AVIA Cetak Laba Gede! Analis Ungkap Rekomendasi Sahamnya

Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja keuangan PT Avia Avian Tbk (AVIA) di tahun buku 2025 berhasil melampaui ekspektasi para analis. Emiten cat dan pelapis ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,75 triliun, menandai pertumbuhan tahunan sekitar 5%.

Kevin Halim, seorang analis dari Maybank Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa pencapaian AVIA ini melampaui perkiraan internal perusahaan maupun konsensus pasar secara umum. Menurutnya, pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan yang signifikan serta ekspansi margin yang terjadi pada kuartal keempat tahun 2025.

“Laba AVIA untuk tahun 2025 mencapai Rp 1,747 triliun, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui estimasi yang kami buat serta konsensus pasar. Kinerja impresif ini didukung oleh pertumbuhan volume yang kuat, sekitar 7% secara *year on year*, serta ekspansi margin pada kuartal IV yang dipengaruhi oleh penurunan belanja pemasaran,” jelas Kevin dalam risetnya yang dirilis pada 5 Maret 2026.

Wall Street Anjlok Tertekan Lonjakan Harga Minyak, Kecemasan Investor Meningkat

Menatap masa depan, Maybank Sekuritas meyakini bahwa AVIA akan terus menunjukkan kinerja yang solid di tahun 2026. Keyakinan ini didasarkan pada posisi AVIA sebagai pemimpin pasar yang kuat serta kemampuannya dalam merebut pangsa pasar dari para pemain yang lebih kecil.

Meskipun demikian, Kevin mengingatkan para investor untuk tetap mewaspadai prospek biaya, terutama di tengah tantangan makroekonomi yang ada. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya bahan baku yang menjadi beban bagi perusahaan.

“Kami merevisi naik proyeksi laba untuk tahun 2026–2027 sekitar 1%–3% seiring dengan asumsi volume yang lebih kuat. Namun, kami juga menurunkan estimasi margin untuk mencerminkan sikap yang lebih konservatif di tengah tekanan makro yang ada,” ungkapnya.

Dengan pertimbangan tersebut, Maybank mempertahankan rekomendasi beli untuk saham AVIA dengan target harga Rp 500 per saham. Target harga ini mencerminkan valuasi sekitar 17,2 kali *price-to-earnings* (P/E) untuk proyeksi tahun 2026.

Menurut Kevin, AVIA berhasil mengakselerasi peningkatan pangsa pasarnya di tahun 2025 menjadi sekitar 26%, naik 2 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak tahun 2020, perusahaan ini secara konsisten menambah sekitar 1 poin persentase pangsa pasar setiap tahunnya, menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 2020, pertumbuhan pendapatan AVIA juga berhasil melampaui pesaing terdekatnya, Nippon Paint. Pendapatan AVIA tercatat naik sekitar 9%, sementara pesaingnya hanya tumbuh sekitar 1%. Hal ini menandakan keunggulan kompetitif yang semakin kuat.

“Hal ini kami nilai mencerminkan kematangan ekspansi jaringan *distribution center* (DC) yang telah dilakukan perseroan,” jelas Kevin, menyoroti investasi strategis dalam infrastruktur distribusi.

Harga Saham BBSI Tiba-Tiba Melonjak 22%, Begini Penjelasan Manajemen Krom Bank

Selain pertumbuhan organik, AVIA juga aktif menjajaki peluang anorganik, termasuk kemungkinan mengajukan penawaran atas bisnis AkzoNobel di Indonesia. Dikabarkan bahwa AkzoNobel tengah mempertimbangkan untuk keluar dari pasar Indonesia. Bisnis AkzoNobel memiliki pangsa sekitar 8% melalui merek Dulux di segmen premium, yang dinilai dapat melengkapi posisi kuat AVIA di segmen menengah hingga menengah bawah.

Secara organik, AVIA juga berencana untuk mempercepat pemasangan mesin tinting serta meluncurkan produk-produk baru yang inovatif. Selain itu, pabrik baru di Cirebon dijadwalkan untuk mulai beroperasi dalam waktu dekat. Pabrik ini akan memproduksi cat berbasis air guna mendukung pertumbuhan segmen cat tembok yang terus meningkat permintaannya.

Di sisi lain, Maybank Sekuritas mewaspadai potensi risiko biaya yang timbul akibat pelemahan nilai tukar rupiah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Hal ini menjadi perhatian karena sebagian besar bahan baku yang digunakan dalam industri cat masih terkait dengan mata uang asing, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Meskipun demikian, Kevin menilai bahwa persediaan bahan baku yang cukup dapat membantu perusahaan untuk meredam volatilitas biaya dalam jangka pendek, memberikan sedikit ruang bernapas di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di sisi operasional, perubahan strategi promosi dari hadiah koin emas menjadi *voucher*, diskon, serta insentif berbasis tunai dinilai berpotensi menekan biaya pemasaran, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Perseroan juga berencana untuk menambah persediaan guna menjaga ketersediaan produk di tengah keterbatasan kontainer global, meskipun langkah ini dapat meningkatkan kebutuhan modal kerja sementara.

“Secara keseluruhan, kami menilai bahwa AVIA memiliki skala bisnis yang besar, kekuatan penetapan harga yang baik, serta neraca keuangan yang solid untuk menghadapi tekanan makro jangka pendek sambil mempertahankan kinerja operasional yang kuat,” pungkas Kevin, memberikan pandangan positif terhadap prospek AVIA.

Strategi Investasi Direktur Allo Bank, dari Reksadana ke Portofolio Terdiversifikasi

Ringkasan

PT Avia Avian Tbk (AVIA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,75 triliun pada tahun 2025, meningkat 5% dari tahun sebelumnya. Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menyatakan bahwa kinerja ini melampaui perkiraan perusahaan dan konsensus pasar, didukung oleh pertumbuhan volume penjualan yang kuat dan ekspansi margin.

Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham AVIA dengan target harga Rp 500 per saham, meskipun mengingatkan akan potensi risiko biaya akibat pelemahan rupiah. AVIA juga berencana melakukan ekspansi anorganik dan organik, termasuk penjajakan bisnis AkzoNobel di Indonesia dan pengoperasian pabrik baru di Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *