Shoesmart.co.id, JAKARTA — Momentum rilis laporan keuangan tahun penuh (full year/FY) 2025 diprediksi menjadi katalis positif bagi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sebelumnya, saham BBCA sempat menyentuh titik terendah dalam tiga bulan terakhir.
Pada perdagangan Jumat (23/1/2026), harga saham BBCA sempat menyentuh Rp7.550, level terendah sejak 17 Oktober 2025, sebelum akhirnya ditutup pada harga Rp7.650. Tercatat, volume perdagangan mencapai 2,03 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp1,55 triliun.
Menurut Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, pelemahan harga saham BBCA ini sejalan dengan tren penurunan yang terjadi di sektor perbankan secara keseluruhan. Namun, ia menilai bahwa secara historis, harga saham BBCA saat ini relatif terjangkau dan memiliki potensi besar untuk kembali naik (rebound).
Baca Juga: BCA (BBCA) Jaga Rasio Posisi Devisa Neto saat Kurs Rupiah Anjlok
“Potensi penurunan saham BBCA saat ini lebih kecil dibandingkan potensi kenaikannya. Hal ini didukung oleh valuasi saham yang sudah relatif diskon, sementara fundamental perusahaan tetap solid dan kuat,” ungkap Jonathan dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, Jonathan menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis laporan keuangan tahun 2025. Jika laporan tersebut menunjukkan hasil yang sesuai dengan ekspektasi, maka hal ini akan menjadi sentimen positif yang signifikan bagi pergerakan harga saham BBCA.
Baca Juga: BCA (BBCA) Pastikan Seleksi Debitur UMKM Tetap Pruden untuk Jaga Kualitas Kredit
Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, BBCA berhasil mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp52,66 triliun pada November 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 4,35% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pada November 2024, laba BCA tercatat sebesar Rp50,47 triliun.
Pertumbuhan laba bank yang tergabung dalam Djarum Group ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 4,10% YoY menjadi Rp73,03 triliun per November 2025.
Baca Juga: Strategi BCA (BBCA) di Balik Pilihan Tempatkan Dana di SBN
Selain itu, Jonathan menambahkan bahwa sentimen positif lainnya adalah proyeksi pertumbuhan kinerja BBCA pada tahun 2026 yang diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Beberapa faktor kunci yang akan mempengaruhi kinerja keuangan perseroan antara lain kemampuan dalam menjaga pangsa pasar dana murah (Current Account Savings Account/CASA), kontribusi pendapatan berbasis biaya (fee-based income), serta efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional.
“Pada tahun 2025, BBCA melakukan konsolidasi dengan menjaga pertumbuhan kredit secara hati-hati (prudent) serta memperbesar pencadangan untuk mengantisipasi risiko. Jika produk domestik bruto (PDB) meningkat tahun ini, maka BBCA berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi,” jelasnya.
Jonathan juga menuturkan bahwa sentimen dividen tetap menjadi pertimbangan penting bagi investor, di samping kinerja operasional perusahaan. Selama ini, BBCA dikenal memiliki rekam jejak pembayaran dividen yang relatif stabil dan menarik. Dalam tiga tahun terakhir, dividen payout ratio BBCA minimal berada di angka 65%.
“Ekspektasi pasar terhadap pembagian dividen di tahun 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh para pemegang saham jangka panjang,” pungkasnya.
Data dari Bloomberg mencatat bahwa konsensus analis yang memberikan rekomendasi “beli” (buy) terhadap saham BBCA mencapai 92%, sementara 8% memberikan rekomendasi “tahan” (hold). Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi “jual” (sell). Rata-rata target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan berada pada level Rp10.800, yang mengindikasikan potensi kenaikan (upside) sebesar 41%.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Momentum rilis laporan keuangan tahun 2025 diprediksi menjadi katalis positif bagi saham BBCA, yang sempat menyentuh titik terendah dalam tiga bulan terakhir. Analis Trimegah Sekuritas menilai bahwa penurunan ini sejalan dengan sektor perbankan, namun valuasi saham BBCA relatif terjangkau dan berpotensi *rebound*.
Pasar menantikan laporan keuangan 2025; jika sesuai ekspektasi, akan menjadi sentimen positif. BBCA mencatatkan laba bersih Rp52,66 triliun pada November 2025, naik 4,35% YoY, didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih. Konsensus analis memberikan rekomendasi “beli” dengan target harga Rp10.800, mengindikasikan potensi kenaikan 41%.