Asing Borong Saham Blue Chip: Peluang Cuan di Tengah Net Sell?

Shoesmart.co.id Jakarta. Di tengah gelombang aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang melanda Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Maret 2026, sejumlah saham blue chip justru menjadi incaran. Pertanyaan yang muncul, apakah saham-saham unggulan ini menjanjikan keuntungan (cuan) di masa depan?

Data perdagangan menunjukkan bahwa pada 12 Maret 2026, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 2,51 triliun di pasar reguler dan Rp 2,93 triliun di seluruh pasar dalam sepekan terakhir. Dalam sebulan terakhir, dana asing yang keluar dari pasar reguler mencapai sekitar Rp 8 triliun. Namun, secara keseluruhan, pasar masih mencatatkan net buy sekitar Rp 2 triliun.

Menariknya, di tengah arus penjualan tersebut, beberapa saham justru mengalami akumulasi oleh investor asing. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin dengan net buy terbesar, mencapai Rp 1,7 triliun dalam sebulan terakhir.

Selain BMRI, saham-saham berikut juga banyak diborong investor asing:

Saham dengan Net Buy Asing Terbesar (1 Bulan)

* PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 955,2 miliar
* PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 670,5 miliar
* PT Astra International Tbk (ASII): Rp 578,4 miliar
* PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp 422,1 miliar
* PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 403 miliar
* PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 359,3 miliar
* PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 320,1 miliar
* PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Rp 291,4 miliar
* PT Indosat Tbk (ISAT): Rp 282,3 miliar

Investor Asing Lakukan Akumulasi Selektif

Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, berpendapat bahwa akumulasi saham-saham tersebut mencerminkan pola selective accumulation oleh investor institusi global. Investor asing cenderung mengonsolidasikan portofolio mereka pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan laba yang jelas.

“Investor global cenderung melakukan konsolidasi portofolio pada saham berkapitalisasi besar dengan fundamental earnings visibility yang relatif kuat,” ungkap Imam kepada Kontan.co.id, Kamis (12/3).

Saham-saham ini juga memiliki likuiditas tinggi, struktur neraca yang solid, serta eksposur pada sektor-sektor inti ekonomi seperti perbankan, energi, dan infrastruktur digital. Koreksi pasar yang terjadi baru-baru ini juga membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih menarik, sehingga membuka peluang bagi investor asing untuk melakukan re-entry secara bertahap.

Valuasi Atraktif Jadi Daya Tarik

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyoroti beberapa katalis yang mendorong akumulasi asing pada saham-saham tersebut. Pertama, valuasi saham blue chip saat ini dianggap lebih atraktif secara historis, menawarkan dividend yield yang menarik. Kedua, saham-saham ini memiliki likuiditas tinggi, menjadikannya tujuan utama aliran dana investor asing.

Di sektor energi, eskalasi konflik di Timur Tengah juga memicu ekspektasi peningkatan permintaan komoditas seperti batubara dan logam.

“Secara keseluruhan, koreksi harga pada berbagai sektor telah menciptakan titik masuk yang strategis bagi investor jangka panjang,” kata Liza.

IHSG Turun 0,36% ke 7.362, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Kamis (12/3)

Prospek Arus Dana Asing Masih Fluktuatif

Abida Massi Armand, Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa saham-saham tersebut tetap menarik karena didukung oleh kapitalisasi pasar yang besar, likuiditas tinggi, serta fundamental yang solid. Meskipun demikian, arus dana asing ke pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak fluktuatif, seiring dengan ketidakpastian global dan arah kebijakan suku bunga internasional.

Menurut Imam, arah arus dana global sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta premi risiko emerging markets. Jika ekspektasi penurunan suku bunga global semakin kuat dan tekanan terhadap mata uang emerging markets mereda, maka arus dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar Indonesia.

“Potensi kembalinya arus dana asing biasanya terlihat ketika visibilitas siklus pelonggaran moneter global semakin jelas,” ujarnya.

Rekomendasi Saham Analis

Abida merekomendasikan beli untuk beberapa saham berikut:

* TLKM dengan target harga Rp 4.000
* BMRI dengan target harga Rp 6.200
* ASII dengan target harga Rp 7.450
* ADRO dengan target harga Rp 2.630
* UNTR dengan target harga Rp 33.000

Sementara itu, Imam juga merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.260 per saham.

Pada perdagangan Kamis (12/3/2026), harga saham TLKM ditutup di level Rp 3.020 atau naik 20 poin (0,67%) dibandingkan sehari sebelumnya. Meskipun demikian, dalam 30 hari terakhir saham TLKM masih terkoreksi sekitar 540 poin atau turun 15,17%.

Ringkasan

Meskipun investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) signifikan di pasar saham Indonesia pada Maret 2026, terdapat beberapa saham blue chip yang justru mengalami akumulasi. Saham-saham seperti BMRI, UNTR, TLKM, ASII, dan PTBA menjadi incaran investor asing karena fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, dan valuasi yang dianggap atraktif setelah koreksi pasar.

Analis berpendapat bahwa akumulasi ini mencerminkan strategi selective accumulation oleh investor institusi global yang mengutamakan saham berkapitalisasi besar dengan prospek pertumbuhan laba yang jelas. Valuasi saham yang lebih menarik dan ekspektasi peningkatan permintaan komoditas, terutama di sektor energi, juga menjadi katalis bagi masuknya dana asing ke saham-saham tersebut, meskipun arus dana asing dalam jangka pendek diperkirakan masih fluktuatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *