
Awal 2026 menandai era baru bagi saham bank blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah melalui periode tekanan yang signifikan sepanjang tahun 2025, aset-aset fundamental ini kini memperlihatkan sinyal-sinyal kebangkitan. Fenomena ini segera memicu perdebatan di kalangan investor: apakah sekarang adalah saat yang optimal untuk mulai mengakumulasi saham bank blue chip?
Saham blue chip sendiri merujuk pada kategori saham lapis satu yang telah terbukti kematangannya di pasar modal, dikenal berkat fundamentalnya yang kokoh. Emiten-emiten ini umumnya merupakan perusahaan dengan kinerja keuangan yang stabil, menguasai pangsa pasar yang signifikan, serta memiliki kapitalisasi pasar fantastis, seringkali mencapai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah. Di ranah BEI, saham blue chip secara rutin masuk dalam jajaran indeks mayor prestisius seperti LQ45. Khusus di sektor perbankan, beberapa nama besar yang selalu menjadi sorotan investor antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Mengacu pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026), geliat positif terlihat pada beberapa saham bank blue chip. Saham BBRI misalnya, ditutup pada level 3.820, melesat 100 poin atau 2,69% dari hari sebelumnya. Secara year to date (YTD) sejak awal 2026, BBRI telah menguat impresif sebesar 180 poin, atau setara 4,95%.
Industri Kripto Bertumbuh, Exchanger Lokal Memperkuat Fundamental dan Ekspansi
Di sisi lain, saham BMRI juga mencatatkan kenaikan harian 150 poin atau 3,10% menuju level 4.990. Kendati demikian, performa BMRI secara YTD masih menunjukkan pelemahan akumulatif 85 poin atau 1,67% sejak awal tahun 2026. Sementara itu, saham BBNI tak ketinggalan, melonjak 180 poin atau 4,13% hingga menyentuh level 4.540 pada hari yang sama. Kinerja YTD BBNI bahkan lebih cemerlang, dengan akumulasi kenaikan 280 poin atau 6,57%.
Kenaikan harga saham bank ini bukan tanpa alasan; ia merefleksikan pemulihan sentimen pasar yang didorong oleh ekspektasi stabilisasi ekonomi dan kebijakan makro yang lebih kondusif. Di tengah tren rebound yang menjanjikan ini, sejumlah analis pasar mulai secara aktif merekomendasikan beli saham bank blue chip. Kebijakan makroekonomi diprediksi akan menjadi katalis utama yang secara signifikan membentuk lanskap industri perbankan sepanjang tahun 2026. Dengan mempertimbangkan kondisi ini, berikut adalah rekomendasi saham emiten perbankan pilihan untuk perdagangan Senin (19/1):
1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), atau akrab disapa BCA, menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan kredit mencapai 7,6% secara tahunan (year on year/yoy), menembus angka Rp 944 triliun per September 2025. Ekspansi kredit yang berkualitas ini ditopang oleh kondisi likuiditas yang tetap prima. Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA juga menguat 7,0% yoy, dengan CASA (Current Account Savings Account) sebagai pilar pendanaan utamanya. Dari aspek kinerja keuangan, laba bersih BCA beserta entitas anak berhasil tumbuh 5,7% yoy, mencapai Rp 43,4 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2025. Tak hanya itu, BCA secara agresif terus mendorong inovasi digital, termasuk implementasi QRIS Cross Border yang kini mempermudah transaksi di beberapa negara seperti Jepang melalui aplikasi myBCA.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 10.000
Analis: David Kurniawan – Indo Premier Sekuritas
2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih impresif sebesar Rp 41,2 triliun hingga kuartal III-2025. Sebagai garda terdepan dalam mendukung ekonomi kerakyatan, BRI konsisten mengukuhkan perannya melalui berbagai program strategis pemerintah. Hingga September 2025, BRI sukses menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, sebuah capaian yang merepresentasikan 74,4% dari total alokasi Rp 175 triliun. Untuk jangka panjang, BRI akan bertumpu pada dua pilar strategis: transformasi bisnis pendanaan dan penguatan bisnis inti yang berkelanjutan, termasuk ekspansi di segmen konsumer serta pengembangan layanan bullion atau bank emas.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 5.000
Analis: Budi Rustanto – OCBC Sekuritas
3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba bank only sebesar Rp 44,15 triliun per November 2025. Meskipun secara bulanan (month on month/MoM) laba bersih melonjak 28,7%, namun secara tahunan (year on year/YoY) tercatat penurunan 6,41%. Bank Mandiri secara konsisten menjaga fokus pada kualitas pendanaan dan pengelolaan likuiditas yang pruden. Penguatan strategi bisnis, inisiatif digitalisasi, serta kualitas aset dan permodalan yang prima menjadi landasan krusial bagi pertumbuhan perseroan dalam jangka menengah. Hingga November 2025, kredit Bank Mandiri telah tumbuh kuat 13,1% yoy, mencapai total Rp 1.452 triliun.
Rekomendasi: Hold
Target harga: Rp 5.300
Analis: James Stanley Widjadja – Henan Putihrai Sekuritas (Riset 5 Januari 2026)
4. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 15,12 triliun hingga akhir September 2025. Penyaluran kredit BNI menunjukkan pertumbuhan solid sebesar 10,5% yoy, mencapai Rp 812,2 triliun, dengan ekspansi yang merata di seluruh segmen bisnis, mengindikasikan portofolio kredit yang semakin sehat dan berkualitas. BNI terus memfokuskan diri pada penguatan kualitas portofolio serta disiplin dalam efisiensi pendanaan demi menjaga adaptabilitas terhadap fluktuasi ekonomi. Transformasi digital, penguatan fundamental perusahaan, dan optimalisasi efisiensi biaya menjadi pilar esensial untuk ketahanan dan pertumbuhan berkelanjutan BNI.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 4.700
Analis: Victor Stefano – BRI Danareksa Sekuritas (Riset 13 Januari 2026)
Ringkasan
Awal tahun 2026 menunjukkan sinyal kebangkitan pada saham bank blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, menyusul periode tekanan signifikan pada tahun 2025. Saham-saham ini, yang dikenal dengan fundamental kokoh dan kinerja stabil, mulai menarik perhatian investor. Per 15 Januari 2026, saham BBRI, BMRI, dan BBNI mencatatkan kenaikan harian yang positif, merefleksikan pemulihan sentimen pasar.
Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi stabilisasi ekonomi dan kebijakan makro yang kondusif, sehingga sejumlah analis merekomendasikan pembelian saham bank blue chip. BBCA dan BBRI direkomendasikan ‘Buy’ karena pertumbuhan kredit dan laba bersih yang solid, begitu pula BBNI dengan ekspansi kredit yang merata. Sementara itu, PT Bank Mandiri (BMRI) mendapatkan rekomendasi ‘Hold’, meskipun menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat.