Asing Jual Saham Rp490 Miliar, Konflik Timur Tengah Bikin IHSG Tertekan!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memicu sentimen *risk-off* di pasar keuangan global. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tertekan, terutama karena adanya arus modal keluar (net sell) dari investor asing di pasar saham domestik.

Data perdagangan pada Senin, 2 Maret 2026, menunjukkan investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler senilai sekitar Rp490 miliar. Aksi jual ini mengindikasikan bahwa investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko di negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.

Reza Diofanda, analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, berpendapat bahwa tekanan pasar saat ini tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong pelaku pasar global untuk beralih ke aset-aset yang lebih aman (safe haven).

“Ketika sentimen geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi alokasi dana pada saham dan memilih aset yang lebih defensif. Hal ini berdampak pada pasar negara berkembang melalui arus dana asing yang keluar,” jelasnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Masih Imbas Perang Timur Tengah, IHSG Diproyeksikan Kembali Terkoreksi Besok (3/3)

Sejumlah saham menjadi target utama aksi jual investor asing, di antaranya MEDC, BBCA, BBNI, BMRI, ELSA, EMAS, INCO, HRTA, CUAN, hingga BUMI. Pelepasan saham-saham ini menunjukkan bahwa investor global masih melakukan penyesuaian portofolio sambil mencermati perkembangan konflik dan stabilitas pasar global.

Namun, tekanan pada pasar saham domestik relatif tertahan karena saham-saham berbasis komoditas masih menarik minat pasar, sejalan dengan kenaikan harga energi dan emas di pasar global.

Kondisi ini, menurut Reza, membuka peluang trading jangka pendek pada saham sektor energi dan pertambangan. Ia merekomendasikan strategi trading buy untuk MEDC di area Rp1.900-Rp1.950 dengan target Rp2.060-Rp2.130 dan stop loss di bawah Rp1.800.

Selain itu, peluang juga terlihat pada DOID di kisaran Rp308-Rp312 dengan target Rp324-Rp338 serta stop loss di bawah Rp304, serta HRUM pada rentang Rp1.170-Rp1.200 dengan target Rp1.239-Rp1.275 dan batas risiko di bawah Rp1.140.

Reza menambahkan bahwa selama ketidakpastian geopolitik masih berlanjut, pergerakan IHSG berpotensi tetap fluktuatif dalam jangka pendek. Oleh karena itu, ia menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham dan menghindari keputusan panic selling di tengah volatilitas pasar.

Ringkasan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global, berdampak pada IHSG dengan adanya net sell oleh investor asing senilai Rp490 miliar pada 2 Maret 2026. Investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia, karena ketidakpastian global.

Beberapa saham seperti MEDC, BBCA, dan BBNI menjadi target utama aksi jual asing, meskipun saham komoditas masih menarik minat. Analis merekomendasikan strategi trading buy untuk saham sektor energi dan pertambangan seperti MEDC, DOID, dan HRUM. Investor disarankan untuk selektif dan menghindari panic selling selama ketidakpastian geopolitik masih berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *