ADHI: Analisis Saham, Rekomendasi, dan Target Harga Terbaru

Shoesmart.co.id JAKARTA – Kinerja PT Adhi Karya Tbk (ADHI) diproyeksikan akan menghadapi tekanan di awal tahun 2026. Hal ini menyusul rencana percepatan pembongkaran tiang monorel Jakarta yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, mundur menjadi bulan Januari 2026.

Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, telah membenarkan rencana pembongkaran tiang monorel tersebut. Saat ini, ADHI masih terus berkoordinasi dan berdiskusi intensif dengan Pemprov DKI Jakarta terkait langkah-langkah selanjutnya. Penting untuk diketahui, tiang monorel di sepanjang Jalan Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika merupakan aset milik ADHI. Kepemilikan ini sah berdasarkan Putusan Pengadilan Nomor 296/Pdt.G/2012/PN.JKT.Sel tanggal 22 Oktober 2012, serta diperkuat oleh pendapat hukum (legal opinion) dari Jaksa Pengacara Negara Nomor B.354/G/Gph.1/08/2017 tanggal 16 Agustus 2017.

Dalam menghadapi situasi ini, ADHI berkomitmen untuk menjaga komunikasi yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan, guna mencari solusi terbaik dan mendapatkan pendampingan yang diperlukan. Rozi menegaskan, “ADHI tetap berkomitmen untuk mewujudkan dan menjalin komunikasi yang baik untuk berkoordinasi dengan Pemprov DKI untuk memastikan seluruh proses rencana pembongkaran tiang eks monorail berjalan sesuai Tata Kelola Perusahaan dan seluruh ketentuan yang berlaku.”

UBS AG Kembali Jual Saham Bumi Resources (BUMI), Raup Rp 133,8 Miliar

Perlu dicatat, tiang monorel yang berada di Jalan Rasuna Said dan Kawasan Senayan ini telah terbengkalai selama kurang lebih dua dekade. Aset bekas tiang monorel tersebut kini tercatat dalam laporan keuangan ADHI pada pos aset tidak lancar lainnya, tepatnya sebagai bagian dari persediaan jangka panjang. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025, nilai pos persediaan jangka panjang ADHI tercatat sebesar Rp 52,68 miliar.

Menanggapi potensi dampak pembongkaran tiang monorel, Muhammad Wafi, Head of Research Kisi Sekuritas, memprediksi dampaknya akan bervariasi. Dalam jangka pendek, margin laba ADHI berpotensi negatif karena adanya aset yang harus dihapuskan, sehingga kemungkinan dapat menekan laba pada kuartal I 2026. Namun, Wafi meyakini arus kas ADHI akan relatif aman, sebab beban biaya pembongkaran tiang monorel sepenuhnya ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta. “Jangka panjang bisa berdampak positif, karena ini upaya ‘kitchen sinking’ supaya neraca dan kualitas aset ADHI lebih bersih,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (9/1/2026).

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat bahwa ADHI harus mampu melakukan mitigasi yang efektif untuk mengurangi tekanan pada margin dan gangguan pada arus kas akibat pembongkaran tiang monorel Jakarta ini. “ADHI harus berkomitmen penuh, bukan hanya tergantung kepada governance, tetapi juga mencari peluang dalam meningkatkan perolehan kontrak baru,” ujar Nafan kepada Kontan, Jumat.

Di sisi lain, Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai bahwa pembongkaran tiang monorel kemungkinan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ADHI. “Itu hanya pembongkaran, bukan pembangunan lanjutan. Jadi, tidak ada efek ke kinerja emiten,” tegasnya kepada Kontan, Jumat.

Proyeksi kinerja ADHI sepanjang tahun 2026 memang menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sektor infrastruktur yang masih penuh dinamika. Nafan menambahkan bahwa rencana merger BUMN karya berpotensi mendilusi aset dan menekan margin ADHI. Namun, “Jika merger bisa berjalan sukses, performa ADHI bisa meningkat dan arus kas sehat,” papar Nafan. Dengan demikian, ia merekomendasikan add untuk saham ADHI dengan target harga Rp 294 per saham.

Wafi melihat tahun 2026 sebagai tahun konsolidasi bagi ADHI. Sentimen positif yang dapat menopang kinerja berasal dari tren penurunan suku bunga dan rampungnya proyek LRT. Namun, tantangan utama yang dihadapi ADHI adalah rasio utang yang tinggi serta anggaran infrastruktur pemerintah yang ketat. Mengenai potensi merger dengan PT PP Tbk (PTPP), Wafi menilai hal itu bisa menekan valuasi dalam jangka pendek karena penyesuaian aset, tetapi akan berdampak positif dalam jangka panjang untuk spesialisasi bisnis dan efisiensi margin. Ia merekomendasikan trading buy untuk saham ADHI dengan target Rp 290 per saham.

7 Aplikasi Trading Emas Terbaik untuk Pemula

Dari sisi teknikal, William Hartanto melihat posisi saham ADHI saat ini bergerak dalam tren sideways, dengan level support di Rp 256 per saham dan resistance Rp 300 per saham. Ia merekomendasikan beli untuk ADHI dengan target harga di Rp 300 per saham. Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati pergerakan saham ADHI berada pada level support Rp 266 per saham dan resistance Rp 286 per saham. Herditya merekomendasikan trading buy untuk ADHI di rentang harga Rp 294 – Rp 300 per saham.

ADHI Chart by TradingView

Ringkasan

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) diproyeksikan menghadapi tekanan pada awal 2026 akibat rencana percepatan pembongkaran tiang monorel Jakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tiang-tiang di Jalan HR Rasuna Said dan Asia Afrika merupakan aset milik ADHI yang tercatat dalam laporan keuangan kuartal III 2025 senilai Rp 52,68 miliar sebagai persediaan jangka panjang. ADHI berkomitmen untuk berkoordinasi dengan Pemprov DKI guna memastikan proses pembongkaran berjalan sesuai tata kelola perusahaan.

Analis memiliki pandangan beragam terkait dampak pembongkaran ini. Muhammad Wafi dari Kisi Sekuritas memprediksi dampak negatif jangka pendek pada margin laba ADHI di Q1 2026, namun arus kas tetap aman karena biaya pembongkaran ditanggung Pemprov DKI. William Hartanto dari WH-Project berpendapat bahwa pembongkaran tidak akan signifikan memengaruhi kinerja emiten. Beberapa analis merekomendasikan “add” atau “trading buy” untuk saham ADHI dengan target harga di kisaran Rp 290-300.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *