Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) secara resmi melepas 8,48 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS pada hari Jumat (10/4) waktu setempat. Langkah ini merupakan upaya untuk menstabilkan harga bahan bakar yang meroket akibat tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Minyak mentah ini disalurkan sebagai pinjaman kepada empat perusahaan energi terkemuka di Amerika Serikat.
Pelepasan cadangan minyak strategis ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Tujuannya adalah meredam dampak lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik antara AS-Israel dan Iran. Empat perusahaan yang menerima pinjaman minyak ini adalah Gunvor USA, Phillips 66 Company, Trafigura Trading, dan Macquarie Commodities Trading.
Menurut laporan Reuters, penyaluran ini merupakan bagian dari rencana besar AS untuk meminjamkan total 172 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka hingga tahun 2027. Inisiatif ini sejalan dengan kesepakatan internasional bersama 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) yang berkomitmen untuk melepaskan total 400 juta barel minyak ke pasar global. Kerja sama global ini menjadi krusial untuk menstabilkan pasokan energi dunia.
IEA mencatat bahwa perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah menyebabkan gangguan pasokan minyak paling parah dalam sejarah. Oleh karena itu, intervensi melalui pelepasan cadangan minyak strategis menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar energi global.
Baca juga:
- Pertaruhan di Islamabad: Saling Gertak Iran dan AS di Meja Perundingan
- Trump Isyaratkan AS Akan Buka Paksa Selat Hormuz, Bakal Libatkan NATO?
- BEI Bakal Delisting 18 Emiten 10 November, Salah Satunya Sritex (SRIL)
Sejarah pembentukan SPR, atau Cadangan Minyak Strategis, berawal dari krisis energi dunia pada tahun 1973-1974. Kala itu, embargo minyak oleh negara-negara Arab menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang melumpuhkan ekonomi Amerika Serikat. Dampak krisis ini sangat dirasakan, mendorong perlunya langkah antisipatif.
Sebagai respons terhadap krisis tersebut, Presiden AS saat itu, Gerald Ford, menandatangani Undang-Undang Kebijakan dan Konservasi Energi pada tahun 1975. Undang-undang ini mengamanatkan pembangunan bunker penyimpanan minyak mentah bawah tanah di pesisir Teluk Meksiko. Tujuannya adalah untuk melindungi negara dari potensi gangguan pasokan energi di masa depan.
Selama puluhan tahun, SPR telah menjadi benteng pertahanan energi AS. Cadangan ini disimpan dalam gua-gua garam raksasa di Texas dan Louisiana. Biasanya, cadangan ini hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat ekstrem, seperti bencana alam hebat atau konflik militer berskala besar yang mengancam stabilitas global. Pelepasan SPR saat ini mengindikasikan betapa signifikannya dampak perang di Timur Tengah terhadap keamanan energi Amerika dan dunia.
Mekanisme penyaluran minyak kali ini menggunakan sistem pinjaman. Perusahaan penerima wajib mengembalikan minyak tersebut dengan tambahan barel sebagai premi. Pihak DOE menekankan bahwa sistem ini efektif untuk menstabilkan pasar secara cepat tanpa membebani keuangan pembayar pajak di AS.
Pada tahap pertama penyaluran pinjaman minyak SPR bulan lalu, perusahaan energi hanya menyerap sekitar 52 persen dari kuota yang ditawarkan. Meskipun demikian, Pemerintah AS tetap optimistis bahwa intervensi berkelanjutan ini akan mampu mengendalikan volatilitas harga di tingkat konsumen dan menjaga stabilitas ekonomi.
Ringkasan
Departemen Energi AS melepas 8,48 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) untuk menstabilkan harga bahan bakar akibat tensi geopolitik di Timur Tengah. Minyak ini dipinjamkan kepada empat perusahaan energi, Gunvor USA, Phillips 66 Company, Trafigura Trading, dan Macquarie Commodities Trading, sebagai bagian dari rencana meminjamkan total 172 juta barel hingga 2027.
Pelepasan SPR ini sejalan dengan kesepakatan internasional untuk melepaskan 400 juta barel minyak ke pasar global karena gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah. SPR dibentuk setelah krisis energi 1973-1974, dan penyaluran minyak menggunakan sistem pinjaman di mana perusahaan mengembalikan minyak dengan tambahan barel sebagai premi.