AS-Iran Tegang, Wall Street Tertekan, Harga Minyak Terbang!

Shoesmart.co.id, NEW YORK – Wall Street mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (28/5/2026), setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi. Sentimen pasar tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan prospek perdamaian. Selain itu, investor juga mencermati rilis data inflasi terbaru dari Negeri Paman Sam.

Laporan menyebutkan bahwa Teheran menargetkan pangkalan militer AS, menyusul serangan baru yang dilancarkan oleh Washington. Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan tentang potensi kompromi dengan Iran.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak melonjak hampir 3%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan tipis. Terhambatnya lalu lintas di Selat Hormuz semakin memperburuk kekhawatiran pasar terkait potensi tekanan inflasi global.

Dari sisi ekonomi, data menunjukkan bahwa inflasi AS pada bulan April 2026 mengalami peningkatan paling signifikan dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh melonjaknya harga energi akibat konflik Iran.

Angelo Kourkafas, Senior Global Investment Strategist di Edward Jones, berpendapat, “Menurut saya, data ini tidak mengubah narasi pasar secara fundamental. Angka-angkanya tidak separah yang dikhawatirkan, sehingga sedikit meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga.”

“Fokus pasar akan tetap tertuju pada perkembangan negosiasi dengan Iran dan tren kecerdasan buatan (AI). Kedua faktor inilah yang akan menjadi penggerak utama pasar saham,” tambahnya.

IHSG Diproyeksikan Bergerak Terbatas pada Jumat (29/5), Cermati Rekomendasi Analis

Pada pukul 10:01 pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 110,97 poin atau 0,22% ke level 50.533,31. Indeks S&P 500 naik tipis 1,71 poin atau 0,02% menjadi 7.521,68, sementara Nasdaq Composite melemah 6,80 poin atau 0,02% ke posisi 26.667,93.

Sebanyak enam dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 berada di zona merah. Sektor industri mencatatkan penurunan paling signifikan, yaitu sebesar 1,1%.

Saham Caterpillar menjadi salah satu pemberat utama indeks Dow Jones dengan penurunan sebesar 3%. Sektor penerbangan juga mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak, dengan saham American Airlines, JetBlue, dan Southwest Airlines masing-masing melemah antara 1,5% hingga 2,2%.

Sektor *consumer discretionary* juga mengalami penurunan sebesar 0,7%, setelah sebelumnya menguat hampir 2% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Optimisme AI dan Kinerja Emiten Masih Jadi Penopang Pasar

Optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta kinerja keuangan perusahaan yang solid masih menjadi faktor utama yang menopang reli pasar saham AS dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Rabu (27/5).

Indeks S&P 500 juga berada dalam jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kesembilan berturut-turut, yang merupakan reli terpanjang sejak Desember 2023.

Saham Marvell Technology melonjak 2,2% setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas ekspektasi pasar. Sepanjang tahun ini, saham perusahaan tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Rupiah Tembus Rp 17.846 per Dolar AS, Defisit APBN dan Arus Modal Keluar Jadi Sorotan

Sementara itu, saham Snowflake meroket 34% setelah perusahaan analitik data tersebut menaikkan proyeksi pendapatan produk tahunan dan mengumumkan kontrak infrastruktur AI selama lima tahun senilai US$ 6 miliar dengan Amazon Web Services.

Kenaikan juga terlihat pada saham perusahaan teknologi lainnya, seperti Datadog yang naik 1,1% dan MongoDB yang melonjak 9,8%.

Di sektor ritel, saham Dollar Tree menguat 16,8% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahunan. Saham Best Buy juga naik 13,5% setelah memproyeksikan penjualan kuartal kedua melampaui estimasi analis.

Saham Kohl’s melonjak 18,5% setelah perusahaan melaporkan penjualan kuartalan yang sesuai dengan ekspektasi pasar dan tetap mempertahankan target tahunan.

Saham perusahaan drone juga mengalami penguatan, menyusul laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pendanaan untuk perusahaan drone. Saham Unusual Machines melonjak 40,1%, sedangkan AeroVironment dan Kratos Defense & Security Solutions masing-masing naik 14,5% dan 12,7%.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan masih lebih banyak dibandingkan dengan saham yang naik, dengan rasio 1,48 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE) dan 1,28 banding 1 di Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat tujuh saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan tujuh saham yang mencatatkan level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 49 saham di level tertinggi baru dan 43 saham di posisi terendah baru.

Ringkasan

Wall Street mengalami koreksi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta rilis data inflasi AS. Ketegangan ini mendorong harga minyak melonjak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Data inflasi AS bulan April juga menunjukkan peningkatan signifikan yang didorong oleh kenaikan harga energi.

Meskipun demikian, optimisme terhadap perkembangan teknologi AI dan kinerja keuangan perusahaan yang solid masih menjadi penopang pasar. Beberapa saham teknologi seperti Marvell Technology dan Snowflake mengalami kenaikan signifikan setelah pengumuman pendapatan dan kontrak baru, sementara saham ritel seperti Dollar Tree dan Best Buy juga naik setelah proyeksi laba yang optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *