Ancaman Rating Turun Hantui IHSG & Rupiah: Investor Panik?

Shoesmart.co.id JAKARTA/SINGAPURA. Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan terdalam dalam dua hari terakhir sejak krisis keuangan Asia tahun 1998. Pemicunya adalah kekhawatiran penurunan peringkat pasar oleh MSCI yang memicu gelombang aksi jual oleh para investor.

IHSG sempat merosot hingga sekitar 8% sebelum akhirnya ditutup dengan penurunan sekitar 6% pada sesi pertama perdagangan. Penurunan tajam ini merupakan kelanjutan dari kejatuhan sebesar 7,4% pada hari Rabu (28/1/2026), yang bahkan memaksa otoritas bursa untuk memberlakukan penghentian perdagangan sementara atau *trading halt*. Kondisi ini oleh para pelaku pasar disebut sebagai aksi *panic selling*.

Teguran MSCI Diharapkan Jadi Titik Balik Transparansi di Pasar Modal Indonesia

Tekanan juga dirasakan di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,5% ke level Rp16.780 per dolar AS, mendekati rekor terendah yang terjadi pada pekan lalu, yaitu Rp16.985 per dolar AS.

Pemerintah berusaha menenangkan kepanikan yang terjadi di pasar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa gejolak ini bersifat sementara dan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kokoh. Sejumlah pejabat regulator keuangan dan otoritas bursa juga dijadwalkan untuk memberikan penjelasan resmi kepada media.

Sentimen negatif pasar semakin kuat setelah MSCI menyoroti masalah transparansi dan memperingatkan potensi penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang. Peringatan ini langsung direspons oleh para pelaku pasar global. Bank investasi Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi saham Indonesia, masing-masing menjadi “underweight” dan “netral”.

Efek MSCI, Investor Asing Kabur Rp 6,17 Triliun, IHSG Nyungsep 7,35% ke 8.320,56

Apabila penurunan peringkat benar-benar terjadi, dana investasi pasif yang mengacu pada indeks MSCI diperkirakan terpaksa menjual kepemilikan saham Indonesia. Manajer investasi aktif yang kinerjanya diukur berdasarkan tolok ukur indeks juga berpotensi melakukan aksi jual serupa.

Kekhawatiran investor semakin diperparah oleh arus keluar modal asing dan ketidakpastian kebijakan fiskal. Beberapa pelaku pasar menyoroti pelebaran defisit anggaran serta meningkatnya peran negara di pasar keuangan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Keputusan politik dan perubahan di jajaran otoritas ekonomi dinilai turut mengguncang kepercayaan pasar.

“Peringatan MSCI datang di waktu yang tidak tepat, di tengah berita makro yang negatif dan pelemahan rupiah,” ujar Gary Tan, manajer portofolio Allspring Global Investments yang berbasis di Singapura. Menurutnya, kondisi ini memicu respons cepat investor untuk menjual aset berisiko, meskipun ia masih melihat peluang perbaikan jika regulator meningkatkan transparansi pasar.

Danantara Bersiap Masuk Pasar Modal pada 2026, Ini Harapan BEI

Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana bisa mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar jika skenario penurunan peringkat terjadi. Meskipun demikian, bank tersebut menilai peluang terjadinya skenario tersebut masih relatif kecil. Namun, tekanan jangka pendek diperkirakan masih berlanjut seiring tantangan makro seperti lemahnya konsumsi, perlambatan kredit, dan defisit fiskal yang mendekati batas 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Data LSEG mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sebesar Rp13,96 triliun, menjadi arus keluar terburuk sejak tahun 2020. Tekanan jual tersebut masih berlanjut hingga Januari 2026, menandakan bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia masih rapuh.

Ringkasan

IHSG mengalami penurunan tajam, terburuk sejak krisis 1998, dipicu kekhawatiran penurunan peringkat oleh MSCI yang menyebabkan aksi jual oleh investor. Rupiah juga melemah mendekati level terendahnya terhadap dolar AS. Pemerintah berupaya menenangkan pasar dan menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

MSCI menyoroti masalah transparansi dan memperingatkan potensi penurunan status Indonesia. Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi saham Indonesia. Arus keluar modal asing dan ketidakpastian kebijakan fiskal memperparah kekhawatiran investor. Potensi arus keluar dana akibat penurunan peringkat diperkirakan mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *