesuaikan menjadi Rp10.900 per saham, menilai valuasinya saat ini menarik dengan downside yang terbatas. BBCA juga berupaya menjaga daya tarik investor melalui kebijakan dividen interim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *