KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2025. Secara year to date, saham BBCA telah terkoreksi sebesar 6,54% dan berada di posisi Rp 7.500 per hari Rabu (28/1/2026).
Koreksi harga saham ini berdampak pada penurunan valuasi bank swasta terbesar di Indonesia ini. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan dengan Price Book Value (PBV) sebesar 3,3 kali dan Price Earning Ratio (PER) di 16,18 kali.
Menanggapi fluktuasi ini, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, berpendapat bahwa pergerakan harga saham BBCA adalah sesuatu yang wajar. Ia menyoroti komposisi pemegang saham BBCA yang didominasi oleh investor asing, mencapai sekitar 70%–80% dari saham free float.
Harga Saham BBCA Anjlok 5,36% Sebulan: Analis Ungkap Potensi Rebound Bertahap
Merujuk pada laporan bulanan registrasi pemegang efek per 31 Desember 2025, jumlah saham BBCA yang telah ditempatkan dan disetor penuh tercatat sebanyak 123,27 miliar lembar.
Sementara itu, jumlah saham bebas atau free float BBCA mencapai 52,16 miliar lembar saham. Angka ini setara dengan 42,74% dari total modal yang ditempatkan dan disetor dalam BBCA.
BBCA Chart by TradingView
Dengan komposisi kepemilikan saham yang signifikan oleh investor asing, Hendra menegaskan bahwa pergerakan harga saham BBCA sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang berada di luar kendali manajemen perseroan.
“Yang berada dalam kendali kami, manajemen BCA, adalah memastikan kinerja perusahaan tetap optimal. Namun, naik turunnya harga saham adalah hal yang normal,” jelas Hendra dalam konferensi pers yang diadakan pada hari Selasa (27/1).
Bos Djarum Dicekal Bikin Saham BBCA & TOWR Sempat Goyang: Saatnya Serok atau Cabut?
Hendra menambahkan bahwa investor asing cenderung melihat kondisi global secara keseluruhan. Oleh karena itu, keputusan investasi sepenuhnya bergantung pada penilaian masing-masing investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Agak sulit untuk memberikan rekomendasi beli atau tidak saat ini, karena hal tersebut sangat tergantung pada bagaimana para investor asing memandang prospek ekonomi Indonesia di masa depan,” pungkasnya.
Ringkasan
Saham BBCA mengalami penurunan sebesar 6,54% secara year to date, berada di posisi Rp 7.500. Koreksi ini berdampak pada valuasi dengan PBV 3,3 kali dan PER 16,18 kali. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa fluktuasi ini wajar, mengingat 70%-80% saham free float dimiliki investor asing.
Hendra menjelaskan bahwa pergerakan harga saham BBCA dipengaruhi faktor eksternal di luar kendali manajemen. Fokus BCA adalah menjaga kinerja perusahaan, sementara keputusan investasi asing bergantung pada prospek ekonomi Indonesia. Ia enggan memberikan rekomendasi beli atau jual, menekankan penilaian individual investor.