Shoesmart.co.id JAKARTA. Pembatalan rencana implementasi mandatori biodiesel B50 oleh pemerintah pada tahun 2026 menjadi sentimen negatif sesaat bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang minyak sawit mentah (CPO).
Seperti diketahui, pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan untuk membatalkan rencana penerapan mandatori biodiesel B50, yang merupakan campuran 50% minyak sawit dalam solar, pada tahun 2026. Dengan demikian, Indonesia akan terus menjalankan program B40 yang saat ini sedang berjalan.
Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, pembatalan B50 berpotensi memberikan tekanan sentimen jangka pendek pada sektor CPO, terutama karena hilangnya potensi tambahan permintaan dari dalam negeri.
Harga Emas Rentan Turun Pada Pekan Depan, Tapi Peluang Rebound Masih Ada
Selain itu, pemerintah juga menaikkan pungutan ekspor CPO dari 10% menjadi 12,5% dengan tujuan untuk mendukung pembiayaan program Biodiesel B40.
Azis berpendapat bahwa kondisi ini berpotensi semakin membebani margin keuntungan emiten CPO. Meskipun demikian, ia memperkirakan dampak negatif tersebut tidak akan terlalu signifikan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberlanjutan program B40 masih cukup kuat untuk menopang permintaan di dalam negeri, sekaligus menjaga harga jual rata-rata (average selling price atau ASP) emiten sawit.
“Penundaan B50 dan kenaikan pajak ekspor CPO menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek karena dapat menekan margin dan menghilangkan potensi tambahan permintaan domestik. Meskipun begitu, dampaknya relatif terbatas karena program B40 tetap berjalan,” jelas Azis kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Selain isu B50, terdapat beberapa sentimen negatif lain yang perlu diwaspadai oleh para investor.
Beberapa di antaranya adalah arah kebijakan biodiesel di masa depan, kebijakan terkait pajak ekspor, volatilitas harga CPO global, serta isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang masih menjadi perhatian utama secara global terhadap industri kelapa sawit.
Di sisi lain, peluang perbaikan kinerja emiten CPO masih terbuka lebar. Azis menilai bahwa konsumsi domestik berpotensi mengalami peningkatan seiring dengan momentum Ramadan dan Idulfitri, yang secara historis selalu mendorong kenaikan permintaan energi dan produk-produk berbasis kelapa sawit.
Percepat Ekspansi, DGNS Mengalokasikan Belanja Modal (Capex) Rp 13 Miliar
“Kinerja emiten CPO masih berpeluang untuk membaik karena program B40 tetap berjalan dan mampu menopang ASP. Selain itu, konsumsi di dalam negeri juga berpotensi meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri,” terangnya.
Dari sisi kinerja, beberapa emiten CPO tercatat berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih pada kuartal III-2025 (Q3 2025).
Dengan asumsi harga CPO relatif stabil dan permintaan domestik tetap terjaga, prospek laba bersih emiten sawit pada tahun 2026 dinilai masih positif, meskipun pertumbuhannya diperkirakan akan lebih moderat dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya saat wacana B50 masih menguat.
Secara valuasi, sektor CPO juga masih dianggap menarik. Salah satu emiten yang direkomendasikan oleh Azis adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).
Menurut pengamatan Azis, SSMS saat ini diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) sekitar 12,26 kali, yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata P/E tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 14,53 kali.
Oleh karena itu, Azis merekomendasikan trading buy saham SSMS dengan target harga di kisaran Rp 1.820 – Rp 1.840, dan level support di Rp 1.560 – 1.550 per saham.
Ringkasan
Pembatalan rencana implementasi B50 pada tahun 2026 menjadi sentimen negatif sesaat bagi emiten CPO karena menghilangkan potensi tambahan permintaan domestik. Pemerintah juga menaikkan pungutan ekspor CPO, yang berpotensi menekan margin keuntungan emiten. Meskipun demikian, dampak negatif diperkirakan tidak terlalu signifikan karena program B40 tetap berjalan dan dapat menopang permintaan di dalam negeri.
Kinerja emiten CPO masih berpeluang membaik karena program B40 dan potensi peningkatan konsumsi domestik menjelang Ramadan dan Idulfitri. Secara valuasi, sektor CPO masih menarik, dengan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) direkomendasikan trading buy karena diperdagangkan pada rasio P/E yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.