Shoesmart.co.id, JAKARTA. Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan dengan arus dana asing yang keluar dalam beberapa waktu terakhir. Kendati demikian, di tengah tekanan ini, sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip justru tetap menjadi incaran investor global.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), tercatat aliran dana asing keluar sebesar Rp 2,51 triliun di pasar reguler dan Rp 2,93 triliun di seluruh pasar dalam sepekan terakhir. Secara bulanan, foreign outflow di pasar reguler mencapai Rp 8 triliun, meskipun secara kumulatif masih menunjukkan net buy sebesar Rp 2 triliun di seluruh pasar.
Harga Melemah, Analis Rekomendasi Saham Blue Chip LQ45 Layak Beli Mulai Hari Ini 26/9
Di tengah arus modal asing yang keluar, beberapa saham tetap mencatatkan akumulasi pembelian oleh investor asing. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin dengan net buy sebesar Rp 1,7 triliun dalam sebulan terakhir. Menyusul kemudian PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan Rp 955,2 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 670,5 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 578,4 miliar, serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp 422,1 miliar.
Selain itu, investor asing juga aktif melakukan pembelian bersih pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 403 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 359,3 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 320,1 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 291,4 miliar, dan PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 282,3 miliar.
Menurut Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, fenomena ini mengindikasikan strategi akumulasi selektif yang diterapkan oleh investor institusi global. “Mereka cenderung mengonsolidasikan portofolio pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki visibilitas laba yang kuat,” jelasnya.
Saham Blue Chip Bank Diserbu Asing, Investor Ritel Baiknya Beli yang Mana?
Lebih lanjut, Imam Gunadi menjelaskan bahwa saham-saham tersebut memiliki likuiditas yang tinggi, neraca keuangan yang solid, serta eksposur terhadap sektor-sektor inti ekonomi domestik, seperti perbankan, energi, dan infrastruktur digital. Koreksi harga saham yang terjadi belakangan ini juga membuka peluang bagi investor asing untuk kembali masuk secara bertahap.
Senada dengan hal tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa valuasi saham blue chip saat ini relatif menarik jika dilihat dari catatan historis. Tingkat likuiditas yang tinggi menjadikan saham-saham penggerak pasar tetap menjadi tujuan utama aliran dana global.
Liza juga menyoroti bahwa sektor energi dan pertambangan mendapatkan sentimen positif tambahan dari ketidakpastian global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan permintaan komoditas energi. “Secara keseluruhan, koreksi harga di berbagai sektor menciptakan titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang,” ungkap Liza.
Laporan Keuangan TW 3 2025 Segera Keluar, Saham Blue Chip Ini Jangan Dilewatkan!
Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpendapat bahwa investor asing cenderung memilih saham blue chip yang stabil dan menawarkan dividen yang menarik di tengah volatilitas global. Sektor perbankan besar, energi, dan telekomunikasi diperkirakan masih akan menjadi fokus akumulasi, meskipun rotasi sektor tetap mungkin terjadi seiring dengan perubahan kondisi ekonomi global.
Dari sisi fundamental, kinerja emiten yang banyak dibeli oleh investor asing dinilai masih solid. Perbankan besar seperti BMRI didukung oleh pertumbuhan kredit yang tetap kuat dan margin bunga yang terjaga. Sementara itu, emiten komoditas seperti PTBA dan AADI masih ditopang oleh permintaan energi global. TLKM dan ISAT juga memiliki prospek pertumbuhan yang baik dari ekspansi layanan data dan pengembangan infrastruktur digital, termasuk jaringan 5G.
Kendati demikian, para analis memperingatkan bahwa arus dana asing dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif, terutama dipengaruhi oleh arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta risiko geopolitik.
Harga 4 Saham Blue Chip Bank Rontok, Manakah yang Layak Beli Hari Ini (3/10)?
Namun, jika ekspektasi penurunan suku bunga global semakin jelas dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang mereda, arus dana asing berpeluang untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia secara bertahap.
Untuk rekomendasi investasi, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham, BMRI Rp 6.200, ASII Rp 7.450, ADRO Rp 2.630, dan UNTR Rp 33.000 per saham. Sementara itu, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan beli TLKM dengan target harga Rp 3.260 per saham.
Ringkasan
Di tengah arus dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia, beberapa saham blue chip justru menjadi incaran investor global. Meskipun tercatat foreign outflow, beberapa saham seperti BMRI, UNTR, TLKM, ASII, dan PTBA mencatatkan akumulasi pembelian oleh investor asing dalam sebulan terakhir.
Analis berpendapat bahwa investor institusi global melakukan akumulasi selektif pada saham berkapitalisasi besar dengan visibilitas laba yang kuat, likuiditas tinggi, dan neraca keuangan yang solid. Sektor perbankan, energi, dan infrastruktur digital menjadi fokus, dengan koreksi harga saham menciptakan peluang masuk yang menarik bagi investor jangka panjang.