
Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja emiten multifinance pada paruh pertama tahun 2025 menunjukkan dinamika yang beragam. Beberapa perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang menjanjikan, sementara tak sedikit pula yang harus berhadapan dengan penurunan performa, bahkan hingga membukukan kerugian.
Menurut Ekky Topan, seorang Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, fluktuasi kinerja ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental. Permintaan kredit yang belum menunjukkan pemulihan penuh menjadi sorotan utama, seiring dengan daya beli masyarakat yang masih tertahan. Selain itu, peningkatan risiko gagal bayar juga menjadi perhatian serius bagi pelaku industri multifinance.
Kinerja Multifinance Semester I-2025 Bervariasi, Simak Rekomendasi Sahamnya
Ekky menambahkan bahwa agresivitas persaingan dari sektor fintech dan digital lending turut memangkas pangsa pasar multifinance tradisional, memberikan tekanan signifikan pada kinerja industri secara menyeluruh.
Namun, di tengah tantangan yang membayangi, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) muncul sebagai salah satu emiten dengan kinerja paling tangguh. Menurut Ekky, BFIN berhasil menunjukkan performa paling solid di antara perusahaan pembiayaan lain yang telah merilis laporan keuangan untuk periode semester I-2025.
Emiten pembiayaan ini sukses membukukan pertumbuhan laba sekitar 11,1% secara tahunan (yoy), mencapai Rp 762,29 miliar per Juni 2025. Keberhasilan ini, jelas Ekky, ditopang oleh strategi efisiensi yang ketat dan model bisnis yang fleksibel, terutama berkat kontribusi signifikan dari porsi operasional non-direct financing dalam portofolio mereka. Fleksibilitas ini memungkinkan BFIN untuk menjaga performa tetap optimal, meskipun permintaan kredit secara umum mengalami penurunan.
Dua Calon Direktur BFI Finance (BFIN) Telah Kantongi Izin dari OJK
Melihat prospek dan valuasinya, Ekky secara spesifik merekomendasikan saham BFIN untuk dikoleksi (buy). Ia menetapkan target harga jangka pendek hingga menengah pada kisaran Rp 950–Rp 1.000 per saham.
Ke depan, sentimen positif yang diharapkan dapat mendongkrak kembali kinerja sektor multifinance adalah potensi penurunan suku bunga lanjutan dari bank sentral, serta pemulihan daya beli masyarakat. Ekky berharap stimulus tambahan dari pemerintah juga dapat mempercepat dorongan pertumbuhan permintaan kredit pada semester II-2025 mendatang.
Ringkasan
Kinerja emiten multifinance pada semester I-2025 bervariasi akibat permintaan kredit yang belum pulih, risiko gagal bayar, dan persaingan dari fintech. Namun, BFI Finance (BFIN) menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan laba 11,1% (yoy) mencapai Rp 762,29 miliar berkat efisiensi dan model bisnis yang fleksibel dengan kontribusi operasional non-direct financing.
Analis merekomendasikan saham BFIN untuk dikoleksi (buy) dengan target harga Rp 950–Rp 1.000 per saham. Sentimen positif seperti potensi penurunan suku bunga dan pemulihan daya beli masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kinerja sektor multifinance pada semester II-2025.