Arab Saudi Hadang Drone Iran di Jalur Energi Vital!

Militer Arab Saudi mengumumkan keberhasilannya mencegat dan menghancurkan puluhan drone dalam beberapa jam pada hari Sabtu (21/3), menandai peningkatan ketegangan di kawasan Teluk. Eskalasi ini terjadi setelah Iran mengancam serangan balasan tanpa batas terhadap infrastruktur energi, sebagai respons terhadap pengeboman ladang gas South Pars di Iran oleh Israel pada awal pekan ini.

Kementerian Pertahanan Saudi, seperti dikutip dari Arab News, melaporkan bahwa setidaknya 51 serangan drone terdeteksi terkonsentrasi di Provinsi Timur, yang merupakan pusat ladang minyak dan kilang-kilang besar milik kerajaan. Secara kumulatif, sejak Jumat (20/3), total 92 drone telah berhasil dihalau.

Sejak konflik antara AS-Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari, Arab Saudi telah menghadapi total 575 serangan udara drone, 42 rudal balistik, dan tujuh rudal jelajah. Serangan tidak hanya terbatas di wilayah timur.

Pada Kamis (19/1), sebuah drone dilaporkan menghantam kilang Samref di Yanbu, sebuah fasilitas patungan antara Saudi Aramco dan ExxonMobil yang terletak di pesisir Laut Merah. Meskipun penilaian kerusakan masih berlangsung, insiden ini menambah daftar panjang gangguan terhadap rantai pasokan energi global.

Baca juga:
* Setelah Sapa Warga, Prabowo Dijadwalkan Bertemu SBY dan Jokowi di Istana
* Di Bawah Bayang Perang, Iran Tetap Gelar Salat Idulfitri
* Prabowo Sapa Langsung Warga di Istana, Beri Paket Sembako dan Uang Tunai

“Sikap menahan diri Arab Saudi dalam menghadapi agresi ini bukannya tanpa batas,” tegas Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, memberikan peringatan keras kepada Iran.

Situasi serupa juga dialami oleh negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan telah mencegat tiga rudal balistik dan sejumlah drone pada hari Sabtu. Sejak akhir Februari, UEA telah menghadapi total 1.748 drone, 341 rudal balistik, dan 15 rudal jelajah.

Kuwait melaporkan serangan berulang terhadap kilang Mina Al-Ahmadi, yang menyebabkan kebakaran di beberapa unit operasional. Sementara itu, Bahrain mengklaim telah menghancurkan 143 rudal dan 242 drone sejak awal serangan Iran. Qatar juga mengalami gangguan pada kapasitas ekspor LNG setelah fasilitas di Ras Laffan terdampak serangan rudal.

Rentetan serangan terhadap infrastruktur energi vital ini telah mengguncang pasar komoditas global. Harga minyak mentah Brent terus berfluktuasi di sekitar US$ 119,50 per barel. Para analis energi memperingatkan bahwa selama Selat Hormuz masih terganggu dan infrastruktur energi terus menjadi sasaran empuk, tekanan inflasi energi global akan sulit untuk diredam.

Di sisi lain, industri penerbangan mulai bersiap menghadapi skenario terburuk. CEO United Airlines, Scott Kirby, menyatakan bahwa perusahaannya sedang mempersiapkan diri jika harga minyak mencapai US$ 175 per barel. Tekanan biaya bahan bakar jet yang membengkak hingga US$ 11 miliar per tahun memaksa maskapai untuk melakukan efisiensi besar-besaran di tengah ketidakpastian perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Ringkasan

Arab Saudi mengumumkan keberhasilannya mencegat puluhan drone dalam beberapa jam, menyusul ancaman serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi vital. Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan deteksi 51 serangan drone terkonsentrasi di Provinsi Timur, pusat ladang minyak dan kilang besar. Sejak konflik dimulai, Arab Saudi telah menghadapi ratusan serangan drone dan rudal.

Serangan serupa juga dialami negara-negara tetangga di kawasan Teluk, seperti UEA, Kuwait, Bahrain, dan Qatar, yang menargetkan infrastruktur energi. Rentetan serangan ini mengguncang pasar komoditas global, menyebabkan fluktuasi harga minyak. Industri penerbangan pun bersiap menghadapi skenario terburuk dengan potensi kenaikan harga minyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *