
JAKARTA – Setelah melewati proses transformasi yang signifikan, PT KISI Asset Management kini secara resmi bertransformasi menjadi PT Korea Investment Management Indonesia (KIM Indonesia). Perubahan nama ini bukan sekadar formalitas, melainkan juga penanda ambisi besar. KIM Indonesia menargetkan pertumbuhan dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) hingga 30% pada tahun 2026, menandakan optimisme kuat terhadap potensi pasar investasi di Indonesia.
Demi mencapai target ambisius tersebut, KIM Indonesia telah merancang strategi komprehensif, salah satunya dengan meluncurkan serangkaian produk investasi baru. Presiden Direktur KIM Indonesia, Arfan Karniody, mengungkapkan bahwa perusahaan berencana memperkenalkan empat hingga enam produk reksadana baru sepanjang tahun 2026. Sebagian besar produk yang akan dirilis tahun ini difokuskan pada reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi. Tidak hanya itu, KIM Indonesia juga menyiapkan peluncuran satu produk inovatif pada kuartal II-2026.
“Produk inovatif ini berpotensi memiliki beragam bentuk. Meskipun mungkin berbasis pendapatan tetap, kami akan memastikan adanya diferensiasi yang kuat,” jelas Arfan saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/1/2026). Ia menambahkan, “Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan menyajikan sesuatu yang berbeda dari penawaran di pasar saat ini.” Pernyataan ini menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak hanya menambah kuantitas produk, tetapi juga kualitas dan keunikan yang relevan dengan kebutuhan investor.
Menatap tahun 2026, Arfan Karniody memancarkan optimisme terhadap proyeksi pertumbuhan industri reksadana di Indonesia secara keseluruhan. Ia memperkirakan bahwa laju pertumbuhan terbesar akan tetap didominasi oleh reksadana berbasis fixed income (pendapatan tetap) dan reksadana pasar uang. Meskipun demikian, reksadana saham dan reksadana campuran juga diproyeksikan akan melanjutkan pertumbuhan, meskipun dengan momentum yang tidak sekuat segmen pendapatan tetap dan pasar uang. Ini menunjukkan pandangan yang realistis namun tetap positif terhadap dinamika pasar modal domestik.
Dalam konteks strategi investasi, KIM Indonesia saat ini cenderung memilih obligasi bertenor menengah. Arfan menjelaskan preferensi ini didasarkan pada proyeksi bahwa Bank Indonesia (BI) tidak akan melonggarkan kebijakan moneternya secara seagresif tahun sebelumnya. “Tahun lalu, suku bunga turun hingga lima kali, namun untuk tahun ini, kami memperkirakan hanya dua kali penurunan. Oleh karena itu, kami lebih memilih tenor menengah, tidak terlalu panjang maupun terlalu pendek, idealnya sekitar 3 hingga 5 tahun,” paparnya. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian dalam menyikapi arah kebijakan moneter yang diperkirakan lebih moderat.
Untuk alokasi pada saham, Arfan Karniody menekankan pentingnya sikap adaptif dan responsif dalam penyesuaian portofolio. Dalam mengelola reksadana saham dan campuran, KIM Indonesia memprioritaskan pemilihan saham-saham yang sedang diminati pasar. “Kami harus selalu beradaptasi. Perubahan adalah sebuah keniscayaan,” tegas Arfan. Ia melanjutkan, “Jika saham blue chip sedang tidak memiliki daya tarik, kami tidak ragu untuk beralih ke saham-saham yang sedang populer atau diminati banyak investor, seperti saham-saham konglomerat. Namun, keputusan ini selalu didasari pada pertimbangan valuasi yang cermat dan fundamental bisnis yang kuat. Kami sangat terbuka terhadap perubahan.” Hal ini menunjukkan strategi yang fleksibel namun tetap berpegang pada prinsip analisis fundamental.
Ringkasan
PT KISI Asset Management telah resmi bertransformasi menjadi PT Korea Investment Management Indonesia (KIM Indonesia) dengan ambisi menargetkan pertumbuhan dana kelolaan (AUM) sebesar 30% pada tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, KIM Indonesia akan meluncurkan empat hingga enam produk reksadana baru sepanjang tahun 2026, sebagian besar berfokus pada reksadana pendapatan tetap dan terproteksi, termasuk satu produk inovatif pada kuartal II-2026.
Presiden Direktur KIM Indonesia, Arfan Karniody, optimis terhadap pertumbuhan industri reksadana di Indonesia, dengan reksadana pendapatan tetap dan pasar uang diproyeksikan memimpin. Dalam strategi investasinya, KIM Indonesia cenderung memilih obligasi bertenor menengah sekitar 3-5 tahun. Untuk saham, perusahaan menerapkan pendekatan adaptif, memprioritaskan pemilihan saham yang sedang diminati pasar berdasarkan valuasi cermat dan fundamental bisnis yang kuat.