PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan sepanjang tahun 2025. Baik laba bersih maupun pendapatan perusahaan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Jumat (27/2/2026), Astra International (ASII) membukukan laba bersih sebesar Rp 32,76 triliun pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 3,33% dibandingkan dengan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 33,9 triliun.
Akibatnya, laba per saham ASII juga mengalami penurunan, dari Rp 837 menjadi Rp 810 per saham.
Dari sisi pendapatan, Astra mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 323,39 triliun pada tahun 2025. Pendapatan ini lebih rendah 1,54% dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 328,48 triliun.
Astra International (ASII) Akan Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun
Secara rinci, kontribusi pendapatan bersih berasal dari berbagai segmen bisnis. Segmen otomotif dan mobilitas menyumbang Rp 125,65 triliun, jasa keuangan Rp 33,44 triliun, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Rp 131,3 triliun, agribisnis Rp 28,65 triliun, infrastruktur Rp 3,16 triliun, teknologi informasi Rp 2,99 triliun, dan properti Rp 1,13 triliun.
Setelah dikurangi eliminasi sebesar Rp 2,95 triliun, total pendapatan konsolidasian Astra menjadi Rp 323,39 triliun.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa penurunan laba Grup Astra pada tahun 2025 terutama disebabkan oleh penurunan harga batu bara dan melemahnya pasar mobil baru.
“Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujarnya.
Menatap ke depan, Djony memperkirakan bahwa sejumlah segmen usaha masih akan menghadapi tantangan operasional. Meskipun demikian, Astra International memperkirakan sentimen konsumen secara umum akan menunjukkan perbaikan.
Astra International (ASII) Hentikan Buyback Saham Lebih Cepat, Ini Alasannya
“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” tegas Djony.
Rincian Kinerja Bisnis Inti Astra di Tahun 2025
Otomotif & Mobilitas
Laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas Grup Astra stabil di angka Rp 11,4 triliun. Stabilitas ini didukung oleh kinerja bisnis sepeda motor dan komponen, meskipun volume penjualan mobil mengalami penurunan akibat pasar nasional yang lesu.
Penjualan mobil nasional tercatat turun 7% menjadi 804.000 unit pada tahun 2025, mencerminkan melemahnya daya beli, terutama di segmen *entry-level*. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Astra berhasil mempertahankan pangsa pasar sebesar 51%.
Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional naik tipis 1% menjadi 6,4 juta unit pada tahun 2025, dengan PT Astra Honda Motor mempertahankan pangsa pasar yang stabil di level 78%.
Begini Rencana Investasi Astra International (ASII) di Sektor Kesehatan
Kontribusi laba bersih dari bisnis komponen otomotif melalui PT Astra Otoparts Tbk meningkat signifikan sebesar 18% menjadi Rp 1,8 triliun, dengan pertumbuhan kontribusi dari seluruh segmen.
Serasi Autoraya, lini bisnis solusi transportasi dan logistik, mencatatkan peningkatan jumlah unit kontrak sebesar 3% menjadi 28.400 unit. OLXmobbi, bisnis mobil bekas grup Astra, membukukan kenaikan penjualan sebesar 21% menjadi 33.100 unit.
Jasa Keuangan
Divisi Jasa Keuangan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp 9 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen, seiring dengan pertumbuhan portofolio pembiayaan.
Nilai pembiayaan baru meningkat 5% menjadi Rp 112,3 triliun (tidak termasuk *dealer financing*), terutama dari pembiayaan multiguna.
Gelar RUPSLB Rombak Komisaris dan Direksi, Saham Astra International (ASII) Menguat
Kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil naik 3% menjadi Rp 2,5 triliun. PT Federal International Finance (FIF) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp 4,7 triliun.
Pembiayaan alat berat meningkat 11% menjadi Rp 13,9 triliun, dengan kontribusi laba bersih naik 5% menjadi Rp 223 miliar.
PT Asuransi Astra Buana mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp 1,6 triliun, berkat peningkatan pendapatan *underwriting* dan hasil investasi. Sementara itu, PT Asuransi Jiwa Astra membukukan laba bersih sebesar Rp 126 miliar.
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih divisi ini mengalami penurunan sebesar 24% menjadi Rp 9,1 triliun. Penurunan kinerja jasa penambangan dan pertambangan batu bara hanya sebagian diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis emas.
Penjualan alat berat Komatsu naik 2% menjadi 4.500 unit, terutama didorong oleh sektor kehutanan dan perkebunan.
PT Pamapersada Nusantara, penyedia jasa penambangan, mencatatkan penurunan volume pengupasan lapisan tanah sebesar 10% menjadi 1,1 miliar *bank cubic metres* akibat curah hujan yang lebih tinggi serta penurunan *stripping ratio* pada sebagian kontrak.
Anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) di bisnis batu bara membukukan penjualan 11,6 juta ton (termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi), naik dari 10,2 juta ton pada tahun 2024. Namun, pendapatan tetap tertekan akibat harga batu bara yang lebih rendah.
Diversifikasi Astra International (ASII) ke Sektor Kesehatan Dinilai Menjanjikan
Bisnis emas diuntungkan oleh kenaikan harga jual rata-rata emas sebesar 40%, meskipun volume penjualan turun 2% menjadi 227.000 *oz*.
Bisnis nikel mencakup PT Stargate Pasific Resources dan Nickel Industries Limited (NIC), di mana Astra membukukan bagian laba ekuitas NIC berdasarkan periode laporan yang berbeda.
Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis mengalami kenaikan signifikan sebesar 28% menjadi Rp 1,2 triliun. Harga CPO meningkat 11% menjadi Rp 14.316/kg, sementara volume penjualan CPO dan turunannya naik 13% menjadi 1,8 juta ton.
Infrastruktur
Divisi Infrastruktur mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 24% menjadi Rp 1,3 triliun, ditopang oleh tarif tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Pendapatan harian dari konsesi jalan tol meningkat 8%.
Penjualan Mobil Astra International (ASII) Turun 24,59% Hingga Oktober 2025
Teknologi Informasi
Laba bersih divisi Teknologi Informasi naik 33% menjadi Rp 208 miliar, didorong oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi TI dan peningkatan margin usaha.
Properti
Divisi Properti membukukan lonjakan laba bersih sebesar 224% menjadi Rp 719 miliar, terutama berasal dari tambahan aset gudang industri yang baru diakuisisi serta pengakuan *goodwill* negatif dari akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk.
Ringkasan
Pada tahun 2025, PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan kinerja keuangan, dengan laba bersih tercatat sebesar Rp 32,76 triliun, turun 3,33% dibandingkan tahun 2024. Pendapatan bersih perusahaan juga mengalami penurunan sebesar 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan harga batu bara dan melemahnya pasar mobil baru, meskipun beberapa segmen bisnis lain menunjukkan kinerja yang baik.
Meskipun mengalami penurunan, beberapa divisi bisnis ASII menunjukkan pertumbuhan atau stabilitas. Divisi Jasa Keuangan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 9%, sementara divisi Agribisnis dan Infrastruktur juga mengalami kenaikan signifikan. Astra tetap fokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan, meskipun dihadapkan dengan tantangan operasional di beberapa segmen usaha.